Berita

Agus Gumiwang Kartasasmita

Wawancara

WAWANCARA

Agus Gumiwang Kartasasmita: Kejatuhan Khadafi Positif Bagi Dunia Internasional

RABU, 24 AGUSTUS 2011 | 02:09 WIB

RMOL. Gejolak politik di Libya makin panas. Setelah hampir enam bulan, pasukan oposisi Libya sukses menggusur Muammar Khadafi. Namun, Muamar Khadafi masih tetap berkuasa. Belum seratus persen dijungkalkan.

Bahkan, keberadaan Khadafi sampai kemarin belum diketahui pasti. Lalu, dimana Khadafi berada? Belum ada yang tahu. Ada yang meyakini, pria ber­pangkat kolonel ini sudah kabur ke luar negeri. Kemungkinan ke Venezuela atau Kuba atau negara-negara lain yang tak punya per­janjian ekstradisi dengan Libya.

Selain itu, ada kemungkinan dia akan lari ke Afrika. Tunisia tam­­paknya cocok untuknya, mes­kipun istri dan putri Khadafi sem­pat keluar dari sana sekitar bulan Mei lalu. Namun, Tunisia adalah tempat yang cukup nya­man bagi Khadafi.


Kemungkinan lain adalah Zim­babwe. Uganda juga mungkin menjadi tempat pilihan, tetapi hu­bungan yang erat antara Presiden Yoweri Museveni dan Amerika mem­buat hal tersebut tidak mung­­kin. Afrika Selatan juga menjadi alternatif tempat pelarian Khadafi. Tapi Kementerian Pertahanan Amerika Serikat menyakini, Khadafi masih berada di Tripoli. Kemungkinan ada di markas besarnya di Bab al-Aziyah.

Mungkinkah kali ini Khadafi terjungkal? Dan bagaimana pe­merintah Indonesia berperan dalam kasus ini? Agus Gumi­wang Kartasasmita, Wakil Ketua Komisi I DPR bidang luar negeri, pertahanan dan keamanan mem­berikan analisisnya kepada Rak­yat Merdeka, kemarin. Berikut penuturannya:

Apa yang Anda lihat dengan kondisi Libya sekarang?
Libya sedang di persimpangan jalan. Di satu sisi, saya melihat bahwa kejatuhan Khadafi sudah tinggal tunggu waktu, bahwa dia secara de fakto pun sudah tidak me­madai sebagai Pemimpin Libya. Kejatuhan Khadafi ini mem­bawa sebuah harapan atas perbaikan nasib hidup warga Libya. Namun di sisi lain, keja­tuhan Khadafi, apabila tidak di­kelola dengan baik bisa saja jus­tru memperburuk kehidupan warga Libya, seperti yang terjadi di Iraq dan Afghanistan.

Apakah penggulingan ini murni gerakan oposisi atau ada campur tangan bangsa lain?
Sayangnya, kejatuhan rezim otoriter Khadafi ini terindikasi sa­rat atau penuh dengan kepenti­ngan, terbukti dengan campur ta­ngan kekuatan NATO. Ini ber­beda dengan apa yang terjadi di Mesir.

Kalau ada campur tangan ne­gara lain, apa dibenarkan?
Menurut pandangan saya, in­tervensi dari kekuatan militer dari luar, tidak dapat dibenarkan. Du­kungan dunia International dalam menjatuhkan rezim oto­riter di­manapun bisa dengan ben­tuk lain, seperti embargo yang ketat.

Menurut Anda, apa negara-negara seperti Amerika Serikat dan sekutunya, juga negara-ne­gara Arab lain menginginkan Khadafi tumbang?
Dengan adanya intervensi dari kekuatan militer NATO, mem­buktikan bahwa Amerika dan se­kutunya menginginkan Khadafi jatuh. Sayangnya, posisi Amerika dan sekutunya ini terlihat jelas atas kepentingan politik dan eko­nomi (minyak) dengan mengatas­namakan penegakan HAM dan demokrasi. Saya mempertanya­kan kebijakan Amerika yang ti­dak konsisten terhadap Bahrain dan Yemen.

