Berita

Saleh husin/ist

PEMBAJAKAN KA

Bukannya Mengamankan, Oknum TNI Kok Malah Membajak

MINGGU, 28 AGUSTUS 2011 | 12:56 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Insiden pembajakan Kereta Api Eksekutif Gajayana 7071 rute Malang-Jakarta di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, (Sabtu 27/8) kemarin sungguh menyedihkan. Pembajakan itu merupakan yang pertama kali terjadi di Indonesia.

"Ini pertama kali yang saya dengar. Tentu sangat menyedihkan hal ini terjadi di saat masyarakat melaksanakan ibadah puasa dan dalam suasana mudik," kata anggota Komisi V DPR Saleh Husin kepada Rakyat Merdeka Online siang ini.

Karena itu, anggota DPR yang membidangi masalah perhubungan ini mendesak kepada pemerintah dan PT Kereta Api Indonesia meningkatkan dan menambah petugas keamanan, baik di stasiun maupun di atas gerbong kereta api. Agar kejadian yang sama tidak kembali terjadi.


"Apalagi ini banyak orang mudik. Tentu jumlah penumpang akan membludak. Kemungkinan-kemungkinan hal yang tak diinginkan bisa saja terjadi. Misalnya pencopetan bahkan pembajakan seperti kemarin itu," tambah Sekretaris Fraksi Hanura ini.

Dan yang membuat Saleh bertambah miris adalah latar belakang sang pembajak yang merupakan aparat TNI. Saleh tidak habis pikir, kenapa oknum TNI yang harusnya ikut menjaga keamanan justru membuat keamanan penumpang dan masyarakat terusik.

"Ini sangat disayangkan. Untuk oknum tersebut harus diberikan hukuman yang keras atau sekaligus kalau perlu pemecatan yang diteruskan ke penuntutan di mahkamah militer. Jangan sampai orang seperti ini bisa berkeliaran. (Hukuman berat ini harus) membuat orang lain berpikir dua kali kalau mau melakukan hal yang sama," tandasnya.

Kepastian bahwa pembajak tersebut adalah aparat TNI disampaikan Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Laksmana Pertama TNI Untung Suropati. Kemarin, dia mengungkapkan bahwa pembajak adalah anggotanya bernama Darso. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Mengejar Halusinasi 2045: Mengapa Ekonomi Hanya Bisa Tegak di Atas Literasi

Senin, 27 April 2026 | 14:15

Penerjemah Bible Dibakar Hidup-hidup pada Zaman Renaisans Eropa

Senin, 27 April 2026 | 14:07

Bitcoin Melaju Mendekati 80.000 Dolar AS

Senin, 27 April 2026 | 14:06

Luar Biasa Kiandra, Start ke-17, Finis Pertama

Senin, 27 April 2026 | 13:59

Digitalisasi dan Green Dentistry, Layanan Kesehatan Gigi yang Minim Limbah

Senin, 27 April 2026 | 13:46

Usul KPK Berpotensi Paksa Capres Harus Kader Parpol

Senin, 27 April 2026 | 13:43

Pemda Didorong Lakukan Creative Financing

Senin, 27 April 2026 | 13:36

Citra Negatif Bahlil di Dalam Negeri Pengaruhi Negosiasi Energi Presiden?

Senin, 27 April 2026 | 13:35

Qodari Respons Isu Dilantik Jadi Kepala Bakom: Itu Hak Prerogatif Presiden

Senin, 27 April 2026 | 13:30

Selengkapnya