Berita

Akbar Tandjung

Wawancara

WAWANCARA

Akbar Tandjung: SBY Bisa Jadikan Opini Publik Acuan Evaluasi Kinerja Menteri

SABTU, 24 SEPTEMBER 2011 | 03:39 WIB

RMOL. Survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) mengenai kinerja kementerian bisa dijadikan acuan bagi Presiden SBY untuk melakukan evaluasi kinerja kabinet.

“Selain masukan dari UKP4,  survei itu bisa dijadikan acuan bagi Presiden dalam melakukan penilaian menterinya” ujar Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar, Akbar Tanjung.

Menurut bekas Ketua Umum Partai Golkar itu, survei LSI sangat obyektif dan independen. Bukan survei berdasarkan pesa­nan pihak tertentu.

“Terkait tidak adanya nama menteri dari Golkar di survei LSI, silakan Tanya kepada LSI,” ujar bekas Ketua DPR itu.       

Berikut kutipan selengkapnya;


Kenapa Anda ingin reshuffle kabinet?

Reshuffle ini harus dimaknai secara mendalam, yaitu untuk men­jamin berjalannya pemerin­ta­han lebih efektif dan kinerjanya meningkat.

Berdasarkan survei dan pen­dapat publik, diperlukan berbagai perubahan dan perbaikan di da­lam pemerintahan. Salah satunya melalui reshuffle.


Apa sudah ada pembicaraan petinggi Partai Golkar dengan SBY?

Saya tidak tahu mengenai hal itu. Saya belum bertemu saudara Ical (Aburizal Bakrie).


Bukannya Partai Golkar kha­watir reshuffle kabinet?

Saya lebih setuju melihat ma­salah reshuffle dari perspektif rasional dan obyektik saja. Tidak perlu melihatnya dari dimensi politik. Apabila tidak mengguna­kan dua perspektif itu, lalu pakai perspektif mana.

Mari kita menggunakan ke­mam­­puan leadership kita secara maksimal. Apalagi Presiden, setiap keputusan yang diambil­nya memiliki dampak bagi ma­syarakat.


Bagaimana kalau kader Par­tai Golkar yang kena reshuffle?

Masalah reshuffle adalah hak prerogatif Presiden. Itu harus kita hormati. Kalau ada kader Golkar yang direshuffle, kami  harus me­nerima keputusan itu.


Kementerian mana saja yang perlu direshuffle?

Ada beberapa bidang yang harus menjadi fokus pemerintah, yaitu masalah ekonomi, infra­struktur, energi, dan pangan. Se­lain itu ada juga masalah politik, terkait dengan penguatan kelem­bagaan politik. Hal ini mengeru­cut pada penguatan infrastruktur politik. Salah satunya penguatan partai politik. Kami mendorong partai politik lebih sederhana agar fungsi-fungsi yang dijalankan lebih efektif.


Kementerian mana saja yang perlu direshuffle?

Ada beberapa bidang yang harus menjadi fokus pemerintah, yaitu masalah ekonomi, infra­struktur, energi, dan pangan. Se­lain itu ada juga masalah politik, terkait dengan penguatan kelem­bagaan politik. Hal ini mengeru­cut pada penguatan infrastruktur politik. Salah satunya penguatan partai politik. Kami mendorong partai politik lebih sederhana agar fungsi-fungsi yang dijalankan lebih efektif.


Selain itu?

Kita juga harus melakukan re­formasi dalam birokrasi. Selama ini kita belum melakukan apa-apa dalam format birokrasi. Artinya para birokrasi belum bisa menja­lankan fungsinya dengan benar dan efektif. Soal pem­be­rantasan korupsi agar berjalan efek­­tif, pe­negakan hu­kum ja­ngan te­bang pilih.


Artinya Men­­­­teri Pem­berda­ya­an Apara­tur Ne­gara dan Men­­­­kum­ham gagal?

Saya tidak se­­­cara spe­sifik me­li­hat satu-per satu ki­nerja men­­­teri. Saya tidak mau di­nilai subyektif dalam berko­men­tar. Kita lihat saja dari hasil survei LSI yang menye­but­kan kinerja delapan ke­menterian yang tidak memuas­kan. Itu bisa jadi bahan masukan kepada presiden.


Presiden perlu memperhati­kan opini publik?

Opini publik bisa dijadikan acuan bagaimana publik menilai sebuah kementerian. Itu bisa jadi bahan pertimbangan Presiden.

Kalau Presiden menganggap opini publik itu tidak penting dan mengambil keputusan lain, itu adalah hak beliau. Namun apabila keputusan itu tidak menyentuh jaminan efektifitas dan pening­katan kinerja pemerintahan ke depan, tentu keputusan itu tidak sejalan dengan keinginan masya­rakat.   [rm]


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Pernah Tembak Mati Perampok Toko Emas, Eks Kapolres Jakbar Kini Jabat Kapolda Papua Barat

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:17

PIEP Datangkan 450 Ribu Barel Minyak dari Aljazair

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:07

Din Syamsuddin Tawarkan Konsep Etika Global Bersama di Forum Internasional Mauritius

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:05

KSP Kawal Ketat Kopdes Merah Putih hingga Capai Target

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:04

Strategi Pertamina Trans Kontinental Jaga Stabilitas Kinerja 2026

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:49

Lebih dari 42 Ribu Warga Ikut Pilih Logo HUT RI ke-81

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:40

Ketika Demonstrasi Punya Harga, yang Mati Bukan Hanya Integritas Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:34

Forum Bersama Raja Charles III, Jumhur Bicara Kebijakan Pengelolaan Limbah

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:30

Menkop Gandeng KSP Percepat Operasionalisasi Kopdes

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:23

AKBP Supriyanto jadi Kapolres Pertama Kawasan IKN

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:20

Selengkapnya