Berita

ilustrasi/ist

1 SYAWAL 1432 H

Pengikut NU dan Muhammadiyah Jangan Mau Dipecah Belah

SABTU, 03 SEPTEMBER 2011 | 17:26 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Penetapan 1 Syawal 1432 H masih dianggap relevan dan jadi pembicaraan di sementara kalangan. Terlebih setelah dua hari lalu beredar sebuah tulisan di jejaring social media yang mengatakan bahwa pemerintah Arab Saudi mengaku salah dalam menentukan awal bulan Syawal 1432 H. 

Disebutkan, bahwa apa yang awalnya dianggap badan astronomi Kerajaan Arab Saudi sebagai hilal atau bulan ternyata adalah planet Saturnus. Juga disebutkan bahwa pemerintah Saudi Arabia membayar kaffarat atau denda sebesar 1 miliar real. 

Aktivis prodemokrasi Adhie Massardi meminta masyarakat tidak terpancing oleh isu yang kelihatannya sengaja dibesar-besarkan oleh kelompok yang ingin memecah belah masyarakat.

Adhie kembali mengingatkan bahwa Idul Fitri atau yang biasa disebut Lebaran bagi masyarakat Indonesia tidak hanya berdimensi spiritual, melainkan juga berdimensi sosial, ekonomi, budaya dan politik.

Namun belakangan yang tampak mengemuka adalah dimensi politik dari Lebaran “yang merayap dari mulut ke mulut, dari rumah ke rumah, dari HP ke HP, hingga berkelana bebas di dunia maya.” Termasuk dalam bentuk tulisan yang disebarkan di jejaring social media tentang apa yang disebu sebagai kesalahan badan astronomi Arab Saudi dalam mengintip hilal.

“Inti dari perdebatan ini, menurut saya, bukan soal penetapan 1 Syawal 1432 H, tapi tentang perlakuan pemerintah yang terlihat sengaha mencari masalah,” ujar Adhie lagi beberapa saat lalu (Sabtu sore, 3/9).

Dia meminta agar masyarakat tidak terjebak dan mengangap ini persoalan antara NU yang memutuskan Lebaran di hari Rabu dan Muhammadiyah yang memutuskan Lebaran di hari Selasa.

“Masyarakat kita sudah terbiasa menghadapi perbedaan itu. Tetapi baru kali ini pemerintah begitu bersemangat mempolitisir Lebaran,” demikian Adhie. [zul]


Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Mengejar Halusinasi 2045: Mengapa Ekonomi Hanya Bisa Tegak di Atas Literasi

Senin, 27 April 2026 | 14:15

Penerjemah Bible Dibakar Hidup-hidup pada Zaman Renaisans Eropa

Senin, 27 April 2026 | 14:07

Bitcoin Melaju Mendekati 80.000 Dolar AS

Senin, 27 April 2026 | 14:06

Luar Biasa Kiandra, Start ke-17, Finis Pertama

Senin, 27 April 2026 | 13:59

Digitalisasi dan Green Dentistry, Layanan Kesehatan Gigi yang Minim Limbah

Senin, 27 April 2026 | 13:46

Usul KPK Berpotensi Paksa Capres Harus Kader Parpol

Senin, 27 April 2026 | 13:43

Pemda Didorong Lakukan Creative Financing

Senin, 27 April 2026 | 13:36

Citra Negatif Bahlil di Dalam Negeri Pengaruhi Negosiasi Energi Presiden?

Senin, 27 April 2026 | 13:35

Qodari Respons Isu Dilantik Jadi Kepala Bakom: Itu Hak Prerogatif Presiden

Senin, 27 April 2026 | 13:30

Selengkapnya