Berita

HARRIS THAHIR

Wawancara

WAWANCARA

Harris Thahir: Pemecatan M Nazaruddin Jangan Ditunda-tunda Lagi

JUMAT, 15 JULI 2011 | 07:39 WIB

RMOL. Untuk memulihkan citra partai, pengurus DPP Partai Demokrat diminta aktif membantu aparat penegak hukum memburu dan menyeret Nazaruddin ke Indonesia.

Langkah tersebut dianggap efektif mengeliminir tudingan banyak orang kalau partai melindungi tersangka kasus korupsi pembangunan Wisma AtletdDi Kementerian Pemuda dan Olahraga tersebut.

Salah satu pendiri Partai De­mokrat (PD), Harris Thahir pri­hatin dengan kondisi Partai De­mokrat. Citra partai, menurutnya sedang berada di titik nadir me­nyu­sul pemberitaan buruk akibat kasus korupsi pembangunan Wisma Atlet di Kementerian Pe­muda dan Olahraga yang me­nye­ret pengurus PD, Nazarud­din.


Dia melihat citra partai akan se­makin terpuruk bila tidak dila­kukan langkah-langkah pe­nye­lamatan.

Harris menilai, keterpurukan wibawa partai disebabkan sikap DPP Partai Demokrat tidak tegas menyikapi kasus Nazaruddin. Harris heran sampai kini DPP PD belum memecatnya. Dia men­desak, pemecatan terhadapnya tidak ditunda-tunda.

Berikut kutipan wawancara Rakyat Merdeka, dengan Harris Thahir selengkapnya.

Apa maksud pernyataan Anda ten­tang penyelamatan partai?
Saya terus terang kecewa ba­nget kondisi partai saat ini. Partai ini dibuat dengan susah payah kini hancur berantakan gara-gara kutu loncat bernama Nazarrudin. Sejak awal saya sudah meng­ingat­kan partai agar Nazaruddin ja­ngan dimasukan dalam pe­ngurus, karena banyak yang kasih informasi ke saya, dia itu nggak beres. Banyak kasusnya.

Saya minta pemecatan Na­za­rud­din jangan ditunda-tunda. Pe­cat saja langsung. Saya heran sam­pai saat ini partai belum me­me­catnya. Jangan-jangan selama ini mereka yang menahan-nahan kebagian duit Nazaruddin.

Apa yang harus dilakukan un­tuk menyelamatkan partai?
Partai Demokrat harus menun­juk­kan tanggung jawabnya ke ma­syarakat atas kekhilafannya me­masukkan Nazaruddin dalam pe­ngurus. Orang-orang yang me­nunjuk Nazaruddin jadi pengurus harus menunjukkan tang­gung­jawab moralnya. Caranya, de­ngan ikut membantu aparat hu­kum sekuat tenaga memburu dan menangkap Nazaruddin. Sebab selama ini ada kesan Partai De­mok­rat melindunginya. Banyak orang bertanya-tanya, kok pe­ngurus Demokrat bisa menemui Na­zaruddin, tetapi tidak bisa me­nangkapnya.

 Tidak mudah menangkap Na­zaruddin sebab keberadaannya tidak diketahui...
Saya minta Partai Demokrat memburunya sampai dapat. Sebab pemulangannya bisa menjadi modal awal pembenahan partai.

Saya juga minta aparat hukum segera menyeretnya. Aneh bila memiliki jaringan internasional, kepolisian dan KPK tidak bisa mem­bawa pulang Nazaruddin.

Sempat beredar wacana Kong­res Luar Biasa (KLB) untuk sela­matkan partai. Anda setuju?
Saya tidak setuju dengan KLB. Itu bukan solusi menyelamatkan partai. Kalau itu dilakukan, dam­paknya partai malah hancur berantakan.

Sebenarnya seberapa kuat ka­der partai yang inginkan KLB?
Saya tidak melihat ada yang ingin gelar KLB. Banyak orang salah tangkap SMS Marzuki Alie sehingga diartikan macam-ma­cam. Saya menilai, SMS beliau cu­kup bagus untuk mengingatkan kondisi partai.

Sejumlah elite Partai De­mokrat menuding keterp­u­rukan citra Demokrat akibat permainan oknum partai lain berinisial “A”. Siapa itu?
Saya tidak mau berspekulasi, wa­laupun saya juga sudah men­dapatkan laporannya. Saya kira yang perlu dilakukan, kader partai melakukan pembenahan ke da­lam dan mewaspadai oknum-ok­num di dalam partai yang tujuan­nya hanya menjadi maling dan menggembosi partai.

Terakhir, saya ingin meng­ingat­kan kepada semua kader Partai Demokrat tentang misi per­juangan partai. Partai ini di­diri­kan untuk memperjuangkan agen­­da reformasi yang terbeng­kalai, yak­ni menegakkan hukum dan me­wujudkan kesejahteraan rakyat.

Jangan kecewakan rakyat yang telah memilih partai ini. Slogan Anti-korupsi yang dijadikan tema kam­panye partai ini harus di­laksanakan dengan penuh ko­mit­men.   [rm]

Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

UPDATE

Mendag AS Akhirnya Mengakui Pernah Makan Siang di Pulau Epstein

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:10

Israel Resmi Gabung Board of Peace, Teken Piagam Keanggotaan di Washington

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:09

Profil Jung Eun Woo: Bintang Welcome to Waikiki 2 yang Meninggal Dunia, Tinggalkan Karier Cemerlang & Pesan Misterius

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:08

Harga Minyak Masih Tinggi Dipicu Gejolak Hubungan AS-Iran

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:59

Prabowo Terus Pantau Pemulihan Bencana Sumatera, 5.500 Hunian Warga Telah Dibangun

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:49

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Tertekan ke Rp16.811 per Dolar AS

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:47

Salah Transfer, Bithumb Tak Sengaja Bagikan 620.000 Bitcoin Senilai 40 Miliar Dolar AS

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:33

Menteri Mochamad Irfan Yusuf Kawal Pengalihan Aset Haji dari Kementerian Agama

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:18

Sinyal “Saling Gigit” dan Kecemasan di Pasar Modal

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:09

KPK: Kasus PN Depok Bukti Celah Integritas Peradilan Masih Terbuka

Kamis, 12 Februari 2026 | 08:50

Selengkapnya