Berita

Dmitry Medvedev/ist

Dunia

Rusia Kritik Keras Pelaksanaan Resolusi 1973

JUMAT, 09 SEPTEMBER 2011 | 16:33 WIB | LAPORAN: SVET ZAKHAROV

RMOL. Rusia tidak puas dengan pelaksanaan resolusi Dewan Keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai Libya. Sebab, kekuatan internasional telah meningkatkan kekuasaannya.

Demikin pernyataan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev dalam wawancaranya kepada Euronews TV, seperti diberitakan Itar-Tass.

“Kami tidak cukup puas dengan pelaksanaan resolusi 1973," kata kepala negara.


“Hal ini sudah berlalu, sebab melihat perkembangannya di Libya situasi secara radikal telah berubah," catat Medvedev.

Meskipun demikian, Moskow berpendapat tindakan yang diambil pasukan koalisi Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Kanada dan Italia telah melampaui mandat PBB.

Sejak awal serangan udara terhadap Libya, Rusia telah berulang kali mengkritik Barat dan memprotes resolusi tersebut. Menurut Moskow, resolusi yang bertujuan menegakkan zona larangan terbang di Libya untuk melindungi warga sipil, adalah "seruan untuk Perang Salib" dan telah menjadi bumerang dengan jatuhnya korban sipil.

Rusia sendiri abstain dalam pemungutan suara Dewan Keamanan PBB untuk merilis resolusi atas Libya yang antara lain mengesahkan keputusan zona larangan terbang di Libya dan memerintahkan "semua tindakan yang diperlukan" untuk melindungi warga sipil. Tapi setelah resolusi itu diterima baik, kekuatan NATO mulai mengebom objek-objek vita di Libya. Secara de facto, tindakan pasukan koalisi ini dinilai Moskow melanggar dokumen PBB. Penafsiran resolusi demkian telah melahirkan kritik pedas dari Moskow.

“Resolusi yang cukup baik telah dirubah menjadi sehelai kertas saja, di bawah kedok pelaksanaanoperasi militer yang tidak masuk akal," tekan Medvedev. [wid]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Bali Disiapkan Jadi “Dubai Baru”, Duit Asing Bebas Pajak

Jumat, 08 Mei 2026 | 20:07

DPR Minta Pemerintah Cepat Terbitkan Aturan Turunan UU PPRT

Jumat, 08 Mei 2026 | 20:01

Dugaan Korupsi Dana APBD untuk Unsultra Dilaporkan ke KPK

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:57

DPR: Kode Etik Media Arus Utama Lebih Jelas Dibanding New Media

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:38

Tarumajaya Raih Paritrana Award Bukti Desa Berpihak kepada Rakyat

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:26

Polisi Sudah Periksa 39 Saksi Terkait Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:15

Ekonomi Tumbuh (Tidak) Disyukuri

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:11

Ombudsman RI Bentuk Majelis Etik untuk Tegakkan Integritas dan Profesionalisme

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:10

Sejarah Erupsi Gunung Dukono Masa ke Masa

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:06

PLN Bedah Mitigasi Risiko Pidana dalam Penerapan KUHP dan KUHAP Baru

Jumat, 08 Mei 2026 | 18:42

Selengkapnya