RMOL. Meskipun mendapat kecaman keras dari pemerintah China, Presiden Amerika Serikat Barack Obama tetap melakukan pertemuan dengan pemimpin spiritual Tibet Dalai Lama di Washington (Sabtu, 16/7).
Departemen Luar negeri China sebelumnya mendesak Obama untuk membatalkan pertemuan Gedung putih tersebut karena dapat membahayakan hubungan internal antara China dan Amerika Serikat. Hingga saat ini Pemerintah Beijing masih menganggap Dalai Lama sebagai pemecah belah wilayah China yang ada di Himalaya, meskipun pemenang Hadiah Nobel tersebut berkali-kali menyatakan tujuannya adalah terciptanya otonomi Tibet yang sebenarnya bukannya kemerdekaan.
Namun demikian, pihak Gedung Putih mengatakan bahwa pembicaraan pribadi ini adalah upaya untuk menunjukan dukungan Obama terhadap identitas Tibet.
Sebelum pertemuan dengan Dalai Lama, pihak Gedung Putih menyatakan bahwa pertemuan ini hanya akan menekankan dukungan AS terhadap perlindungan identitas agama, budaya dan bahasa Tibet, dan hak asasi warga Tibet.
"Presiden akan menggarisbawahi dukungan yang berkelanjutan terhadap perundingan wakil Dalai Lama dan pemerintah Cina untuk menyelesaikan berbagai perbedaan," ujar Gedung Putih dalam sebuah pernyataan beberapa jam sebelum Dalai Lama dijadualkan meninggalkan Washington, seperti dilansir BBC (Minggu, 17/7).
Dalam pertemua tersebut, Obama memuji Dalai Lama yang melakukan perjuangannya dengan tidak menggunakan unsur kekerasan, meskipun demikian Obama menegaskan bahwa AS tidak mendukung kemerdekaan bagi Tibet. AS khawatir hubungannya dengan pemerintah China memburuk jika AS mendukung kemerdekaan Tibet.
Saat ini China merupakan kreditor AS terbesar, China memegang lebih dari 1 triliun Dolar AS utang Treasury AS dan akan sangat terpengaruh seandainya Kongres gagal mencapai kesepakatan pada 2 Agustus. AS akan terpaksa menaikkan suku bunga, yang menurunkan nilai Dolar AS dan melukai perekonomian global.
[wid]