Berita

ilustrasi/ist

DR. Saleh: Halal bi Halal Khas Indonesia

SABTU, 03 SEPTEMBER 2011 | 19:59 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Duta Besar RI untuk Swss dan Lichtenstein menggelar halal bi halal di KBRI Swiss, Sabtu siang ini (3/9). Menurut Djoko, halal bi halal ini sengaja digelar hari Sabtu agar bisa dihadiri sebanyak mungkin diplomat dan staf KBRI.

Menurut Djoko Susilo, selain di saat memperingati hari-hari besar Indonesia, acara seperti ini penting dilakukan untuk mempererat persaudaraan masyarakat Indonesia yang berada di perantauan.

"Di perantauan ini, kita jauh dari sanak famili dan handai taulan. Karena itu, saudara kita adalah semua warga Indonesia yang ada di sini. Selain itu, dengan keakraban yang terjalin, KBRI diharapkan dapat memberikan pelayanan maksimal pada semua masyarakat Indonesia di tempat ini. Sesungguhnya inilah hakikat dari pentingnya perwakilan negara kita di luar negeri," ujar mantan anggota DPR RI ini.

Dalam open house dan halal bi halal tersebut, Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dr. Saleh Daulay didapuk untuk menyampaikan taushiyah.

Saleh mengingatkan bahwa istilah halal bi halal itu genuine berasal dari Muslim Indonesia dan  tidak ditemukan di negara-negara lain. Meski demikian, tradisi halal bi halal sangat sesuai dengan ajaran silaturrahim dalam Islam. Bahkan di dalam Al Quran dan hadits ditemukan banyak anjuran agar umat Islam menjaga silaturrahim.

"Banyak hikmah yang bisa diambil dari silaturrahim antara lain memperpanjang umur, memperbanyak rezeki, dan juga bisa menjauhkan dari api neraka. Silaturrahim bisa memperbanyak teman karena bertemu banyak orang.

Andaikata seseorang yang rajin silaturrahim meninggal dunia, namanya akan lama diingat oleh banyak orang karena silaturrahim itu. Orang yang banyak silaturrahim bisa banyak rezeki karena banyak mengenal orang dan sering sekali dalam pertemuan itu membuka jalan bisnis dan usaha," ujar Saleh.

"Silaturrahim pun membuka jalan surga karena sering meminta maaf kepada sesama manusia. Salah satu prasyarat masuk sorga adalah perpaduan kesalehan individual dan kesalehan sosial.

Ppen house dan halal bi halal ini dihadiri Indonesia yang berada berada di wilayah akreditasi KBRI Swiss. Di antara mereka datang dari Geneva, Bern, Basel, Lauzeren, Lausanne, Montreux, dan negara kecil Lichtenstein.

Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri delegasi Indonesia untuk One Young World Summit, mahasiswa pertukaran dari Indonesia, para mahasiswa yang menuntut ilmu di Swiss, dan juga para diplomat dari PTRI Geneva. [zul]


Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Mengejar Halusinasi 2045: Mengapa Ekonomi Hanya Bisa Tegak di Atas Literasi

Senin, 27 April 2026 | 14:15

Penerjemah Bible Dibakar Hidup-hidup pada Zaman Renaisans Eropa

Senin, 27 April 2026 | 14:07

Bitcoin Melaju Mendekati 80.000 Dolar AS

Senin, 27 April 2026 | 14:06

Luar Biasa Kiandra, Start ke-17, Finis Pertama

Senin, 27 April 2026 | 13:59

Digitalisasi dan Green Dentistry, Layanan Kesehatan Gigi yang Minim Limbah

Senin, 27 April 2026 | 13:46

Usul KPK Berpotensi Paksa Capres Harus Kader Parpol

Senin, 27 April 2026 | 13:43

Pemda Didorong Lakukan Creative Financing

Senin, 27 April 2026 | 13:36

Citra Negatif Bahlil di Dalam Negeri Pengaruhi Negosiasi Energi Presiden?

Senin, 27 April 2026 | 13:35

Qodari Respons Isu Dilantik Jadi Kepala Bakom: Itu Hak Prerogatif Presiden

Senin, 27 April 2026 | 13:30

Selengkapnya