Berita

sby/ist

Kemelut Bangsa Hanya Bisa Diselesaikan Pemimpin yang Berani

SELASA, 07 JUNI 2011 | 10:52 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Gejolak isu nasional belakangan ini membuat gundah gulana publik. Proses demokrasi yang dibangun pasca reformasi 1998,  menuju demokrasi kebangsaan yang kuat, terus diterpa kerikil tajam sehingga esensi demokrasi dalam berbangsa dan bernegara sulit terealisasi. Permasalahan-permasalahan terus dicari dan dibedah oleh para pengamat politik, akademisi, aktivis partai politik bahkan hingga supir angkot sekalipun.

Tak hanya itu, beragam masalah yang menciderai demokrasi pun ditemukan. Apalagi jika masalah besarnya, kalau bukan kasus korupsi, kolusi dan nepotisme yang hingga kini tidak sama sekali hilang setelah gerakan demokrasi mampu menjatuhkan rezim diktator Soeharto.

"Kesalahan sejarah 98,  kita mudah memaafkan dosa besar para pemimpin dan partai yang hidup di zaman orde baru, bahkan melibatkan mereka pada pemilu 1999. Negara kita seharusnya lebih maju, ketimbang negara lain," kata mantan aktivis '98 Wanto Sugito pagi ini (Selasa, 7/6).


"Toh kita tidak maju di segala bidang, kecuali makin tumbuh pesatnya KKN yang memiskinkan sebuah bangsa. Mencuatnya isu konspirasi sejumlah partai politik dalam mengecak dana APBN untuk saling berbagi dinilai banyak pihak bukan isapan jempol belaka. Jika itu benar, maka usia bangsa ini tak lebih dari berdirinya kerajaan Majapahit," sambung Ketua DPN Relawan Perjuangan Demokrasi ini.

Sekjen Ikatan Alumni Mahasiswa UIN Jakarta ini pun menggugah publik. Dia mempertanyakan, apakah kita hanya bisa diam melihat sebuah bangsa yang sedang sakit, bahkan menuju kronis; diamkah kita melihat isu korupsi besar yang tak pernah tertuntaskan, seperti kasus korupsi mantan Presiden Soeharto dan kroni, BLBI, Bank Century, Gayus, dan yang sekarang sedang ramai yakni kasus suap Kemenpora yang diduuga melibatkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat selaku partai bekuasa, Muhammad Nazaruddin.

"Tentu belum ada yang mampu menjawab. Karena jawabannya pun pasti berat, dan sangat berat karena individualistik rakyat sudah kental dan kuat. Yang pasti, jalan keluar krisis bangsa hanya soal keberanian pemimpin saat ini. Sementara sebelum menemukan pemimpin yang berani, yang bisa kita lakukan, adalah mengontrol diri sendiri sambil menikmati suguhan sandiwara isu para bandit penguasa," tandas pria yang akrab disapa Klutuck ini miris. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

UPDATE

MNC Siap Lawan Putusan CMNP Lewat Banding hingga PK!

Selasa, 28 April 2026 | 20:09

Menyambut Hardiknas 2026: Mengupas Makna Tema, Filosofi Logo, dan Harapan Pendidikan Indonesia

Selasa, 28 April 2026 | 20:06

RUPS bjb Angkat Susi Pudjiastuti Jadi Komut, Ayi Subarna Dirut

Selasa, 28 April 2026 | 20:02

KAMMI Ingin Perempuan jadi Penggerak Kedaulatan Energi

Selasa, 28 April 2026 | 20:01

Membaca Paslon Pimpinan NU di Muktamar ke-35

Selasa, 28 April 2026 | 19:59

Prabowo Sempatkan Ziarah ke Makam Sang Kakek Margono Djojohadikusumo

Selasa, 28 April 2026 | 19:47

Jamaluddin Jompa Kembali Jabat Rektor Unhas

Selasa, 28 April 2026 | 19:47

Legislator Golkar Desak Dirut KAI Mundur

Selasa, 28 April 2026 | 19:44

RUPST bank bjb, Susi Pudjiastuti Komut Independen

Selasa, 28 April 2026 | 19:42

Polri Unjuk Gigi, Timnas Silat Sapu Emas di Belgia

Selasa, 28 April 2026 | 19:34

Selengkapnya