Berita

KPK Dituding Tak Serius Bantu Polri Pulangkan Nazaruddin

RABU, 27 JULI 2011 | 10:59 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Selain memiliki kendala teknis untuk memulangkan Nazaruddin dari negara persemubunyiannya, Kapolri juga tidak mendapatkan bantuan maksimal dari Komisi Pemberantasan Korupsi. Karena itu, kalau pun gagal pulangkan Nazaruddin, Kapolri tak bisa disalahkan seorang diri.

"(Penangkapan Nazaruddin) inikan kerjaan KPK. Mestinya KPK memberikan support yang besar juga bagi polisi. Tapi sejauh ini kita melihat KPK tidak serius (membantu polisi)," kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S Pane, kepada Rakyat Merdeka Online pagi ini.
 
Dalam pengamatan Neta, KPK belum bekerja maksimal membantu Polri dalam memulangkan Nazaruddin. Padahal, KPK memiliki intelijen, wewenang penyadapan, dan dana yang besar.


"Artinya fakta-fakta (kewenangan KPK yang belum dijalankan) ini harus dilihat juga. IPW bukan membela polisi dalam hal ini. Kita hanya menyampaikan ada fakta yang seperti itu. (Meski begitu) kita tadi menyampaikan harus cepat lah Nazaruddin ditangkap supaya masyarakat tidak kecewa kepada Polri," ucap Neta, yang mengaku bertemu Kapolri tadi pagi.

Karena itu, tegas Neta, KPK harus punya kepedulian dan juga sebaiknya pro aktif dalam membantu Polri dalam mencari Nazaruddin. Nah, sejauh ini, dia melihat, kerja sama antara dua lembaga penegak hukum itu tidak sinkron.

"KPK sepertinya arogan, padahal ini gawean dia. Mentang-mentang sudah dikeluarkan red notice, dia lalu serahkan kepada Polri," sergah Neta.

Kalau memang serius untuk membantu Polri memulangkan Nazaruddin, banyak hal yang bisa dilakukan KPK di dalam negeri.

"Dia (KPK) punya intelijen. Intelijen ini bekerja maksimal, kemudian dia itu harus segera menggeledah rumah dan kantor Nazaruddin. (KPK) memintai keterangan atau mencari informasi dari  keluarga Nazaruddin. Itukan belum dilakukan KPK. Ini dulu dilakukan secara maksimal oleh KPK baru kelihatan KPK serius," tandasnya. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

UPDATE

DPR Minta Evaluasi Perlintasan Usai Insiden Tabrakan Argo Bromo-KRL

Selasa, 28 April 2026 | 00:15

KRL Sempat Menabrak Taksi Sebelum Diseruduk KA Argo Bromo

Selasa, 28 April 2026 | 00:04

Kedaulatan Data RI jadi Sorotan di Tengah Gejolak Geopolitik

Senin, 27 April 2026 | 23:46

Tim SAR Berjibaku Evakuasi Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur

Senin, 27 April 2026 | 23:24

Kereta Argo Bromo Tabrak KRL di Bekasi Timur, KAI Masih Investigasi

Senin, 27 April 2026 | 23:10

Heboh Anggaran Baju Dinas Pemprov Sumsel Tembus Rp3 Miliar

Senin, 27 April 2026 | 22:30

Kuasa Hukum Thio: Jangan Korbankan Terdakwa Atas Kesalahan Negara

Senin, 27 April 2026 | 22:28

Rocky Terkekeh Dengar Candaan Prabowo Soal “Disiden” di Istana

Senin, 27 April 2026 | 22:11

Kejati Sumut Geledah Kantor Satker Perumahan Usut Dugaan Korupsi Proyek Rusun

Senin, 27 April 2026 | 22:11

KAI Fokus Evakuasi Penumpang di Stasiun Bekasi Timur

Senin, 27 April 2026 | 22:06

Selengkapnya