Berita

ilustrasi

Dunia

540 Orang Anti Pemerintah Ditangkapi di Malaysia

SABTU, 09 JULI 2011 | 16:54 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

RMOL. Petang ini, kelompok oposisi Malaysia melakukan unjuk rasa menuntut Perdana Menteri Najib Razak segera membuat UU pemilu yang lebih adil dan transparan untuk pemilu nasional tahun depan.

Unjuk rasa yang sejak awal telah ditentang oleh pemerintah dan dianggap melawan hukum ini, juga menyerukan bahwa kelompok koalisi pendukung Najib Rajak telah bertindak tidak fair dalam melanggengkan kekuasaan selama 54 tahun. Menurut kelompok oposisi, tindakan seperti ini telah melahirkan praktek korupsi di tubuh pejabat pemerintahan Malaysia dan diskriminasi sosial terhadap hak warga negara untuk memilih kepala pemerintahnya secara jujur dan adil.

Meski pemerintah Malaysia telah mengerahkan kepolisian untuk mencegah demonstrasi tersebut, pihak oposisi tetap melangsungkan aksi long march menuju Stadion Merdeka untuk sebuah rapat umum. Rapat umum ini telah direncanakan oleh kelompok oposisi sejak beberapa pekan terakhir.


Seperti dilansir BBC (Sabtu 9/7) polisi Malaysia menembakkan gas air mata dan membubarkan lebih dari 20 ribu pengunjuk rasa anti pemerintah dan menahan 540 diantaranya, yang memadati jalan-jalan protokol di Kuala Lumpur. Dua tokoh oposisi, Ambiga Sreevinasan dan Maria Chin Abdullah turut diciduk.

Sehari sebelumnya, polisi telah menutup jalan protokol, stasiun-stasiun kereta api, dan menyiapkan meriam air di dekat stadion yang akan dijadikan lokasi rapat umum.

Akibat bentrokan tersebut, beberapa demonstran berlarian untuk menyelamatkan diri mereka dan membuat sejumlah restoran dan pertokoan memilih untuk tutup.

Kepolisian setempat mengatakan telah menahan 540 orang termasuk diantaranya adalah pimpinan utama kelompok oposisi. Sejumlah laporan internasional mengatakan bahwa aparat kepolisian menyeret paksa para demonstran dan memasukkan mereka ke dalam truk polisi.[ald]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Intervensi Jepang Runtuhkan Dominasi Dolar AS

Jumat, 01 Mei 2026 | 08:15

Saham Big Tech Bergerak Beragam, Alphabet dan Amazon Moncer

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:58

Mojtaba Khamenei: Tak Ada Tempat bagi AS di Teluk Persia

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:36

Harga Emas Melonjak setelah Jepang Intervensi Pasar Mata Uang

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:26

STOXX 600 Capai Level 611,28 Saat Sektor Industri Melesat di Atas 1 Persen

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:06

Diplomasi Raja Charles III terhadap ‘King’ Trump

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:57

Celios: Kita Menolak MBG Dijadikan Alat Politik

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:28

Keluarga, Buruh dan Prabowonomics

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:02

Pembatalan Unjuk Rasa May Day di DPR Dianggap Warganet ‘Sudah Cair’

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:39

Prabowo-Gibran Diselamatkan Beras

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:15

Selengkapnya