Berita

ilustrasi

Kekerasan atas Nama Agama Karena Negara Lemah

SABTU, 23 JULI 2011 | 11:29 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Keberagaman atau pluralisme bukan barang baru di Republik Indonesia. Belakangan ini kekerasan dengan menggunakan agama dan keyakinan sebagai alasan memang terlihat lebih sering terjadi dibandingkan pada masa sebelumnya. Namun, hal itu bukan karena keberagaman. Melainkan karena negara dan pemerintah tidak hadir dan gagal melindungi warga negara dan menegakkan hukum yang berwibawa.

Demikian antara lain disampaikan Pemimpin Redaksi Rakyat Merdeka Online, Teguh Santosa, yang menjadi salah satu pembicara dalam seminar bertema Penghayatan Panggilan Imamat dengan Semangat Pluralisme di Seminari St. Petrus Canisius Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, Sabtu pagi (23/7).

Seminar tersebut digelar untuk memperingati ulangtahun ke 100 Seminari Mertoyudan. Turut hadir sebagai pembicara intelektual Nahdlatul Ulama Zuhairi Misrawi, tokoh masyarakat GKI Taman Yasmin Bogor, Markus K. Hidayat, Wapemred Kompas Trias Kuncahyono, dan anggota Komisi II DPR RI Basuki Tjahja Utama alias Ahok.


"Kekerasan atas nama agama dan keyakinan hanya bisa dihentikan bila pemerintah memiliki kemampuan menampilkan wajah negara yang kuat," kata Teguh yang juga Wakil Sekjen Pemuda Muhammadiyah.

Dengan mengatakan negara harus kuat, sambung Teguh, dirinya tidak bermaksud mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan pemerintahan otoriter dan diktatoriat seperti di masa lalu. Negara kuat, sebutnya lagi, adalah negara yang mampu menjalankan fungsi untuk melindungi dan mensejahterakan rakyat. Negar yang fungsional adalah negara yang peduli dan pemerintah bisa membuktikan keperdulian itu.

"Gap dan ketimpangan ekonomi yang sedemikian rupa akibat dari hasil pembangunan ynag tidak merata adalah bibit kekerasan atas nama apapun. Sayangnya, agama menjadi faktor yang paling mudah digunakan untuk melakukan kekerasan, sekaligus faktor yang paling mudah dipolitisasi," demikian Teguh.[ald]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

UPDATE

DPR Minta Evaluasi Perlintasan Usai Insiden Tabrakan Argo Bromo-KRL

Selasa, 28 April 2026 | 00:15

KRL Sempat Menabrak Taksi Sebelum Diseruduk KA Argo Bromo

Selasa, 28 April 2026 | 00:04

Kedaulatan Data RI jadi Sorotan di Tengah Gejolak Geopolitik

Senin, 27 April 2026 | 23:46

Tim SAR Berjibaku Evakuasi Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur

Senin, 27 April 2026 | 23:24

Kereta Argo Bromo Tabrak KRL di Bekasi Timur, KAI Masih Investigasi

Senin, 27 April 2026 | 23:10

Heboh Anggaran Baju Dinas Pemprov Sumsel Tembus Rp3 Miliar

Senin, 27 April 2026 | 22:30

Kuasa Hukum Thio: Jangan Korbankan Terdakwa Atas Kesalahan Negara

Senin, 27 April 2026 | 22:28

Rocky Terkekeh Dengar Candaan Prabowo Soal “Disiden” di Istana

Senin, 27 April 2026 | 22:11

Kejati Sumut Geledah Kantor Satker Perumahan Usut Dugaan Korupsi Proyek Rusun

Senin, 27 April 2026 | 22:11

KAI Fokus Evakuasi Penumpang di Stasiun Bekasi Timur

Senin, 27 April 2026 | 22:06

Selengkapnya