Berita

ilustrasi

1 SYAWAL 1432 H

Indonesia, Islam Simbolik dan KKN

SELASA, 30 AGUSTUS 2011 | 08:45 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Ribuan umat Islam mengikuti pelaksanaan shalat Idul Fitri di kawasan kampus Universitas Prof Dr Hamka, Jalan Limau, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pagi ini.

Tapi, dalam pelaksanaan shalat kali ini, sebagian umat Islam terpaksa harus shalat di dekat pagar rumah penduduk, di sela-sela mobil yang sedang parkir. Karena jumlah jamaah yang membludak, sementara lahan kurang memadai.

Shalat yang digelar pukul 07.00 WIB ini diimami Amir Said Matondang dan Najamuddin Ramli bertindak sebagai khatib.


Dalam khutbahnya, Najamuddin mengingatkan bahwa tujuan pelaksanaan puasa Ramadhan adalah untuk membentuk umat Islam menjadi orang yang bertakwa. Ciri orang yang bertakwa itu, terangnya, dalam kesehariannya, secara sadar mampu menghindari kebodohan, aniaya, dan kehancuran diri. Orang yang bertakwa adalah orang yang penuh dengan kehati-hatian.

"Orang yang bertakwa, seperti musafir yang harus berhati-hati agar sampai di tujuan," unkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, mantan ketua PP Pemuda Muhammadiyah ini juga menyoroti soal penduduk Indonesia yang mayoritas muslim, tapi nilai-nilai keislamannya absen dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, hal ini juga berlaku untuk para elit dan pemimpin negeri ini. Karena nilai-nilai keislaman itu absen, masih katanya, praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme masih saja dilakukan.

"Inilah sebuah gambaran bahwa Islam, hanya simbolik. Simbolisasi sangat marak tapi sangat sedikit intisari Islam itu terpraktikkan," ungkapnya.

Di akhir khutbahnya, Najamuddin juga mengajak umat Islam untuk tetap menjaga kekompakan dan persaudaraan sesama umat Islam. Dia mengatakan, perbedaan dalam menentukan 1 Syawal 1432 hijriah hanya persoalan perbedaan hitungan semata.

Sampai turun dari mimbar sekitar pukul 07.50 WIB, tidak ada jamaah yang beringsut dari tempat shalat. Semuanya khusyuk mendengarkan isi khutbah.[ald]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Mengejar Halusinasi 2045: Mengapa Ekonomi Hanya Bisa Tegak di Atas Literasi

Senin, 27 April 2026 | 14:15

Penerjemah Bible Dibakar Hidup-hidup pada Zaman Renaisans Eropa

Senin, 27 April 2026 | 14:07

Bitcoin Melaju Mendekati 80.000 Dolar AS

Senin, 27 April 2026 | 14:06

Luar Biasa Kiandra, Start ke-17, Finis Pertama

Senin, 27 April 2026 | 13:59

Digitalisasi dan Green Dentistry, Layanan Kesehatan Gigi yang Minim Limbah

Senin, 27 April 2026 | 13:46

Usul KPK Berpotensi Paksa Capres Harus Kader Parpol

Senin, 27 April 2026 | 13:43

Pemda Didorong Lakukan Creative Financing

Senin, 27 April 2026 | 13:36

Citra Negatif Bahlil di Dalam Negeri Pengaruhi Negosiasi Energi Presiden?

Senin, 27 April 2026 | 13:35

Qodari Respons Isu Dilantik Jadi Kepala Bakom: Itu Hak Prerogatif Presiden

Senin, 27 April 2026 | 13:30

Selengkapnya