Berita

Terima Juga Kutu Loncat, PAN Tak Perlu Mencak-mencak Dede Yusuf Pindah ke Demokrat

KAMIS, 14 APRIL 2011 | 08:40 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Fenomena politisi pindah partai sebenarnya bukan barang baru di Indonesia. Hal tersebut, sudah terjadi sejak tahun 1955. Ada politisi pindah partai dari Nahdlatul Ulama ke Partai Nasional Indonesia, atau sebaliknya dan seterusnya.

"Jadi itu sudah biasa, bukan barang baru di Indonesia," kata pengamat politik Iberamsyah kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Kamis, 14/4).

Politisi pindah partai, menurutnya, tidak dibenarkan secara etika. Karena politisi itu sama saja mengkhianati partai yang pernah mendukungnya untuk menjabat posisi politik tertentu, seperti kepala daerah.


"Itu bajing loncat namanya," tegas Gurubesar Ilmu Politik Universitas Indonesia ini.

Menurutnya, ada beberapa alasan kenapa para kepala daerah itu pindah partai. Di antaranya, kepala daerah itu melihat kesempatan yang lebih besar untuk mempertahankan kekuasaan pada pemilihan berikutnya dengan bergabung dengan partai yang baru ia singgahi itu.

"Bisa juga kalau dia tidak pindah partai, dukungan ke dia akan terbatas. Jadi agak sulit dia maju dengan partai itu," katanya.

Meski begitu, dia menerangkan, partai yang menampung para kutu loncat itu tidak hanya Partai Demokrat. Meski partai penguasa itu yang paling banyak menampung. Karena ada perjumbuhan kepentingan di Partai Demokrat. Di satu sisi Partai Demokrat minim kader, di sisi lain, para kepala daerah merasa kesempatan untuk maju kembali dengan menggunakan kendaraan Partai Demokrat lebih besar kemungkinannya untuk terjadi.

"Tapi itu bukan hanya Demokrat. PAN juga menerima kutu loncat. Ketua Walikota Banjarmasin, Muhidin pindah dari Partai Bintang Reformasi ke PAN. PAN juga kan terima barang jadi. Kalau mereka tidak terima dengan kepindahan Dede Yusuf (ke Demokrat), itu biasa. Partai ini kan seperti pedagang juga. Kalau untung diam, kalau rugi baru ribut," tandasnya.[zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Roy Suryo: Gibran Copy Paste Jokowi Bahkan Lebih Parah

Kamis, 30 April 2026 | 01:58

Kompolnas dan Agenda Reformasi Aparat Sipil Bersenjata

Kamis, 30 April 2026 | 01:45

Polemik Dugaan Suap Pendirian SPPG di Sulbar Dilaporkan ke Polisi

Kamis, 30 April 2026 | 01:18

HNW: Bila Anggota OKI Bersatu bisa Kendalikan Urat Nadi Perdagangan Dunia

Kamis, 30 April 2026 | 00:55

Menhan: Prajurit jadi Motor Pembangunan Selain Jaga Kedaulatan

Kamis, 30 April 2026 | 00:37

Satgas OJK Blokir 951 Pinjol Ilegal Ungkap Deretan Modus Penipuan Keuangan

Kamis, 30 April 2026 | 00:19

Investasi Bodong dan Bias Sistem Keuangan

Rabu, 29 April 2026 | 23:50

Pelaporan SPT 2025 Masih di Bawah Target Jelang Deadline

Rabu, 29 April 2026 | 23:36

Komunikasi Publik Menteri PPPA Absurd dan Tidak Selesaikan Persoalan!

Rabu, 29 April 2026 | 23:09

Pemanfaatan Listrik Harus Maksimal Dongkrak Kemandirian Desa

Rabu, 29 April 2026 | 22:43

Selengkapnya