Berita

Ilustrasi/Ist

Infrastruktur Buruk dan Birokrat Korup Penghambat Industri Hilir Berkembang

SELASA, 29 MARET 2011 | 16:47 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Infrastruktur buruk dan birokrasi pemerintah yang dipenuhi inefisiensi serta cenderung korup, menjadi barriers (hambatan) utama sulitnya berkembang industri hilir, seperti komoditas kelapa sawit.

Persoalan ini yang membuat pengusaha lebih memilih untuk mengekspor komoditas seperti crude palm oil (kelapa sawit mentah) ketimbang harus mengembangkan industri hilir berbahan baku CPO.

"Toh, menjual komoditas lebih efisien dan profitable dibandingkan membangun industri hilir kelapa sawit karena harus berhadapan dengan berbagai permasalahan inefisiensi di pasar lokal. Karena masalah infrastruktur dan birokrasi yang korup," kata Dewan Pakar DPP  Asosiasi Petani Kelapa Sawit Seluruh Indonesia (Apkasindo), Dahnil Anzar Simanjuntak kepada Rakyat Merdeka Online (Selasa, 29/3).  


Ekonom Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten ini menilai kebijakan BK alias bea keluar progresif yang ditetapkan pemerintah dalam rangka menjaga supply minyak goreng dalam negeri dan untuk mengembangkan industri hilir CPO dalam negeri adalah keliru. Justru, sebutnya, dengan kebijakan BK progresif tersebut akan menyebabkan penurunan kinerja dan produktivitas industri hulu CPO yang pada akhirnya merugikan petani.

"Karena pengusaha dan pabrik kelapa sawit menahan dan menurunkan jumlah produksinya karena BK progresif menyebabkan harga CPO untuk ekspor tidak kompetitif lagi dan menjual di pasar domestik sangat terbatas. Sehingga secara otomatis pabrik kelapa sawit mengurangi membeli tandan buah segar sawit petani. Dan dampak buruk pasti dialami petani dan perkebunan rakyat di seluruh Indonesia," tandasnya. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Roy Suryo: Gibran Copy Paste Jokowi Bahkan Lebih Parah

Kamis, 30 April 2026 | 01:58

Kompolnas dan Agenda Reformasi Aparat Sipil Bersenjata

Kamis, 30 April 2026 | 01:45

Polemik Dugaan Suap Pendirian SPPG di Sulbar Dilaporkan ke Polisi

Kamis, 30 April 2026 | 01:18

HNW: Bila Anggota OKI Bersatu bisa Kendalikan Urat Nadi Perdagangan Dunia

Kamis, 30 April 2026 | 00:55

Menhan: Prajurit jadi Motor Pembangunan Selain Jaga Kedaulatan

Kamis, 30 April 2026 | 00:37

Satgas OJK Blokir 951 Pinjol Ilegal Ungkap Deretan Modus Penipuan Keuangan

Kamis, 30 April 2026 | 00:19

Investasi Bodong dan Bias Sistem Keuangan

Rabu, 29 April 2026 | 23:50

Pelaporan SPT 2025 Masih di Bawah Target Jelang Deadline

Rabu, 29 April 2026 | 23:36

Komunikasi Publik Menteri PPPA Absurd dan Tidak Selesaikan Persoalan!

Rabu, 29 April 2026 | 23:09

Pemanfaatan Listrik Harus Maksimal Dongkrak Kemandirian Desa

Rabu, 29 April 2026 | 22:43

Selengkapnya