RMOL. Cap partai pragmatis dialamatkan kepada Partai Demokrat setelah partai berkuasa ini menggaet sejumlah kepala daerah. Terakhir, Partai Demokrat menarik Gubernur Nusa Tenggara Barat, yang juga politisi PBB, Zainul Majdi. Tapi Partai Demokrat menepis.
"Jangan dibilang pragmatis. Partai Demokrat dari awal dibangun sebagai partai terbuka yang berbasis nasionalisme religius. Siapa saja boleh mendaftar, tidak dibatasi. Karena terbuka, baik dari pejabat politik, dari tokoh agama, apapun namanya eks-eks silakan masuk," kata Ketua DPP Partai Demokrat, Sutan Bhatoegana, kepada Rakyat Merdeka Online (Rabu, 6/4).
Sutan mengakui, semua partai, termasuk Partai Demokrat, berusaha untuk menggaet tokoh-tokoh di daerah untuk menjadi bagian dari partainya. Karena itu dimaksudkan sebagai kesinambungan partai.
"Pastilah, itu strategi partai. Itu hal biasa," tegasnya.
Terkait dengan Partai Demokrat, dia menjelaskan, kepala-kepala daerah itu diberi peluangan untuk bergabung setelah sebelumnya ditanyakan, apakah bersedia membangun kesejahteraan rakyat atau tidak. Partai Demokrat memiliki kepentingan itu agar tujuan menyejahterakan rakyat secara nasional menjadi lebih mudah.
"Tapi ada yang mau dan ada yang tidak tertarik untuk bergabung. Yang jelas karena ada
link and match-lah," ujarnya.
Terkait beberapa kepala daerah yang bergabung dengan partainya, Sutan memastikan rata-rata mereka bukan orang partai. Tapi, tokoh yang didukung partai besar pada saat pemilihan gubernur pada periode pertama. Misalnya, Gubernur Sulawesi Utara, SH Sarundajang.
"Nah tapi di periode kedua, dia merapat ke Demokrat, ya lalu kami tangkap peluang itu," tandasnya.
Anggota Komisi VII DPR ini tidak menampik ada sebagian kepala daerah bergabung dengan partainya agar bisa melanjutkan sebagai kepala daerah untuk periode kedua. Tapi, dia menepis, bila disebut kepala daerah itu bergabung dengan partainya agar dibackingi, bila terjerat hukum.
"Kalau untuk membackingi, itu salah. Contoh, Gubernur Bengkulu, Agusrin (Najamuddin). Dia jadi tersangka. Ini masalah hukum, apa bisa Demokrat ikut-ikutan. Mana ada itu," tegasnya.
[zul]