Berita

sri mulyani/ist

CAPRES 2014

Bereskan Dulu Dua Masalah Besar Sri Mulyani...

RABU, 03 AGUSTUS 2011 | 23:01 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Siapapun, tak terkecuali para pendiri, pengagas maupun pengurus partai Serikat Rakyat Independen (SRI), berhak mencalonkan seseorang sebagai presiden. Tetapi, langkah mereka mengusung Sri Mulyani sebagai Capres pada Pemilu 2014 nanti, lain cerita.

"Kepada partai pengusung, tolong bereskan masalah-masalah besar Sri Mulyani dulu," kata aktivis Gerakan 77/78, M Hatta Taliwang kepada Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu (Rabu, 3/8).

Ada dua masalah besar yang harus diclearkan; kasus pengemplangan pajak bos Ramayana, Paulus Tumewu dan pencairan dana talangan kepada Bank Century yang merugikan negara Rp 6,7 triliun.


Paulus Tumewu mengemplang pajak senilai Rp 339 miliar. Atas kasus tersebut, Paulus Tumewu pun ditahan di Mabes Polri. Perkaranya sudah dinyatakan lengkap dan ​‎​siap disidangkan alias P21. Namun tiba-tiba, Sri Mulyani, selaku Menteri Keuangan, mengintervensi perkaranya dengan surat tertanggal 16 Oktober 2006 kepada Jaksa Agung meminta penghentian penyidikan pengemplangan pajak Paulus Tumewu. Hasilnya, dalam 3 hari Jaksa Agung mengabulkannya dan membebaskan Paulus Tumewu dari jerat hukum. Naasnya lagi, Paulus Tumewu hanya membayar pajak sebesar Rp 7 miliar.

Sementara dalam kasus Century, posisi Sri Mulyani juga jelas. Berbicara empat mata dengan Boediono, waktu itu sebagai Gubenur BI, Sri Mulyani sebagai Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menggelontorkan Rp 6,7 triliun bagi Bank Century dengan alasan kebangkrutan Bank Century akan berdampak sistemik bagi perekonomian nasional. Jusuf Kalla menyebut pencairan tersebut sebagai penggarongan uang negara.

"Kok tiba-tiba mantan Menkeu yang bermasalah mau dijadikan Capres. Dibereskan dulu masalah-masalahnya, biar bangsa ini bisa memilih calon-calon yang telah bebas dari masalah. Rakyat sudah capek dipimpin orang-orang bermasalah," cetusnya.

Dikatakan Hatta, janganlah memanfaatkan keluguan rakyat. Dengan menyihir mereka dengan mengatakan pilih orang cantik, pintar, dan jujur padahal untuk sekedar mengelabui ketidakpahaman mereka soal neolib atau antek neolib.

"Kalau cara-cara seperti ini terus digunakan, hasilnya akan terulang terus. Rakyat terus tertipu dan menderita. Mari kita tempatkan kepentingan rakyat dan bangsa di atas kepentingan siapapun," imbuhnya. [dem]




Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Swiss Tantang Argentina Usai Singkirkan Kolombia Lewat Drama Adu Penalti

Rabu, 08 Juli 2026 | 05:45

Kemesraan Prabowo-Modi

Rabu, 08 Juli 2026 | 05:30

Khayal Seorang Revolusioner

Rabu, 08 Juli 2026 | 05:15

Pengalaman Demokrasi India jadi Inspirasi Penting Indonesia

Rabu, 08 Juli 2026 | 04:53

Sikap Tegas Rektor Untan Jalankan Statuta Universitas Tuai Apresiasi

Rabu, 08 Juli 2026 | 04:23

Belajar dari Koperasi Pertanian Jepang

Rabu, 08 Juli 2026 | 03:58

Prabowo: Saya adalah Pengagum Pribadi Shri Narendra Modi

Rabu, 08 Juli 2026 | 03:31

Kisah Seorang Anak Buruh Harian Lepas

Rabu, 08 Juli 2026 | 03:13

Bahayakan Nyawa Banyak Orang, DPR Desak Polisi Berantas Maling Besi

Rabu, 08 Juli 2026 | 02:59

Tinjau TPA Jatiwaringin

Rabu, 08 Juli 2026 | 02:39

Selengkapnya