andi arief/ist
andi arief/ist
RMOL. Spekulasi yang menyebut Indonesia berpeluang mengalami nasib seperti Yugoslavia didasarkan pada pandangan sempit yang mengabaikan faktor kultural masyarakat yang menginginkan harmoni dan stabilitas.
Demikian disampaikan Andi Arief, salah seorang staf khusus Presiden SBY kepada Rakyat Merdeka Online Sabtu petang, (23/7). Hal ini disampaikannya untuk mengomentari pernyataan Wakil Pemimpin Redaksi Kompas, Trias Kuncahyono, dalam seminar di Seminari Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, Sabtu siang.
Konflik di kawasan Balkan atau Yugoslavia memiliki akar yang panjang, sejak masa Turki Usmaniah. Di masa itu umat Muslim Bosnia diuntungkan. Ketika Josep Broz Tito berkuasa pada 1953 keadaan berubah. Agama dipinggirkan dan diganti dengan paham sosialis/komunis. Keadaan ini bertahan sampai Blok Timur goyah menjelang 1990-an.
Populer
Sabtu, 25 April 2026 | 15:43
Senin, 20 April 2026 | 14:11
Sabtu, 18 April 2026 | 02:00
Jumat, 17 April 2026 | 17:46
Kamis, 23 April 2026 | 01:30
Kamis, 23 April 2026 | 12:34
Sabtu, 25 April 2026 | 02:37
UPDATE
Selasa, 28 April 2026 | 00:15
Selasa, 28 April 2026 | 00:04
Senin, 27 April 2026 | 23:46
Senin, 27 April 2026 | 23:24
Senin, 27 April 2026 | 23:10
Senin, 27 April 2026 | 22:30
Senin, 27 April 2026 | 22:28
Senin, 27 April 2026 | 22:11
Senin, 27 April 2026 | 22:11
Senin, 27 April 2026 | 22:06