Berita

sri mulyani/ist

CAPRES 2014

Banyak Bukti, Sri Mulyani Didukung Jaringan Kapitalisme Internasional

JUMAT, 05 AGUSTUS 2011 | 00:13 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Selama menjadi Menteri di masa pemerintahan SBY, Sri Mulyani menunjukkan keberhasilannya dalam menjalankan proyek-proyek hutang luar negeri, khususnya dari Bank Dunia.

Selain itu, selama menjabat Menteri Keuangan, Sri Mulyani juga menjadi aktor utama di balik lahirnya berbagai Undang-undang Nekolim di bidang investasi, perdagangan dan keuangan yang memang dibiayai oleh hutang luar negeri dari World Bank.

"Bermodalkan hutang luar negeri, Sri Mulyani berhasil membantu SBY dalam pemenangan pemilu 2009 yang lalu. Hutang luar negeri disalurkan baik lewat cash transfer, Raskin, PNPM Mandiri, Jamkesmas, dan lain-lainnya yang tak lain adalah money politic yang luas. Dengan itu SBY menang," ujar Ketua Umum Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem), Masinton dalam rilis yang diterima Redaksi (Kamis, 4/8).


Dalam situs website Bank Dunia, tercatat bahwa dari tahun 2004 hingga 2009 Bank Dunia membiayai sedikitnya 82 proyek utang senilai kira-kira 8,5 miliar dolar AS untuk membiayai berbagai proyek di Indonesia, termasuk BLT, PNPM Mandiri, Raskin. Tak hanya itu, utang tersebut juga digunakan untuk membiayai pembuatan perundang-undangan dan infrastruktur investasi luar negeri. Umumnya, program bantuan luar negeri untuk jaring pengaman sosial semacam itu adalah hutang dengan bunga tinggi.

"Jasa besar Sri Mulyani dalam mengkontribusikan uang besar bagi kemenangan SBY tidak hanya terkait kepiawaiannya dalam menggunakan bantuan Bank Dunia dalam meningkatkan popularitas SBY, tetapi juga berhasil mengola kebijakan bailout Century yang patut diduga juga digunakan sebagai sumber keuangan oleh SBY dalam rangka membiayai pemenangan pemilu 2009," kata Masinton lagi.

Dikatakan Masinton, Sri Mulyani telah berjasa besar dalam menjalankan misi Bank Dunia dan beroperasinya kepentingan asing menjajah Indonesia. Oleh karenanya, penilaian bahwa pencalonan Sri Mulyani sebagai Capres 2014 didukung oleh kekuatan kapitalisme internasional bukanlah hal aneh.

"Pencabutan subsidi untuk rakyat kecil, tergusurnya pasar tradisional oleh pasar modern milik pemodal besar bahkan asing, lahan dan produksi petani yang terus merosot adalah karya kebijakan neoliberalisme atau pro pemodal asing. Sri Mulyani adalah ekonom dan tokoh yang mendesain lahirnya kebijakan yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat kecil maupun kepentingan ekonomi nasional Indonesia," imbuh Masinton. [dem]

Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Swiss Tantang Argentina Usai Singkirkan Kolombia Lewat Drama Adu Penalti

Rabu, 08 Juli 2026 | 05:45

Kemesraan Prabowo-Modi

Rabu, 08 Juli 2026 | 05:30

Khayal Seorang Revolusioner

Rabu, 08 Juli 2026 | 05:15

Pengalaman Demokrasi India jadi Inspirasi Penting Indonesia

Rabu, 08 Juli 2026 | 04:53

Sikap Tegas Rektor Untan Jalankan Statuta Universitas Tuai Apresiasi

Rabu, 08 Juli 2026 | 04:23

Belajar dari Koperasi Pertanian Jepang

Rabu, 08 Juli 2026 | 03:58

Prabowo: Saya adalah Pengagum Pribadi Shri Narendra Modi

Rabu, 08 Juli 2026 | 03:31

Kisah Seorang Anak Buruh Harian Lepas

Rabu, 08 Juli 2026 | 03:13

Bahayakan Nyawa Banyak Orang, DPR Desak Polisi Berantas Maling Besi

Rabu, 08 Juli 2026 | 02:59

Tinjau TPA Jatiwaringin

Rabu, 08 Juli 2026 | 02:39

Selengkapnya