Berita

ilustrasi

MAFIA PEMILU

Panja Andi Nurpati Melawan Logika!

SELASA, 05 JULI 2011 | 08:43 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Pembentukan Panitia Kerja di Komisi II DPR RI untuk mengusut praktik mafia pemilihan umum jelas melawan logika.

Sebaiknya, upaya membongkar misteri berbagai praktik kecurangan dalam Pemilu 2009, termasuk pemalsuan dokumen Mahkamah Konstitusi (MK) seperti yang melibatkan mantan anggota Komisisi Pemilihan Umum (KPU) yang kini anggota Partai Demokrat, Andi Nurpati, dilakukan oleh MK.

DPR RI, termasuk Komisi II dan Panja yang dibentuknya, bisa jadi merupakan produk dari praktik mafia pemilu. Itu sebabnya, menurut doses politik Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Syarif Hidayatullah, Teguh Santosa, upaya Panja Komisi II DPR RI itu melawan logika.

“Kasus pemalsuan dokumen MK yang melibatkan Andi Nurpati ini adalah puncak dari gunung es. Jadi harus dilakukan semacam pemurnian DPR sampai kita tahu mana anggota DPR yang asli dan mana yang produk mafia,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa, 5/7).

Praktik mafia suara dalam pemilihan umum, sebut Ketua Komite Indonesia 2014 itu, setidaknya melibatkan tiga pihak, yakni kandidat, partai politik dan KPU dari level daerah sampai nasional. Juga ada kemungkinan keterlibatan aktor keempat, sambungnya. Aktor keempat yang dimaksud Teguh adalah lembaga survei yang dapat dipesan baik oleh kandidat maupun oleh partai politik.

Teguh juga meminta agar DPR RI tidak mengambil keputusan politik apapun sampai proses pemurnian ini selesai dilakukan. Keputusan politik yang diambil oleh DPR yang terkontaminasi adalah keputusan yang bertentangan dengan suara rakyat. Padahal, kata dia lagi, ada pomeo yang mengatakan suara rakyat adalah suara Tuhan. Dia juga meminta agar proses menguak mafia suara dalam Pemilu 2009 ini dilakukan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

“Publik ingin mendapatkan kepastian apakah benar anggota DPR yang ada saat ini merupakan pilihan rakyat, bukan pilihan mafia,” demikian Teguh. [zul]


Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

MNC Siap Lawan Putusan CMNP Lewat Banding hingga PK!

Selasa, 28 April 2026 | 20:09

Menyambut Hardiknas 2026: Mengupas Makna Tema, Filosofi Logo, dan Harapan Pendidikan Indonesia

Selasa, 28 April 2026 | 20:06

RUPS bjb Angkat Susi Pudjiastuti Jadi Komut, Ayi Subarna Dirut

Selasa, 28 April 2026 | 20:02

KAMMI Ingin Perempuan jadi Penggerak Kedaulatan Energi

Selasa, 28 April 2026 | 20:01

Membaca Paslon Pimpinan NU di Muktamar ke-35

Selasa, 28 April 2026 | 19:59

Prabowo Sempatkan Ziarah ke Makam Sang Kakek Margono Djojohadikusumo

Selasa, 28 April 2026 | 19:47

Jamaluddin Jompa Kembali Jabat Rektor Unhas

Selasa, 28 April 2026 | 19:47

Legislator Golkar Desak Dirut KAI Mundur

Selasa, 28 April 2026 | 19:44

RUPST bank bjb, Susi Pudjiastuti Komut Independen

Selasa, 28 April 2026 | 19:42

Polri Unjuk Gigi, Timnas Silat Sapu Emas di Belgia

Selasa, 28 April 2026 | 19:34

Selengkapnya