Berita

boris yeltsin/ist

JALAN-JALAN

Tentang Kudeta di Atas Kudeta Gagal yang Mentah Sejak Awal

JUMAT, 02 SEPTEMBER 2011 | 19:59 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Gift haphazard, unavailing,
Life, why were thou given me?
Why art thou to death unfailing
Sentenced by dark destiny?

Who in harsh despotic fashion

Who in harsh despotic fashion
Once from Nothing called me out,
Filled my soul with burning passion
Vexed and shook my mind with doubt?

I can see no goal before me;
Empty heart and idle mind.
Life monotonously o'er me
Roars, and leaves a wound behind.

May 26, 1828
Alexander Sergeyevich Pushkin


KUDETA yang dirancang kelompok Yanayev mentah sejak dari awal. Tak ada rencana yang matang sama sekali untuk menghadapi setiap perkembangan dan kejadian tak terduga di lapangan. Tak ada garis komando yang pasti. Yanayev yang seharusnya bertindak cepat nyatanya lebih banyak membuang waktu.

Perintah menyerang Yeltsin baru diputuskan keesokan hari. Sementara mobilisasi pasukan berjalan sangat lamban. Beberapa komandan pasukan tempur yang hendak dilibatkan juga mulai berani menyampaikan dissenting opinion. Menyadari bahwa kini rakyat Rusia berada di belakang Yeltsin, mereka, para komandan pasukan tempur itu, tak mau operasi menumbangkan Yeltsin memakan korban jiwa.

Begitupun pasukan mulai bergerak ke Gedung Putih pada pukul 01.00 dinihari 21 Agustus 1991. Di tengah jalan mereka menghadapi blokade yang disiapkan masyarakat. Ratusan bus diparkir di tengah jalan untuk menghambat laju pasukan. Di dekat Gedung Putih, masyarakat membuat blokade dari kayu-kayu furniture rumah mereka.

Keadaan memanas ketika tiga mahasiswa tewas tertembak tanpa sengaja tak jauh dari Gedung Putih. Masyarakat yang marah membakar satu unit kendaraan tempur. Tak ada korban di pihak tentara. Kejadian ini membuat keraguan semakin besar di kalangan tentara yang ingin menyerang Gedung Putih. Alpha Group dan Vympel Group yang sejak awal sudah memperlihatkan keraguan akhirnya memilih mundur. Sore hari serangan ke Gedung Putih pun dinyatakan gagal total.

Sekitar pukul 17.00 kelompok konspirator kudeta terbang ke Crimea hendak bertemu Gorbachev. Tetapi Gorbachev menolak. Bersama anggota keluarganya ia kembali ke Moskow dinihari 22 Agustus 1991. Gorbachev kembali memegang kekuasaannya yang lepas selama dua hari. Tapi kini ia tidak sendirian. Uni Soviet telah menyaksikan kehadiran bintang baru yang jauh lebih cemerlang dan menjanjikan, Yeltsin.

Perlahan tapi pasti, Yeltsin menempatkan diri sebagai penguasa dan menggerogoti eksistensi Uni Soviet. Sementara itu, satu persatu republik meninggalkan Uni Soviet, mengikuti tiga republik yang mundur sebelum kudeta Agustus (Lithuania, Latvia dan Georgia), dan dua republik yang mundur di saat kudeta berlangsung (Estonia dan Latvia secara de facto). Di bulan November 1991 Yelstsin membubarkan Partai Komunis Uni Soviet dan melarangnya beraktivitas di Republik Rusia. Sebulan kemudian, 31 Desember 1991, giliran Gorbachev mengundurkan diri dari posisi presiden Uni Soviet. Seminggu sebelum itu, Yeltsin telah mendahului. Ia mengirimkan surat kepada Sekjen PBB, mengatakan bahwa Rusia adalah pengganti Uni Soviet di PBB.

Di akhir Kudeta Agustus, Yanayev dan semua pejabat yang terlibat ditangkap. Mereka dipenjara hingga diberikan amnesti pada 1994.

Di tahun 2008, dalam sebuah wawancara dengan media massa, Yanayev mengatakan dirinya menyesal mengambil alih kekuasaan. Ia pun mengaku tak memegang blue print kudeta. Dia hanya setuju memimpin apa yang disebut sebagai Komite Darurat pada tanggal 20 Agustus 1991.

Pada 24 September 2010, hampir setahun lalu. Yanayev meninggal dunia karena kanker paru-paru. Tiga tahun sebelumnya, April 2007, Yeltsin lebih dahulu menghembuskan nafas terakhir. Dari tiga tokoh utama itu, kini tinggal Gorbachev yang masih bisa bercerita pada dunia tentang kudeta yang digambarkan sementara kalangan sebagai kudeta merangkak di atas kudeta gagal itu. (Bersambung

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Pramono Klaim 96 Persen Warga Ingin CFD Rasuna Said Berlanjut

Minggu, 07 Juni 2026 | 10:20

Garuda Institute Minta BGN Utamakan Kualitas daripada Kuantitas

Minggu, 07 Juni 2026 | 10:12

Balas Serangan AS, Iran Gempur Pangkalan Bahrain dan Kuwait

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:58

Ditjenpas Benahi Overkapasitas dan Tingkatkan Keamanan Lapas

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:54

Paus Leo XIV Sebut Perang AS-Iran Tidak Adil

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:11

Bukan Sekadar Ganti Pejabat, Reshuffle Kabinet Harus Pulihkan Ekonomi

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:00

Bupati Pati Sudewo Ditahan di Rutan Semarang Jelang Sidang Dua Perkara

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:56

Suhud Alynudin Akan Dilantik Jadi Ketua DPRD DKI Senin Besok

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:27

Koperasi Didorong Masuk Ekosistem Industri Gula

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:02

Gus Salam Serap Aspirasi Nahdliyin Sulsel Jelang Muktamar NU

Minggu, 07 Juni 2026 | 07:52

Selengkapnya