RMOL. Pemberian gelar doctor honoris causa di bidang kemanusiaan oleh Universitas Indonesia kepada Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdul Aziz menimbulkan ragam spekulasi. Salah satunya, pemberian gelar itu berdasarkan alasan prgamatis dari Rektor Universitas Indonesia Gumilar R Soemantri untuk membangun kampusnya menuju wolrd class university.
Rakyat Merdeka Online kemarin.
Pada bagian lain, Ketua DPP Partai Persatuan Pembangunan ini memaklumi beberapa gurubesar UI mempertanyakan pemberian gelar kehormatan tersebut. Karena, pemberian gelar kehormatan yang juga di bidang IPTEK dan peradaban Islam itu tidak pernah dibicarakan sebelumnya.
""Guru besar itu layak mempertanyakan karena ini tidak dibahas di Senat," ungkapnya.
Nah, karena ini sudah terlanjur, tambah Irgan, UI harus mengoreksi diri. Diharapkan, ke depan tidak lagi sembarangan dalam memberikan gelar penghormatan kepada pihak manapun.
Kepada Rakyat Merdeka Online sebelumnya, peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), R. Siti Zuhro, mensinyalir pemberian itu hanya karena alasan pragmatisme. Disebutkan, kian hari, UI kian pragmatis. Hal ini tidak mengherankan karena UI juga sangat butuh biaya besar untuk menghidupi kampusnya.
"Malah UI jadi
center of pragmatism," katanya.
Sedangkan penolakan dari gurubesar disampaikan oleh Guru Besar Sosiologi UI Thamrin Amal Tamagola. Thamrin yang mengutuk keras pemberikan gelar tersebu menegaskan, tanpa sepengetahuan civitas akademika UI.
"Kami tidak tahu, kami baru tahu kemarin, itu pun dari media," kata Thamrin di gedung DPR, Senayan, Jakarta, (Jumat, 26/8).
[zul]