Berita

andi arief/ist

Andi Arief: Yugoslavia dan Indonesia Jelas Beda

SABTU, 23 JULI 2011 | 22:45 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Spekulasi yang menyebut Indonesia berpeluang mengalami nasib seperti Yugoslavia didasarkan pada pandangan sempit yang mengabaikan faktor kultural masyarakat yang menginginkan harmoni dan stabilitas.

Demikian disampaikan Andi Arief, salah seorang staf khusus Presiden SBY kepada Rakyat Merdeka Online Sabtu petang, (23/7). Hal ini disampaikannya untuk mengomentari pernyataan Wakil Pemimpin Redaksi Kompas, Trias Kuncahyono, dalam seminar di Seminari Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, Sabtu siang.

Konflik di kawasan Balkan atau Yugoslavia memiliki akar yang panjang, sejak masa Turki Usmaniah. Di masa itu umat Muslim Bosnia diuntungkan. Ketika Josep Broz Tito berkuasa pada 1953 keadaan berubah. Agama dipinggirkan dan diganti dengan paham sosialis/komunis. Keadaan ini bertahan sampai Blok Timur goyah menjelang 1990-an.


Orang-orang Serbia yang umumnya Katolik membalas dendam pada kelompok di era Perang Dunia II mendukung Nazi Jerman. Di antaranya, Kroasia yang umumnya Kristen dan Bosnia yang umumnya Muslim.

"Faktor agama sangat kental. Padahal secara rasial mereka sama saja. Cuma Serbia adalah Ortodoks, Kroasia adalah Katolik, dan Bosnia adalah Islam," ujar Andi.

Dengan demikian, sambungnya, mengatakan Indonesia bisa mengarah ke proses balkanisasi adalah analisis yang berlebihan dan seringkali menjadi dagangan kaum tertentu.

"Coba tanya balik, dimana ada balkanisasi ketika Muslim mayoritas? Tidak ada. Kasus Darfur yang terjadi belakangan ini pun bukan balkanisasi, melainkan separatisme seperti kasus Timor Leste," ujar Andi yang di era 1990-an menjadi salah seorang motor penggerak pro kemerdekaan Timor Leste.

Masih katanya, memang ada upaya balkanisasi di Indonesia. Tetapi, dia mengingatkann konon hal itu dilakukan pihak asing yang ingin membuat jalur langsung dari Filipina ke Timor Leste. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

UPDATE

DPR Minta Evaluasi Perlintasan Usai Insiden Tabrakan Argo Bromo-KRL

Selasa, 28 April 2026 | 00:15

KRL Sempat Menabrak Taksi Sebelum Diseruduk KA Argo Bromo

Selasa, 28 April 2026 | 00:04

Kedaulatan Data RI jadi Sorotan di Tengah Gejolak Geopolitik

Senin, 27 April 2026 | 23:46

Tim SAR Berjibaku Evakuasi Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur

Senin, 27 April 2026 | 23:24

Kereta Argo Bromo Tabrak KRL di Bekasi Timur, KAI Masih Investigasi

Senin, 27 April 2026 | 23:10

Heboh Anggaran Baju Dinas Pemprov Sumsel Tembus Rp3 Miliar

Senin, 27 April 2026 | 22:30

Kuasa Hukum Thio: Jangan Korbankan Terdakwa Atas Kesalahan Negara

Senin, 27 April 2026 | 22:28

Rocky Terkekeh Dengar Candaan Prabowo Soal “Disiden” di Istana

Senin, 27 April 2026 | 22:11

Kejati Sumut Geledah Kantor Satker Perumahan Usut Dugaan Korupsi Proyek Rusun

Senin, 27 April 2026 | 22:11

KAI Fokus Evakuasi Penumpang di Stasiun Bekasi Timur

Senin, 27 April 2026 | 22:06

Selengkapnya