Denmark berada di puncak, sebagai negara yang memiliki pendapatan terbesar dari produksi kincir angin dan teknologi bersih lainnya. Sementara Amerika Serikat berkembang pesat dalam sektor teknologi bersih, namun tidak bisa menandingi kecepatan pertumbuhan Cina.
Menurut laporan yang dirilis World Wildlife Fund for Nature, produksi teknologi hijau Cina telah tumbuh dengan luar biasa, sekitar 77 persen setahun.
"Cina telah membuat, pada tingkat politik, keputusan penting dan sadar untuk menangkap pasar (teknologi hijau) ini dan untuk mengembangkan pasar ini dengan sangat agresif," kata Donald Pols, ekonom yang menyertai WWF, seperti yang dilansir dari The Associated Press (Minggu, 8/5).
"AS terus berkembang secara substansial, sehingga tampaknya kebijakan Obama berhasil. Namun AS tidak dapat membandingkan dengan Cina," kata Pols
"Ketika Anda berbicara dengan orang Cina, perubahan iklim bukanlah isu ideologis. Bagi mereka, perubahan iklim adalah fakta kehidupan. Sementara kita memperdebatkan perubahan iklim dan transisi menuju ekonomi karbon rendah, perdebatan itu sudah dilewatkan di China, " tandas Pols.
Laporan tersebut disiapkan dan disusun oleh
Roland Berger Strategy Consultants, sebuah perusahaan global yang berbasis di Jerman. Mereka mengumpulkan data tentang 38 negara dari berbagai asosiasi energi, laporan bank dan broker, presentasi investor, Badan Energi Internasional dan skor dari sumber-sumber lain. Mereka mengukur pendapatan sebuah negara dari produksi energi terbarukan seperti biofuel, turbin angin dan peralatan termal, dan teknologi efisiensi energi seperti pencahayaan rendah energi dan insulasi.
Setelah Denmark dan Cina, negara-negara lain di lima besar produsen teknologi bersih, dalam hal persentase dari GDP, adalah Jerman, Brasil dan Lithuania.
[yan]