Berita

ilustrasi

CATATAN HARI JUMAT

Semoga Din Syamsuddin Menyadari bahwa Boediono adalah Bagian dari Masalah

JUMAT, 29 JULI 2011 | 16:03 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Pertemuan tertutup antara Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dengan Wakil Presiden Boediono melahirkan berbagai spekulasi politik yang patut dipertimbangkan.

Berbagai spekulasi politik itu bukan sesuatu yang berlebihan, mengingat pertemuan selama dua jam itu tidak berlangsung di ruang dan waktu yang hampa politik.

Presiden SBY dan Partai Demokrat yang didirikannya semakin terpojok menyusul nyanyian nyaring dan melengking Muhammad Nazaruddin. Rapat Kordinasi Nasional (Rakornas) Demokrat akhir pekan lalu rasa-rasanya tak berhasil mengembalikan simpati publik terhadap partai itu. Kecurigaan semakin membesar.


Di sisi lain publik pun mengetahui bahwa Din termasuk dalam barisan kelompok yang kerap berseberangan dengan Presiden SBY. Din dan Muhammadiyah tidak menghadiri pertemuan antara Presiden SBY dan pemimpin ormas Islam di Istana Negara beberapa hari lalu. Bahkan di awal tahun ini Din termasuk dalam kelompok pemuka agama yang meniupkan isu kebohongan rezim SBY.

Mengapa pula tokoh yang berseberangan dengan SBY menggelar pertemuan tertutup selama dua jam dengan Wakil Presiden? Agenda apa gerangan yang mereka bahas selama itu?

Ditanya wartawan usai pertemuan, apakah ada isu politik yang mereka bicarakan, reaksi Boediono dan Din tidaklah sama.

Boediono hanya tersenyum dan tertawa. Sementara Din mengatakan tidak ada.

Boediono memang pantas tersenyum, juga pantas tertawa. Dalam dinamika medan politik yang sedemikian rupa, sejatinya dia adalah politisi paling kuat di republik ini. Bila ada apa-apa pada Presiden SBY, menurut UUD 1945 Boediono akan menjadi orang pertama yang menampung durian runtuh.

Apakah Boediono sedang merajut jalan ke arah itu? Ataukah Din Syamsuddin yang sedang memperlihatkan kemampuan mengatur keseimbangan politik?

Kita belum tahu pasti apa yang terjadi selama dua jam di dalam kantor Din di lantai dua gedung PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta.

Semogalah Din Syamsuddin menyadari bahwa Boediono adalah bagian dari masalah yang sedang dihadapi Indonesia. Baik masalah hukum, maupun masalah ekonomi.

Menurut Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan DPR, Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek (FPJP) yang diberikan Boediono kala menjabat Gubernur BI untuk Bank Century melanggar aturan hukum dan perundangan. Boediono juga menjadi pihak yang paling ngotot meminta agar Bank Century dibailout dan ditetapkan sebagai bank gagal yang berdampa sistemik dalam rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), malam hari 20 November 2008. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang kini menangani kasus ini masih terlihat ragu-ragu.

Di lapangan ekonomi, sejak masa kampanye dalam Pilpres 2009, Boediono tak pernah berbicara tentang strategi menambah lapangan pekerjaan dan mengurangi jumlah orang miskin. Hal paling dominan yang kerap disampaikannya di masa itu adalah menjual sejumlah BUMN!

Dengan catatan singkat di atas, apapun yang dibicarakannya dengan Boediono selama dua jam, semogalah Din Syamsuddin menyadari bahwa Boediono adalah bagian dari persoalan bangsa ini. [guh]  

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Investor Diminta Wait and See, Pengamat Prediksi Banyak yang Ditangkap Imbas MSCI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:30

Serangan Houthi Ganggu Ajang Olahraga Saudi, Piala Asia Tetap Sesuai Jadwal

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:14

Putusan MK soal UU Peradilan Militer Momentum Akhiri Impunitas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:06

Komisi III DPR Desak Pelaku Korupsi Dana Bencana Dihukum Maksimal!

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:46

Daftar Negara Masuk Standalone Market MSCI, Ada 12 Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:34

Dihantam Ancaman MSCI, IHSG Terancam Anjlok ke 4.700 Pekan Depan

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:24

Minyak Dunia Tembus 110 Dolar AS

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:07

Profil Hamenang Wajar Ismoyo, Bupati Klaten Tersangka Kasus Suap Audit BPK

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:53

Karhutla Meluas, Legislator Golkar Desak Evaluasi Pencegahan dan Penegakan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:52

BMKG Deteksi Sebaran Asap Karhutla hingga Jakarta dan Papua

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:39

Selengkapnya