Berita

Muhammad Nazaruddin

X-Files

Transaksi Janggal Nazar Lebih Dari Rp 187 Miliar

Temuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan
RABU, 10 AGUSTUS 2011 | 08:53 WIB

RMOL. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) kembali menemukan enam buah transaksi keuangan mencurigakan milik bekas Bendahara Umum DPP Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin. Kini, jumlah transaksi mencurigakan Nazaruddin itu menjadi genap 150 transaksi di 16 bank.

Menurut Kepala PPATK Yunus Husein, 150 transaksi itu ter­masuk dalam kategori tran­saksi perusahaan. Namun, Yunus enggan membeberkan nama pe­rusahaannya.

“Dia kan punya perusahaan banyak sekali, lebih dari 150. Itu tidak di Kemenpora saja, di tem­pat lain juga banyak,” katanya.


Yunus mengaku tidak me­nge­tahui secara persis berapa jumlah nominal keseluruhan transaksi itu. Yang pasti, katanya, jumlah transaksi mencurigakan milik Nazaruddin mencapai angka ra­tusan miliar rupiah. “Wah jangan tanya rinciannya. Saya kurang begitu tahu,” ucapnya.

Namun, lanjut Yunus, PPATK belum menyerahkan 150 tran­saksi mencurigakan itu ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Yunus beralasan, PPATK perlu men­dalami laporan itu terlebih dahulu sebelum melaporkannya ke KPK.   

“Masih dalam proses. Kalau begitu dapat langsung kami la­porkan, namaya bukan PPATK, tapi kantor pos,” ujarnya.

Menurutnya, data 150 transaksi mencurigakan itu belum dapat dikatakan sebagai laporan final. Hingga kini, PPATK masih me­ngorek transaksi mencurigakan yang terdapat di rekening milik Nazaruddin. “Karena itu, PPATK mengimbau kepada lembaga per­bankan terus melaporkan per­kem­bangan yang bisa digunakan untuk membantu kelancaran penyidikan,” ucapnya.

Sebelumnya, kata Yunus, PPATK telah menemukan 144 transaksi mencurigakan milik Na­zaruddin. Menurutnya, 144 transaksi mencurigakan itu ber­jumlah Rp 187 miliar. “Itu yang kemarin sebelum adanya ke­nai­kan saat ini,” ujarnya. Jika di­tambah enam transaksi yang baru ditemukan, jumlahnya lebih dari Rp 187 miliar.

Sementara itu, Kepala Biro Humas KPK Johan Budi Sapto Prabowo menyatakan, pihaknya akan mendalami data tentang transaksi mencurigakan yang berkaitan dengan Nazaruddin untuk keperluan penyidikan. Ka­rena untuk kepentingan pe­nyi­dikan, Johan pun enggan untuk membeberkan lebih lanjut.

“Siapa pun yang memberikan informasi soal dia, kami akan terima dan telusuri untuk di­da­lami,” ucapnya.

Johan berharap, KPK menjadi lembaga yang pertama kali memeriksa bekas Bendahara Umum DPP Demokrat itu pasca ditangkap Interpol di Kolombia. “Dia kan buronan KPK. Maka, sudah sewajarnya KPK yang paling berhak memeriksanya pertama kali,” katanya.

Menurut Johan, hingga kema­rin sore, KPK belum memperoleh informasi kapan Nazar akan dibawa pulang ke Indonesia. Dia mengatakan, tim gabungan dari KPK, Mabes Polri, Interpol, dan Imigrasi yang berangkat ke Bo­go­ta pada Minggu lalu, belum memberi kabar perkembangan proses pemulangan Nazaruddin. “Belum ada informasi yang kami dapat,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Johan, KPK juga belum mendapatkan infor­masi mengenai posisi istri Na­za­ruddin, Neneng Sri Wahyuni. Mes­ki begitu, dia memastikan, Na­zaruddin mendapat pengawa­lan yang sangat ketat di Ko­lom­bia. “Dari informasi, Nazaruddin sudah mendapat pengamanan dari kepolisian lokal dengan pen­dampingan dari Dubes Indonesia di sana,” katanya.

