Berita

Jimly Asshiddiqie

Wawancara

WAWANCARA

Jimly Asshiddiqie: Masa Depan Demokrat Tergantung Pembuktian ­Ucapan Nazaruddin

KAMIS, 28 JULI 2011 | 04:45 WIB

RMOL.Nazaruddin sudah resmi dipecat dari Partai Demokrat. Tapi nasib partai pemenang Pemilu 2009 itu tetap sangat tergantung ‘nyanyian’ Nazaruddin.

Apakah ‘nyanyian’ bekas Ben­dahara Umum Partai Demo­krat itu benar-benar fitnah atau se­baliknya.

Kalau fitnah, berarti partai yang diprakarsai SBY dan Vence Rumangkang itu bakal semakin besar ke depan. Tapi kalau ucapan Nazaruddin benar, maka partai ini hancur.

 Demikian disampaikan bekas Ketua MK, Jimly Asshiddiqie, di Jakarta, Senin (25/7).

“Masa depan Partai Demokrat ada di pembuktian ucapan Na­zaruddin. Setelah Nazar diperiksa mungkin ditemukan atau tidak keterlibatan dari orang-orang yang disebutkan itu,” papar bekas Wantimpres Bidang Hukum dan Ketatanegaraan itu.

Berikut kutipan selengkapnya;

Apa maksudnya nasib Partai Demokrat ada di pembuktian ucapan Nazaruddin?

Nazaruddin terlalu cepat ber­bicara. Ucapannya itu harus di­buktikan berapa persen kebena­ran­nya. Apakah 90 persen, 80 persen, 70 persen, atau 0 persen.

Apabila 0 persen kebenaran­nya, Demokrat akan menjadi semakin besar karena berhasil membuktikan bahwa partai tersebut difitnah. Namun kalau kebenarannya 90 persen, Demo­krat bisa tenggelam. Makanya, masa depan Partai Demokrat ada di Nazaruddin. Namun saya berharap Nazaruddin banyak bohongnya. Sebab apabila benar akan mengganggu kinerja peme­rintahan secara keseluruhan.

Bagaimana bila Nazaruddin tidak pulang?

Pasti pulang. Kalau tidak, dia akan rugi. Sebab, dikucilkan da­lam kehidupan nyata. Dia bisa pergi kemana-mana karena masih punya uang. Tapi ketika uangnya habis, mau pergi kemana lagi.

 Daripada membiarkan dirinya masuk penjara pengasingan ber­tahun-tahun, lebih baik segera pulang dengan bertanggung ja­wab, karena sebagai politisi dia seharusnya gentleman.

Nazaruddin mengaku tidak percaya KPK, itu bagaimana?

Namanya bandit begitu, orang lain yang dituduh. Saya ingin me­nekankan, ketika KPK dituduh, bukan berarti institusi itu 100 persen salah. Me­reka bisa me­meriksa internalnya sendiri tapi tidak sekarang, namun yang ha­rus di­pe­riksa KPK saat ini adalah Na­zaruddin terlebih dahulu.

KPK sudah me­me­riksa inter­nal­nya?

Tidak ada gunanya KPK mem­buat tim untuk memeriksa Chandra Hamzah dan lain-lain. Nanti saja itu dilakukan. Tetapi memang sebaiknya orang-orang yang disebut itu merasa menye­babkan beban psikologis.

O ya, bagaimana dengan kon­disi politik Indonesia saat ini?

Kita masuk perangkap dalam li­beralisme politik. Kalau libe­ralisme ekonomi adalah ekonomi pasar bebas, maka liberalisme politik adalah politik pasar bebas. Kita membuat keputusan berda­sar­kan kemauan pasar. Sedang­kan pasar ditentukan pembentu­kan opini, dan pembentukan opini ditentukan media.

Karena itu, media saat ini laku keras, media bisa meng­gi­ring opini ke kanan atau ke kiri. Kita memer­lukan media yang idealis dan independen. Tidak berpihak pada siapapun kecuali kepada kebe­naran faktual yang bisa memberi arah perjalanan bangsa. [rm]


Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

UPDATE

Mendag AS Akhirnya Mengakui Pernah Makan Siang di Pulau Epstein

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:10

Israel Resmi Gabung Board of Peace, Teken Piagam Keanggotaan di Washington

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:09

Profil Jung Eun Woo: Bintang Welcome to Waikiki 2 yang Meninggal Dunia, Tinggalkan Karier Cemerlang & Pesan Misterius

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:08

Harga Minyak Masih Tinggi Dipicu Gejolak Hubungan AS-Iran

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:59

Prabowo Terus Pantau Pemulihan Bencana Sumatera, 5.500 Hunian Warga Telah Dibangun

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:49

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Tertekan ke Rp16.811 per Dolar AS

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:47

Salah Transfer, Bithumb Tak Sengaja Bagikan 620.000 Bitcoin Senilai 40 Miliar Dolar AS

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:33

Menteri Mochamad Irfan Yusuf Kawal Pengalihan Aset Haji dari Kementerian Agama

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:18

Sinyal “Saling Gigit” dan Kecemasan di Pasar Modal

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:09

KPK: Kasus PN Depok Bukti Celah Integritas Peradilan Masih Terbuka

Kamis, 12 Februari 2026 | 08:50

Selengkapnya