Berita

presiden sby/ist

Inikah Kartu Soeharto yang Sedang Dimainkan SBY?

JUMAT, 03 JUNI 2011 | 16:23 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

DPR sudah sepatutnya memanggil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan meminta penjelasan tentang apa yang sebetulnya terjadi berkaitan dengan pesan pendek berisi sejumlah isu yang beredar sejak akhir pekan lalu.

Hari Senin lalu (30/5) Presiden SBY menggelar jumpa pers mendadak di Lanud Halim Perdanakusumah untuk menjelaskan bahwa pesan pendek yang dikirim dari Singapura oleh orang yang mengaku sebagai mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, adalah fitnah belaka.

Padahal, sebut aktivis Gerakan Indonesia Bangkit (GIB), Adhie Massardi, sampai saat jumpa pers itu digelar, isi maupun siapa yang mengirimkan pesan pendek itu masih belum jelas.

“Ini berarti, SBY telah menggunakan legalitasnya sebagai presiden untuk membela hal-hal yang tidak jelas. Itulah sebabnya DPR harus memanggil SBY untuk menanyakan aa yang sebetulnya terjadi,” ujar Adhie Massardi kepada Rakyat Merdeka Online, Jumat siang (3/6).

Kejadian ini, menurut hemat Adhie, perlu diwaspadai karena bukan tidak mungkin dapat menjadi pondasi bagi kelahiran otoritarianisme gaya baru di Indonesia.

“Ini hampir mirip dengan dua pidato Soeharto yang disampaikan tanpa teks di depan Rapat Pimpunan ABRI pada 27 Maret1980, juga pada ulang tahun Kopashanda tanggal16 April 1980. Dua kejadian inilah yang mendorong kelahiran “Pernyataan Keprihatiman” 50 warganegara pada 5 Mei 1980," ujar dia lagi.

Dengan demikian, publik kini melihat SBY tengah memainkan kartu yang pernah dimainkan Soeharto di masa lalu.

“Kalau dulu Soeharto mengejawahntahkan dirinya sebagai Pancasila, Negara dan Pembangunan, sekarang SBY menjadikan dirinya sebagai personifikasi demokrasi. Sehingga siapa yang mengeritik dirinya dianggap sebagai kelompok anti-demokrasi,” demikian Adhie. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

UPDATE

MNC Siap Lawan Putusan CMNP Lewat Banding hingga PK!

Selasa, 28 April 2026 | 20:09

Menyambut Hardiknas 2026: Mengupas Makna Tema, Filosofi Logo, dan Harapan Pendidikan Indonesia

Selasa, 28 April 2026 | 20:06

RUPS bjb Angkat Susi Pudjiastuti Jadi Komut, Ayi Subarna Dirut

Selasa, 28 April 2026 | 20:02

KAMMI Ingin Perempuan jadi Penggerak Kedaulatan Energi

Selasa, 28 April 2026 | 20:01

Membaca Paslon Pimpinan NU di Muktamar ke-35

Selasa, 28 April 2026 | 19:59

Prabowo Sempatkan Ziarah ke Makam Sang Kakek Margono Djojohadikusumo

Selasa, 28 April 2026 | 19:47

Jamaluddin Jompa Kembali Jabat Rektor Unhas

Selasa, 28 April 2026 | 19:47

Legislator Golkar Desak Dirut KAI Mundur

Selasa, 28 April 2026 | 19:44

RUPST bank bjb, Susi Pudjiastuti Komut Independen

Selasa, 28 April 2026 | 19:42

Polri Unjuk Gigi, Timnas Silat Sapu Emas di Belgia

Selasa, 28 April 2026 | 19:34

Selengkapnya