Berita

ilustrasi/ist

Tim Katastropik Purba Amati Catatan Sejarah Gempa Jogja

SENIN, 08 AGUSTUS 2011 | 07:12 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Hari masih pagi ketika sebuah gempa berkekuatan 5,9 SR mengguncang Jogjakarta dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006. Ribuan gedung rubuh, sekitar 6.000 orang tewas dan ribuan lainnya terluka dalam peristiwa itu.

Setelah lima tahun berlalu, Tim Katastropik Purba yang dibentuk kantor Staf Khusus Presiden mempelajari kembali dengan seksama hasil riset yang dilakukan sekelompok peneliti. Dalam kertas kerja yang berjudul Perkembangan Geologi pada Kuarter Awal sampai Masa Sejarah di Dataran Yogyakarta itu, para peneliti yang terdiri dari Sri Mulyaningsih, Sampurno, Yahdi Zaim, Deny Juanda Puradimaja, Sutikno Bronto, dan Darwin Alijasa Siregar, merekam proses tektonisme yang terjadi di Yogyakarta sebelum gempa 2006.

Asisten Staf Khusus Presiden, Erick Ridzky, kepada Rakyat Merdeka Online, Senin pagi (8/8) menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukan setahun setelah gempa Jogjakarta itu mencatat data sesar di sepanjang dataran gunung api yang diakibatkan pengangkatan Pegunungan Kulon Progo dan Selatan. Juga sesar minor akibat gempa tektonik yang berlangsung di kawasan itu masa lalu.

Ada empat gempa yang mempengaruhi tektonisme di kawasan tersebut yang terjadi pada 10 Juni 1867, dengan episentrum pada 8,7 LS & 110,8 BT dan berkekuatan 8-9 Modifi ed Mercalli Intensity (MMI), 27 September 1937 dengan episentrum pada 8,7 LS &108 BT dengan kekuatan 8 MMI, 23 Juli 1943 dengan episentrum pada 8,6 LS & 109,9 BT berkekuatan 8 MMI, dan 13 Maret 1981 dengan episentrum pada 8,7 LS & 110,4 BT dengan kekuatan 5,6 SR SR.

“Sesar-sesar minor juga dijumpai pada tebing galian candi. Sesar tersebut didukung pula oleh kondisi keruntuhan candi yang vertikal atau dalam bahsa Jawa disebut ambleg, seperti pada Candi Kedulan dan Plaosan Kidul,” ujar Erick.

Dasar Candi Kedulan sebelum direnovasi menunjukkan penampakan bergelombang, sedangkan pada batu-batu di lantai halaman Candi Plaosan Kidul memperlihatkan perbedaan ketinggian relief yang miring ke barat. [guh]


Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Pramono Klaim 96 Persen Warga Ingin CFD Rasuna Said Berlanjut

Minggu, 07 Juni 2026 | 10:20

Garuda Institute Minta BGN Utamakan Kualitas daripada Kuantitas

Minggu, 07 Juni 2026 | 10:12

Balas Serangan AS, Iran Gempur Pangkalan Bahrain dan Kuwait

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:58

Ditjenpas Benahi Overkapasitas dan Tingkatkan Keamanan Lapas

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:54

Paus Leo XIV Sebut Perang AS-Iran Tidak Adil

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:11

Bukan Sekadar Ganti Pejabat, Reshuffle Kabinet Harus Pulihkan Ekonomi

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:00

Bupati Pati Sudewo Ditahan di Rutan Semarang Jelang Sidang Dua Perkara

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:56

Suhud Alynudin Akan Dilantik Jadi Ketua DPRD DKI Senin Besok

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:27

Koperasi Didorong Masuk Ekosistem Industri Gula

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:02

Gus Salam Serap Aspirasi Nahdliyin Sulsel Jelang Muktamar NU

Minggu, 07 Juni 2026 | 07:52

Selengkapnya