RMOL. Perwakilan RI memberikan perhatian yang sangat besar terhadap diaspora Indonesia di Belanda. Ditambahkan pula bahwa sejak reformasi di Indonesia, pelayanan warga telah menjadi salah satu prioritas utama Pemerintah RI, yang tentunya meliputi pula diaspora Indonesia di luar negeri.
Demikian disampaikan oleh Kuasa Usaha ad interim Perwakilan RI di Den Haag, Umar Hadi, dalam kesempatan diskusi berjudul "The Dynamics of Indonesian Diaspora in the Netherlands" di ruang Nusantara, KBRI Den Haag, Kamis (16/6). Salah satu tujuan diskusi tersebut adalah untuk memahami dan membina komunikasi yang lebih baik lagi dengan diaspora Indonesia yang jumlahnya cukup besar di Belanda. KBRI Den Haag berkeinginan untuk menjadi pintu penghubung antara diaspora Indonesia dengan kampung halamannya.
Hadir sebagai narasumber utama dalam diskusi tersebut adalah Dr. Elias Rinsampessy, Ketua Asosiasi Intelektual Maluku di Belanda sekaligus Ketua Yayasan Muhabbat yang kegiatannya berfokus pada upaya pembangunan sosial-ekonomi komunitas Maluku di Belanda. Dia menyampaikan presentasi dengan topik "The dynamic change of the culture of the Moluccan community in the Dutch Multicultural Society".
Dalam kata pengantarnya selaku moderator diskusi, Lasro Simbolon (Minister Counsellor Politik) menyatakan bahwa Rinsampessy sengaja diundang sebagai narasumber mengenai dinamika sosial budaya komunitas Maluku di Belanda. Dia dianggap tepat, tidak saja selaku pakar dalam bidang antropologi budaya, tapi karena secara nyata sejak awal 1970-an telah memilih untuk berkarya dalam pemberdayaan komunitas Maluku di Belanda melalui Yayasan Mahabat. Rinsampessy bahkan mengaku berani mengambil garis aktivisme di bidang pemberdayaan sosial budaya dan ekonomi, yang saat itu dianggap keluar dari arus utama aktivisme komunitas Maluku di Belanda, yang pada tahun 1960-an dan 1979-an masih sarat dengan aktivisme politik di bawah pengaruh RMS.
Menurut Rinsampessy, yang juga merupakan dosen pada Universitas Leeuwarden, diaspora Maluku di Belanda telah berkembang selama lima generasi dan saat ini jumlahnya mencapai lebih dari 50.000 orang. Meskipun terdapat perbedaan latar belakang historis dan budaya di antara masing-masing generasi, identitas etnis masih melekat pada komunitas Maluku.
Ia menilai bahwa perlu terus dibangun konektivitas atau keterikatan antara komunitas Maluku di Belanda dengan masyarakat Maluku di Indonesia, terutama melalui insturmen sosial kebudayaan. Menurutnya, kalangan generasi ke-3 dan ke-4 komunitas Maluku memiliki pemikiran yang lebih terbuka dengan potensi sosial-ekonomi dan budaya yang sangat besar namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Meskipun sebagai bagian dari
Dutch Society, generasi muda komunitas Maluku cenderung lebih individualis dan lebih independen dibanding generasi pertama dan kedua. Namun
sense of identity serta kerinduan untuk berbuat sesuatu yang positif di Indonesia, khususnya Maluku sebagai "kampung halaman" masih cukup kuat. Ia meyatakan bahwa semangat dan kerinduan tersebut perlu terus didukung dan didampingi, termasuk oleh KBRI.
Dr Rinsampessy juga menyatakan, berbagai kegiatan, forum diskusi dan prakarsa sosial budaya tiap-tiap komunitas Maluku dan komunitas Indonesia secara umum perlu terus dilakukan di Belanda. Ia menyatakan bahwa pengadaan Pasar Malam Indonesia di Den Haag oleh KBRI merupakan salah satu cara yang baik.
Diskusi yang diikuti oleh sejumlah pakar antropologi sosial,
community development, tokoh-tokoh diaspora Indonesia lintas etnis di Belanda, perwakilan LSM diaspora, dan jajaran KBRI Den Haag juga telah memberikan berbagai masukan yang berharga dalam membangun kapasitas diaspora Indonesia di Belanda sekaligus mengeksplorasi kegiatan yang pas menyalurkan kerinduan dan kepedulian ke Tanah Air.
Tampak adanya kesamaan pandangan di antara seluruh peserta diskusi bahwa saat ini merupakan momentum yang tepat untuk membangun kontak di antara komunitas diaspora. Melalui kontak dan komunikasi yang baik, dapat dihasilkan suatu pandangan yang sama untuk dikembangkan menjadi kegiatan yang konkrit dan bermanfaat bagi seluruh pihak.
Secara terpisah Minister Counsellor Laro Simbolon kepada
Rakyat Merdeka Online menyatakan bahwa kegiatan ini, selain ditujukan membangun solidaritas dan kebersamaan antara diaspora Indonesia lintas etnis di Belanda, juga sebagai sarana melakukan
reach-out kepada komunitas Maluku, khususnya dari kalangan intelektual dan independen, di luar kalangan komunitas yang selama ini sudah menjadi bagian dari
traditional friends of Indonesia atau bahkan mengidentifikasi diri sebagai bagian dari Indonesia
Menutup diskusi tersebut, Umar Hadi menegaskan bahwa diskusi kali ini hanya merupakan langkah awal dalam upaya membangun komunikasi dan jaringan diaspora Indonesia di Belanda dan diharapkan memberikan energi positif bagi upaya-upaya terkait di masa mendatang. Untuk itu, komunitas diaspora juga diundang untuk berpartisipasi.
[ald]