Ketika ditanya, apakah KPK akan menangkap buronan lainnya pasca Nazaruddin dibekuk di Kolombia, Johan menjawab, pi­haknya semakin bersemangat un­tuk mengejar para buronan KPK lainnya. “Ini bisa menjadi pema­cu kami untuk menangkap buron yang lain. Sekarang  tinggal dua buron KPK, Nunun dan Ang­goro,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Kepala Divisi Humas Polri Brigjen Ketut Untung Yoga Ana mengakui, Nazaruddin merupakan buronan KPK. Maka, sudah pasti KPK yang akan melakukan proses hukum terhadap Nazar.  Penyera­han ke KPK itu, lanjutnya, bukan berarti jajaran Polri tidak me­mer­lukan Nazaruddin untuk mem­pro­ses kasus hukum kasus pen­cemaran nama baik Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Ur­baningrum yang mereka tangani.

“Bukan berarti polisi tidak me­nangani, kan dia masih tersang­kut kasus pencemaran baik yang dilaporkan Pak Anas, ya nanti kami koordinasikan dengan KPK,” ucapnya.

Segera Serahkan Datanya ke KPK
Achmad Basarah, Anggota Komisi III DPR
Sarankan PPATK Bikin Prioritas
Alex Sato Bya, Bekas Jaksa Agung Muda

Bekas Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun) Alex Sato Bya ber­pendapat, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) segera membuat skala prioritas terhadap 150 transaksi mencurigakan milik Naza­rud­din. Soalnya, skala prioritas akan lebih memudahkan aparat penegak hukum untuk menin­daklanjuti laporan PPATK tersebut.

“Misalnya, PPATK melaku­kan rincian dan memisahkan mana transaksi yang diduga terkait proyek Hambalang dan Wisma Atlet. Kemudian hitung ulang besarnya transaksi dari ka­sus-kasus tersebut,” sarannya.

Selain membuat skala prio­ri­tas, Alex berharap PPATK me­nemukan transaksi janggal lainnya milik Nazaruddin. Me­nurutnya, 150 transaksi itu jum­lahnya hanya sementara waktu dan akan bertambah dengan cepat. “Tapi, tergantung bagai­mana PPATK. Kalau mereka siap, maka akan cepat mene­mu­kan transaksi lainnya,” ucapnya.

Guna menuntaskan kasus Nazaruddin ini, Alex menilai lembaga penegak hukum perlu membentuk tim khusus. Menu­rutnya, tim khusus itu terdiri dari KPK, Polri dan Kejaksaan Agung. “Walaupun pada dasar­nya KPK lebih berwenang da­lam penuntasan kasus itu. Tapi perlu diingat, Nazaruddin per­nah menyebut-nyebut petinggi KPK terlibat dalam suatu ka­sus,” tutur pria asal Gorontalo ini.

Alex menambahkan, pe­nang­kapan Nazaruddin semestinya dijadikan pintu masuk untuk mem­bongkar siapa saja yang terlibat. Dia mengingatkan, ja­ngan sampai nasib Nazaruddin sama seperti Susno Duadji yang bungkam setelah terjerat hu­kuman.   [rm]

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Timur Tengah Memanas, PKB Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Pupuk

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53

Likuiditas Februari Tumbuh 8,7 Persen, Ditopang Belanja Pemerintah dan Kredit

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38

Trump Bikin Gaduh Lagi, Hormuz Disebut “Selat Trump"

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53

Krisis BBM Sri Lanka Mulai Mengancam Sektor Pangan

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17

Arus Balik Lebaran 2026 Dorong Rekor Baru Penumpang Kereta Api

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53

Beban Utang AS: Masalah Besar yang Masih Diabaikan Pasar

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24

IHSG Lesu Pasca Libur Lebaran, Asing Ramai-ramai Jual Saham

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52

Amerika Sesumbar Bisa Habisi Iran dalam Hitungan Minggu Tanpa Perang Darat

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40

Kapal Pertamina Masih Tertahan di Hormuz, DPR Desak Presiden Turun Tangan!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28

Komisi XII DPR: WFH Bukan Solusi Tunggal untuk Hemat Energi!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12

Selengkapnya