RMOL. Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 14 Juni lalu dalam Sidang International Labour Organization yang mendapat standing applause ternyata sama sekali tidak dihiraukan oleh negara-negara lain, termasuk Arab Saudi. Justru dari pidato itu menunjukkan bahwa SBY hanya pandai beroterika dan miskin aksi.
Pasalnya, selang beberapa hari setelah dia berpidato, Ruyati binti Satubi dihukum pancung di Arab Saudi pada Sabtu akhir pekan lalu karena dituduh membunuh majikannya. SBY sama sekali tidak ada tindakan untuk mencegah Tenaga Kerja Indonesia asal Bekasi itu agar tidak dihukum mati.
Ketua Umum PP. Pemuda Muhammadiyah Saleh Partaonan Daulay sesaat lalu (Selasa, 21/6), kepada Rakyat Merdeka Online, menilai pidato dan tindakan SBY memiliki jarak yang sangat jauh, bagaikan langit dan bumi. Pidato meninggi sampai ke langit, tetapi realisasinya kandas sampai ke dasar bumi.
"Kalau dari sisi bobot pidato, SBY memang wajar mendapat long standing applause dari para hadirin. Kala itu, SBY mengatakan begini;
My Government is intensifying cooperation with both domestic and foreign recruitment agencies, to ensure their safety of migration and also their protection in the host countries. We have developed arrangements with host countries, to ensure that their rights are respected and protected, including their rights to minimum wage and days-off. We are also upgrading their knowledge and skills that will make them a greater asset to their employers and contribute more to the host economies. Ungkapan seperti ini tentu sangat mengagumkan. Apalagi di tengah komunitas internasional yang mengagungkan konsistensi kata dan laku," beber Saleh.
Namun Saleh menyayangkan, pidato yang bagus dan standing applause yang diterima ternyata sangat jauh dari kenyataan. Alih-alih melindungi hak-hak upah buruh migrant, nyawa mereka pun tidak dapat dilindungi. Dan hanya berselang kurang dari seminggu, pidato SBY itu tenggelam begitu saja sejalan dengan eksekusi mati Ruyati.
"Eksekusi mati Ruyati betul-betul menunjukkan betapa tidak berharganya Indonesia di mata negara lain. Lebih ironis lagi, pemerintah Arab Saudi sama sekali tidak mengirimkan notifikasi terhadap rencana eksekusi tersebut," ungkapnya.
"Kalau sudah begini, tentu kita sangat sedih menjadi warga negara Indonesia. Negeri ini seperti negeri tak bertuan. Negeri ini tidak mampu melindungi para pahlawan (economic heroes)-nya. Kewajiban warga negara untuk patuh pada pemerintah dan seluruh aturannya, sangat tidak sejalan dengan perlindungan yang seharusnya diterima," tambah dosen FISIP UIN Jakarta ini.
[zul]