Jika Khadafi tumbang, apa rakyat Libya akan langsung ber­satu?
Kunci dari keberhasilan dari revolusi di Libya adalah apabila se­mua kekuatan yang ada, terma­suk suku dan tribe yang ada bisa ber­satu. Apalagi kita ketahui bahwa dalam kepemimpinan opo­sisi terdapat berbagai banyak faksi yang sesungguhnya secara kimiawi sangat berbeda.

Apa manfaat bagi rakyat Lib­ya, juga bangsa lain jika Kha­dafi tumbang?
Kejatuhan Khadafi sesungguh­nya sangat positif bagi dunia, ka­rena sekali lagi, dunia membukti­kan bahwa cepat atau lambat, re­zim otoriter tidak bisa diterima, thus demokrasi adalah cara yang benar untuk mencapai tujuan, yaitu mensejahterakan rakyatnya. Manfaat lainnya adalah, terjadi­nya stabilisasi harga minyak du­nia dimana pasar minyak dunia menganggap bahwa dengan ja­tuh­nya Khadafi, setidak-tidaknya supply minyak dunia akan lebih pasti dan dapat diprediksi, ini akan membantu secara umum eko­nomi dunia yang sekarang sedang sakit.

Apa peran yang bisa dimani­kan pemerintah kita terkait Lib­ya, apa hanya jadi penonton atau ada cara lain?
Kalau mau jujur, sebetulnya banyak yang bisa kita lakukan untuk membantu Libya di dalam proses pembentukan dirinya se­bagai sebuah negara pasca revo­lusi ini, apalagi Indonesia adalah negara yang baru saja melalui tahap seperti yang sekarang se­dang dialami Libya, dan Indone­sia relatif merupakan sebuah suc­sess story, selain juga kita sebagai negara Islam. Sayangnya, Nico­las Sarkozy (Presiden Perancis) sudah terlebih dahulu mengulur­kan tangan untuk memfasilitasi dialog di Perancis kepada seluruh tokoh kunci Libya dalam rangka me­rumuskan road map untuk Libya ke depan.

Belajar dari negara-negara di kawasan Timur Tengah yang su­dah sukses tumbangkan re­zim diktator, apa negara-negara itu jadi lebih baik?
Tumbangnya sebuah rezim oto­riter, tidak otomatis akan mem­bawa perbaikan bagi ke­hi­dupan warganya. Tumbangnya rezim otoriter hanya merupakan step pertama, masih ada step lain­nya yang juga tidak kalah pen­ting­nya, seperti sistem building, pemilihan model demokrasi yang sesuai, kesiapan dari sumber daya manu­sia dan lain sebagai­nya.   [rm]

Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

UPDATE

Mendag AS Akhirnya Mengakui Pernah Makan Siang di Pulau Epstein

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:10

Israel Resmi Gabung Board of Peace, Teken Piagam Keanggotaan di Washington

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:09

Profil Jung Eun Woo: Bintang Welcome to Waikiki 2 yang Meninggal Dunia, Tinggalkan Karier Cemerlang & Pesan Misterius

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:08

Harga Minyak Masih Tinggi Dipicu Gejolak Hubungan AS-Iran

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:59

Prabowo Terus Pantau Pemulihan Bencana Sumatera, 5.500 Hunian Warga Telah Dibangun

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:49

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Tertekan ke Rp16.811 per Dolar AS

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:47

Salah Transfer, Bithumb Tak Sengaja Bagikan 620.000 Bitcoin Senilai 40 Miliar Dolar AS

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:33

Menteri Mochamad Irfan Yusuf Kawal Pengalihan Aset Haji dari Kementerian Agama

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:18

Sinyal “Saling Gigit” dan Kecemasan di Pasar Modal

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:09

KPK: Kasus PN Depok Bukti Celah Integritas Peradilan Masih Terbuka

Kamis, 12 Februari 2026 | 08:50

Selengkapnya