Berita

eva sundari/ist

LEMBAGA ASING DI DPR

Sekjen DPR Aneh, Ngaku Loyal tapi Abaikan DPR

JUMAT, 15 APRIL 2011 | 07:58 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Keberadaan United Nations Development Programme (UNDP) di gedung Senayan dipertanyakan anggota DPR. Pasalnya, banyak kerja sama dengan lembaga asing, termasuk dengan badan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa itu tidak diketahui pimpinan DPR.

Anggota Komisi III DPR, Eva Kusuma Sundari menyatakan, keberadaan UNDP di parlemen merupakan realisasi kontrak pemerintah, salah satu tujuannya untuk memperkuat lembaga DPR. Tapi, katanya, yang membuat kerja sama itu adalah bagian Sekretariat Jenderal DPR, bukan pimpinan.

"Ini yang aneh itu. Sekjen itu bekerja sama dengan UNDP dengan alasan Sekjen bagian dari pemerintah. Waktu dipermasalahkan, seperti itu jawaban mereka,"  kata Eva kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Jumat, 15/4).


"Sekjen ini aneh. Kalau ditanya loyal kamu ke siapa, mereka bilang kita kan pegawai DPR. Jadi kita loyal ke DPR. Tapi kalau bikin kerja sama, ngakunya dengan pemerintah," tandasnya.

Eva menekankan, otoritas pembuat kesepakatan dengan lembaga luar negeri adalah pimpinan DPR. Karena lembaga ini adalah lembaga parlemen. Karena itu, Sekjen tidak boleh membuat kesepakatan dengan luar negeri tanpa sepengetahuan DPR.

"Itu jadi harus dicek dengan siapa kerja samanya. Kalau di Parlemen ya, tanda tangan harus dengan DPR. Sekjen itu bikin kerja sama macam-macam kadang DPR  itu tidak tahu," tegasnya.

Soal keberadaan UNDP di parlemen, dia mengatakan baru mengetahuinya dua tahun lalu saat dia diundang untuk acara launching laporan UNDP tentang DPR. Selama ini, akuinya, dia tidak merasakan hasil kerja UNDP.

Kalau tidak merasakan keberadaan UNDP, apakah Anda memang sepakat lembaga ini 'diusir' dari DPR?

"Aku lihat programmya dulu, apakah diperlukan oleh DPR atau tidak. Wong aku tahu tiba-tiba banyak buku yang diterbitkan UNDP hal-hal yang sifatnya keparlemenan. Tapi yang aku tahu, buku itu jadi, lalu launching, itu tok," jawabnya. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Roy Suryo: Gibran Copy Paste Jokowi Bahkan Lebih Parah

Kamis, 30 April 2026 | 01:58

Kompolnas dan Agenda Reformasi Aparat Sipil Bersenjata

Kamis, 30 April 2026 | 01:45

Polemik Dugaan Suap Pendirian SPPG di Sulbar Dilaporkan ke Polisi

Kamis, 30 April 2026 | 01:18

HNW: Bila Anggota OKI Bersatu bisa Kendalikan Urat Nadi Perdagangan Dunia

Kamis, 30 April 2026 | 00:55

Menhan: Prajurit jadi Motor Pembangunan Selain Jaga Kedaulatan

Kamis, 30 April 2026 | 00:37

Satgas OJK Blokir 951 Pinjol Ilegal Ungkap Deretan Modus Penipuan Keuangan

Kamis, 30 April 2026 | 00:19

Investasi Bodong dan Bias Sistem Keuangan

Rabu, 29 April 2026 | 23:50

Pelaporan SPT 2025 Masih di Bawah Target Jelang Deadline

Rabu, 29 April 2026 | 23:36

Komunikasi Publik Menteri PPPA Absurd dan Tidak Selesaikan Persoalan!

Rabu, 29 April 2026 | 23:09

Pemanfaatan Listrik Harus Maksimal Dongkrak Kemandirian Desa

Rabu, 29 April 2026 | 22:43

Selengkapnya