Berita

ilustrasi/ist

Nusantara

China Suplai Senjata Untuk Rezim Khadafi

SELASA, 06 SEPTEMBER 2011 | 02:52 WIB

RMOL.China diisukan menjadi pemasok senjata bagi pasukan loyalis Khadafi. Isu itu muncul setelah Inggris dan AS dikabarkan turut membatu rezim sang kolonel dalam menghukum para pembangkang di Libya.

Dukungan terhadap rezim Khadafi itu terungkap setelah ditemukannya dokumen-do­ku­men penting oleh pekerja Human Right Watch di kantor Kepala Intelijen LIbya Moussa Kusa, yang di­tinggalkan dan terbeng­kalai di ruang kerja bekas kepala badan intelijen sekaligus bekas men­teri luar negeri Libya.

Di tempat itu, ditemukan pula ratusan surat antara CIA, MI6 dan Kusa yang kini melarikan di ke London. Dalam beberapa surat CIA yang dimulai dengan kalimat ‘Dear Mous­sa’, terlihat diteken secara infor­mal hanya dengan nama pertama oleh pe­jabat-pejabat CIA.

Dokumen-dokumen itu me­nyi­ratkan bahwa CIA melakukan pen­culikan terhadap beberapa tokoh militan sejak 2002 hingga 2004 dan menyerahkan mereka ke Tripoli. Termasuk adanya pe­na­wa­ran senjata oleh perusahaan sen­jata China kepada otoritas Libya.

Kantor berita Globe Mail me­lansir, Negeri Tirai Bambu itu per­nah menawarkan sejumlah senjata dalam ukuran besar ke­pada Khadafi pada bulan-bulan terakhir kekuasaannya. Proses pengirimannya bahkan sempat dibicarakan, yakni lewat Aljazair dan Afrika Selatan.

Perusahaan-senjata asal China itu bahkan siap mengirimkan sen­jata dan amunisi senilai 200 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,7 tri­liun kepada Khadafi pada akhir Juli. Itu diketahui berdasaran ke­terangan saksi-saksi dari pihak PBB, kata harian itu, yang me­ngutip dokumen-dokumen ra­hasia yang diperolehnya.

Harian itu tidak mengonfirmasi apakah ada bantuan militer yang diberikan. Namun anggota senior dewan penguasa baru Tripoli me­ngatakan, dokumen-dokumen itu memperkuat kecurigaan me­reka tentang tindakan terbaru Chi­na, Aljazair dan Afrika Selatan. Sekedar catatan, Aljazair, China dan Afrika Selatan adalah ne­gara-negara yang tidak men­du­kung tindakan NATO di Libya.

Omar Hariri, Kepala Komite Militer Dewan Transisi Libya, mempelajari dokumen-dokumen itu dan menyimpulkan bahwa do­komen-dokumen tersebut bisa menjelaskan kehadiran senjata-senjata baru di medan perang.

“Saya hampir yakin bahwa senjata-senjata itu sudah tiba dan digunakan terhadap rakyat ka­mi,” kata Hariri.

Dokumen-dokumen tersebut ditemukan di tumpukan sampah di pinggir jalan di lingkungan yang dikenal sebagai Bab Akka­rah. Di kawasan itulah sejumlah pendukung Khadafi yang paling loyal tinggal.

Dokumen-dokumen itu me­nun­jukkan, para pembantu utama keamanan Khadafi melakukan perjalanan ke Beijing pada per­tengahan Juli. Di sana mereka ber­temu dengan para pejabat dari pe­rusahaan China North In­dustries Corp. (Norinco); China National Precision Machinery Impor & Ekspor Corp (CPMIC); dan China Xinxing Impor & Ekspor Corp.

Perusahaan-perusahaan itu bahkan menawarkan seluruh stok senjata mereka untuk dijual. Me­reka juga berjanji  untuk mem­produksi le­bih banyak pa­sokan senjata jika diper­lukan.

Sebelumnya, pemerintahan Libya mencoba melobi Inggris agar melepas Abdel Basset al-Megrahi, pembom pesawat ter­bang di Lockerbie tahun 1988 pa­da Agustus 2009. Namun upa­ya ini gagal setelah do­kumen peme­rintah ditemukan oleh wartawan di gudang bekas ke­dutaan Ing­gris di Tripoli.

Dalam dokumen tersebut, pe­jabat senior Kantor Kementerian Luar Negeri AS Robert Dixon me­nulis kepada Menteri Luar Negeri Inggris Da­vid Miliband pada Januari 2009 bahwa Kha­dafi meng­ingin­kan Megrahi kembali ke Libya dengan cara apapun. [rm]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Pembongkaran Tiang Monorel Mangkrak Demi Penataan Kawasan

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:59

Lahan Huntap Korban Bencana Harus Segera Dituntaskan

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:52

Ini Identitas Delapan Orang dan Barbuk OTT Pejabat Pajak Jakut

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:12

Larangan Tambang Emas Rakyat, Kegagalan Baca Realitas

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:58

Pelapor Pandji Dianggap Klaim Sepihak dan Mencatut Nama NU

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:30

Romantisme Demokrasi Elektoral dan Keliru Baca Kedaulatan

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:08

Invasi AS ke Venezuela Bisa Bikin Biaya Logistik Internasional Bengkak

Minggu, 11 Januari 2026 | 05:45

Khofifah Ajak Pramuka Jatim Sukseskan Ketahanan Pangan dan MBG

Minggu, 11 Januari 2026 | 05:23

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

Klok Dkk Siap Melumat Persija Demi Amankan Posisi

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:40

Selengkapnya