Berita

Anies Baswedan

Wawancara

WAWANCARA

Anies Baswedan: Janji Kemerdekaan Belum Dilunasi...

RABU, 17 AGUSTUS 2011 | 01:19 WIB

RMOL. Banyak janji kemerdekaan yang belum dilunasi hingga sekarang. Salah satunya mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Makanya dalam Pilpres 2014 perlu dicari pemimpin otentik, yaitu yang memahami kondisi rakyat saat ini.

“Insya Allah janji kemerdekaan terpenuhi ketika kita 100 tahun merdeka. Itu pun bila kita mene­mukan pemimpin otentik,” tan­das Rektor Universitas Para­ma­dina, Anies Baswedan, di acara orasi kebangsaan bertajuk “me­lunasi janji kemerdekaan,’’ di Jakarta, Senin (15/8).

Menurut Anies, pemimpin otentik ini diperlukan untuk mem­­perjuangkan tiga hal utama, yaitu pembangunan, demokrasi, dan penegakan hukum. Pemba­ngunan sudah mendapat per­hatian yang cukup besar, namun untuk demokrasi masih ada ma­salah yang fundamental dan pe­negakan hukum masih rendah.


Untuk itu, lanjutnya, Indonesia memerlukan strong leadership dalam upaya mendorong tiga hal itu. Sebab, ketiga hal itu tidak bisa dijalankan secara auto pilot atau berjalan otomatis.

“Sekarang ini strong leadership tidak ada di republik ini. Maka­nya diperlukan kehadiran pemim­pin yang kuat, berani, dan mampu melakukan terobosan,” tegasnya.

Berikut kutipan selengkapnya;

Setelah menemukan pemim­pin otentik itu, Anda yakin In­do­­nesia bisa bangkit?
Ya, yakinlah. Sebab, ada bebe­rapa penelitian mengenai posisi ekonomi Indonesia di dunia. Per­tama, Citibank Research Group menyebutkan Indonesia akan menjadi salah satu negara penting dalam skala global dan dikelom­pokkan sebagai penggerak eko­nomi global.

Diperkirakan tahun 2030, eko­nomi Indonesia menjadi terbesar nomor 7 dan tahun 2050 naik posisi­nya ke nomor empat secara global.

Intinya, saat 100 tahun Indone­sia merdeka, kita akan menjadi high income country. Asian De­velopment Bank (ADB) menye­butkan Indonesia akan menjadi salah satu mesin kebangkitan Asia, bersama Jepang, Korea Se­latan, India, dan China. Negara-negara tersebut akan menguasai 80 persen ekonomi Asia.

Hambatan yang dihadapi Indo­nesia?
Korupsi merupakan rem kema­juan Indonesia. Usaha keras kita untuk memajukan Indonesia di­hentikan oleh korupsi. Ada yang mengatakan korupsi disebabkan tiga faktor, yaitu kebutuhan, ke­serakahan, dan sistem. Kebutu­han dan sistem bisa dibereskan dengan cepat. Tapi keserakahan remnya tidak sederhana. Untuk itu, pemberantasan korupsi harus menjadi agenda utama dalam menghilangkan rem kemajuan Indonesia.

Tapi integritas KPK diper­ta­nyakan dalam memberantas korupsi?
Lembaga itu sedang disorot, tetapi bukan harus dihabisi. Kita percaya terhadap lembaga itu. Selama ini KPK menjadi motor untuk memerangi korupsi, se­hingga wajar bila ada koruptor yang ingin menghabisi KPK. Lembaga ini hadir untuk me­mang­kas penghasilan koruptor, sehingga mereka melakukan ber­bagai macam upaya untuk me­nyu­dutkan KPK.

Bagaimana penguatan KPK ke depan?
Ada dua cara yang bisa dila­ku­kan. Pertama, di internal KPK harus ada terobosan-tero­bosan untuk menambal yang ber­lu­bang. Kedua, dukungan tanpa syarat dari pemerintah. Sebab, apabila tidak didukung maka upaya pem­berantasan korupsi akan berat. Untuk itu media dan ma­syarakat harus menuntut kepada peme­rintah agar meng­ambil sikap po­sitif pada KPK. Bila ada masalah, tentu KPK harus di­bereskan.   [rm]

Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

UPDATE

Mendag AS Akhirnya Mengakui Pernah Makan Siang di Pulau Epstein

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:10

Israel Resmi Gabung Board of Peace, Teken Piagam Keanggotaan di Washington

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:09

Profil Jung Eun Woo: Bintang Welcome to Waikiki 2 yang Meninggal Dunia, Tinggalkan Karier Cemerlang & Pesan Misterius

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:08

Harga Minyak Masih Tinggi Dipicu Gejolak Hubungan AS-Iran

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:59

Prabowo Terus Pantau Pemulihan Bencana Sumatera, 5.500 Hunian Warga Telah Dibangun

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:49

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Tertekan ke Rp16.811 per Dolar AS

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:47

Salah Transfer, Bithumb Tak Sengaja Bagikan 620.000 Bitcoin Senilai 40 Miliar Dolar AS

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:33

Menteri Mochamad Irfan Yusuf Kawal Pengalihan Aset Haji dari Kementerian Agama

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:18

Sinyal “Saling Gigit” dan Kecemasan di Pasar Modal

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:09

KPK: Kasus PN Depok Bukti Celah Integritas Peradilan Masih Terbuka

Kamis, 12 Februari 2026 | 08:50

Selengkapnya