Berita

ilustrasi

Rasa Muak Itu Baru Sampai Rapat Koruptor Nasional…

MINGGU, 24 JULI 2011 | 12:39 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Kritik yang belakangan semakin gencar disampaikan publik terhadap Partai Demokrat ada baiknya dilihat dari banyak sisi.

Kritik ini bukan hanya dialamatkan kepada berbagai dugaan kasus suap dan korupsi uang negara yang melibatkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, M. Nazaruddin, yang sekarang buron dan beberapa tokoh partai seperti yang disebutkan Nazar dalam berbagai kesempatan.

Harus dipahami bahwa kritik yang telah berubah menjadi rasa muak ini sejatinya pun tidak hanya ditujukan kepada Partai Demokrat dan para petingginya semata.


Haruslah kita catat dengan tinta tebal, bahwa rasa muak ini lebih ditujukan kepada sistem politik Indonesia yang telah menjelma menjadi mesin korupsi: melibatkan partai mana saja berikut para petingginya.

Hanya kebetulan yang sedang berkuasa, dan tadinya diharapkan menjadi contoh, adalah Partai Demokrat. Kebetulan pula, kasus saling tuding ini sedang terjadi di partai besutan Presiden SBY itu. Juga kebetulan, aksi saling tuding itu terjadi bersamaan dengan Rakornas Partai Demokrat yang dikhawatirkan beberapa kalangan berubah menjadi arena persidangan politik.

Biasanya ada dua cara yang digunakan rakyat untuk melampiaskan rasa muak. Pertama dengan menggunakan humor, dan kedua lewat "amok".

Begitu menurut hemat aktivis prodemokrasi Adhie Massardi menyikapi perkembangan terakhir dunia politik Indonesia, wabil khusus Partai Demokrat yang sedang menggelar Rakornas di Sentul, Bogor, Jawa Barat.

“BeruntunglahPartai Demokrat yang sedang menggelar Rakornas di Sentul, karena kemuakan rakyat hanya dilampiaskan lewat humor. Antara lain, menyebarkan foto Ketua Dewan Pembina SBY dengan latar belakang tulisan pening dari penggalan kata peningkatan,” ujar Adhie kepada Rakyat Merdeka Online.

Hal lain yang dilakukan adalah dengan memelintir sedemikian rupa akronim Rakornas dari Rapat Kerja Nasional menjadi, misalnya, Rapat Korban Nasaruddin, Rajin Korupsi (Anggaran) Nasional, Rapat Koruptor Ganas, atau Raja Korbankan Anas dan Rapat Koruptor Nasional.

“Kita tidak tahu apakah rasa muak rakyat ini hanya akan berakhir lewat humor, atau meningkat ke tahap berikutnya?” ujar Adhie lagi.

Menurut hemat Adhie Massardi, hanya Tuhan yang tahu, dan para pimpinan Partai Demokrat yang bisa mengantisipasi segala kemungkinan itu di masa yang akan datang. [guh]  


Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Pramono Klaim 96 Persen Warga Ingin CFD Rasuna Said Berlanjut

Minggu, 07 Juni 2026 | 10:20

Garuda Institute Minta BGN Utamakan Kualitas daripada Kuantitas

Minggu, 07 Juni 2026 | 10:12

Balas Serangan AS, Iran Gempur Pangkalan Bahrain dan Kuwait

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:58

Ditjenpas Benahi Overkapasitas dan Tingkatkan Keamanan Lapas

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:54

Paus Leo XIV Sebut Perang AS-Iran Tidak Adil

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:11

Bukan Sekadar Ganti Pejabat, Reshuffle Kabinet Harus Pulihkan Ekonomi

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:00

Bupati Pati Sudewo Ditahan di Rutan Semarang Jelang Sidang Dua Perkara

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:56

Suhud Alynudin Akan Dilantik Jadi Ketua DPRD DKI Senin Besok

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:27

Koperasi Didorong Masuk Ekosistem Industri Gula

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:02

Gus Salam Serap Aspirasi Nahdliyin Sulsel Jelang Muktamar NU

Minggu, 07 Juni 2026 | 07:52

Selengkapnya