Berita

syahganda nainggolan/ist

Pemerintah Masih Anggap Pengiriman TKI untuk Kurangi Pengangguran

SELASA, 21 JUNI 2011 | 09:20 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL.  Terdapat kesalahan paradigma pemerintah dalam memandang dan mengirim Tenaga Kerja Indonesia ke luar negeri. Selama ini pemerintah masih menganggap TKI adalah sebagai beban negara yang harus dikirim ke luar negeri. Mestinya, TKI harus dianggap sebagai aset negara, bahkan begitu juga dengan pekerja yang ada di dalam negeri.

"Ini pertama garis besarnya dulu. TKI itu, kalau kita lihat sebagai sumber daya manusia bangsa Indonesia, mereka itu mau di Arab Saudi, mau di Indonesia, mereka itu berjuang untuk Bangsa Indonesia dengan tantangan yang ada di mana-mana. Zaman dulu di Indonesia ada Marsinah. Nggak perlu ke Arab Saudi, dalam negeri juga meninggal karena memperjuangakan haknya," kata Ketua Dewan Direktur Sabang Merauke Circle, Syahganda Nainggolan, kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Selasa, 21/6).

Karena TKI, baik yang ada di dalam negeri terlebih di luar negeri, berjuang untuk bangsa Indonesia, makanya pemerintah harus serius dalam melindunginya. Dia melihat, dalam kasus kematian Ruyati, pemerintah masih memandangnya sebagai beban. Yaitu, daripada menganggur di dalam negeri, lebih baik dikirim ke luar negeri.


"Cara pandang inilah yang membuat kita tidak serius dalam mengurus TKI di luar negeri. Berbeda dengan Filipina, India dan China dalam memperlakukan rakyat mereka di berbagai negara. Mereka (TKI) itu aset yang sangat berharga untuk memajukan Indonesia, karena mereka itu adalah pekerja keras. Mereka hidup di luar negeri untuk bekerja bukan untuk jalan-jalan, umroh atau yang lain-lain," bebernya.

Karena itulah dia melihat, Indonesia harus mengadopsi konsep China Overseas. Dalam konsep ini, China beranggapan, di manapun rakyatnya berada, tetap dipandang sebagai aset. Makanya, orang China yang ada di berbagai negara akan memberikan konstribusi kepada negara asalnya. Dengan konsep itu, China serius dalam melindungi warganya di negara mana pun.

"Kalau aset, kita merasa kalau mereka hilang, bangsa Indonesia guyang gito loh. Jadi bukan nangis setelah kematian. Jadi kita takut kalau mereka itu hilang, karena mereka itu sumber kemajuan Bangsa Indonesia," tandasnya. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

UPDATE

MNC Siap Lawan Putusan CMNP Lewat Banding hingga PK!

Selasa, 28 April 2026 | 20:09

Menyambut Hardiknas 2026: Mengupas Makna Tema, Filosofi Logo, dan Harapan Pendidikan Indonesia

Selasa, 28 April 2026 | 20:06

RUPS bjb Angkat Susi Pudjiastuti Jadi Komut, Ayi Subarna Dirut

Selasa, 28 April 2026 | 20:02

KAMMI Ingin Perempuan jadi Penggerak Kedaulatan Energi

Selasa, 28 April 2026 | 20:01

Membaca Paslon Pimpinan NU di Muktamar ke-35

Selasa, 28 April 2026 | 19:59

Prabowo Sempatkan Ziarah ke Makam Sang Kakek Margono Djojohadikusumo

Selasa, 28 April 2026 | 19:47

Jamaluddin Jompa Kembali Jabat Rektor Unhas

Selasa, 28 April 2026 | 19:47

Legislator Golkar Desak Dirut KAI Mundur

Selasa, 28 April 2026 | 19:44

RUPST bank bjb, Susi Pudjiastuti Komut Independen

Selasa, 28 April 2026 | 19:42

Polri Unjuk Gigi, Timnas Silat Sapu Emas di Belgia

Selasa, 28 April 2026 | 19:34

Selengkapnya