Berita

ilustrasi, Hypermarket

Bisnis

Digencet Hypermarket, Pasar Tradisional Jadi Pasar Kaki 5

Kepedulian Menteri Perdagangan & Pemda Dipertanyakan
MINGGU, 27 MARET 2011 | 01:12 WIB

RMOL.Kementerian Perdagangan dan Pemerintah Daerah terkesan membiarkan merajalelanya pertumbuhan hypermarket dan minimarket. Persaingan kedua ritel ini telah menggerus pelanggan pasar tradisional di Jabodetabek dan daerah lain.

Membaiknya perekonomian Indonesia tahun lalu, telah mem­bawa sentimen positif bagi per­tumbuhan bisnis ritel dalam ne­geri. Demi memanfaatkan mo­­mentum yang kondusif ini, ba­nyak perusahaan yang bergu­mul di bisnis ritel kini gencar mem­buka gerai baru.

Tengok saja langkah PT Ma­tahari Putra Prima Tbk yang be­rencana membuka lebih dari 17 gerai Hypermart ta­hun ini. Lo­kasinya tersebar di Jabodetabek dan luar Jawa, khu­susnya di wila­yah bagian timur Indonesia. Di antaranya di Ambon dan Ban­jarmasin.

Hal yang sama dilakukan Car­re­four, pesaing uta­ma Hypermart. Menurut Public Affairs Senior Ma­nager PT Carrefour Indonesia Sa­tria Ha­mid Ahamdi, pe­nam­­bah­­an gerai bakal dilakukan se­ti­ap tahun. Kabarnya, peritel yang sebagian sahamnya dimiliki peng­usaha kakap Chairul Tan­jung ini akan menambah 20 ge­rai baru.

“Untuk informasi pe­nambahan gerai, omzet dan per­tumbuhan saya tidak bisa meng­informasi­kannya karena jadi ke­bijakan perusahaan,” ujar Satria.

Presiden Direktur Carrefour Indonesia Shafie Shamsuddin mengatakan, potensi pasar ritel di Indonesia sangat besar. Bah­kan, Indonesia meru­pakan pasar Car­refour terbesar ke­dua di Asia se­telah Jepang.

Sebagai penguasa terbesar pasar hypermarket, Car­refour te­lah me­miliki 81 gerai di 27 kota. Selain di Jabodetabek, gerai-gerai itu banyak tersebar di luar Pulau Jawa. Di antaranya di Bali, Me­dan, Palembang,dan Makassar.

Sedangkan PT Hero Super­market Tbk, pemilik jaringan Giant, seperti dikutip media in­ternet, juga tak ketinggalan da­lam ekspansi.

Direktur Hero Sugi­yanto Wi­bawa mengatakan, Hero akan menambah beberapa gerai di Ja­bodetabek, Pulau Jawa, Su­ma­tera dan Kalimantan. Namun dia mera­hasiakan jumlah gerai yang akan ditambah tahun ini.

“Kami akan tambah gerai se­banyak-banyaknya di seluruh dae­rah ka­rena potensinya bagus,” katanya. Gerai Giant berjenis hypermarket kini mencapai 35 gerai. Sedangkan Giant Super­market 120 gerai.

Asosiasi Pengusaha Ritel In­donesia (Aprindo) mempro­yek­si, pertumbuhan gerai mo­dern tahun ini meningkat 25 persen dari rea­lisasi jumlah tahun 2009 seba­nyak 13.000 gerai.

Ketua Umum Aprindo Benja­min J. Mailool mengatakan, pe­ne­trasi ritel mo­dern di tanah air masih terbilang rendah kalau dibanding dengan negara lain di kawasan Asia Pa­sifik. Angka rasio peritel mo­dern saat ini dari 1 juta pen­du­duk di­layani 50 peritel.

“Sementara di Singapura dila­yani lebih dari 150 peritel. Malah di Taiwan mencapai 400 peritel. Nah, Indonesia paling rendah di kawasan Asia Pasifik. Paling tinggi Taiwan. Ke depan, itu akan jadi keseimbangan sen­diri,” kata­nya seraya menga­ta­kan, angka rasio ideal secara na­sional bisa mencapai 150 gerai. Dia kembali men­contohkan, rasio itu sudah terjadi di Thai­land dan Malaysia.

Terkait persaingan ritel, Exe­cutive Director Retail Measure­ment Services Nielsen Teguh Yu­nanto mengatakan, berdasar­kan hasil survei Nielsen, pasar mo­dern baik hypermarket, mi­ni­market dan pasar tradi­sional akan bersaing dengan ketat mempere­but­­kan pasar nasional. Diper­kirakan pasar nasional tahun ini mencapai Rp 113-115 triliun.

Hal inilah yang dicemaskan Asosiasi Pedangan Pasar Seluruh Indonesia (APPSI). Sekjen APPSI Ngadiran menilai, ba­nyak­nya minimarket dan hyper­maket di Indonesia terutama di Jakarta, membuat pedagang tra­disional susah tumbuh. Kini, banyak pedagang tradisional berubah menjadi pedagang kaki lima dari sebelumnya sebagai pedagang yang menempati kios-kios di pasar tradisional.

“Itu fakta, omzet mereka (pe­da­gang tradisional) juga turun. Da­lam tiga tahun dari 2008 sampai 2010, omzetnya turun 30 persen dan berdasarkan data AC Nielsen pertumbuhan pasar tra­di­sional minus delapan persen. Itu me­mang betul seperti yang kita ra­sakan,” ujar Ngadiran kepada Rakyat Merdeka.


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya