persatuan sepakbola seluruh indonesia (pssi)
RMOL. Keputusan Komite PeÂmiÂliÂhan mencoret George Toisutta dari calon Ketua Umum PSSI dengÂan alasan tidak aktif di seÂpaÂkÂbola selama lima tahun meÂruÂpaÂkan keputusan keliru, semÂbaÂrangan dan tendensius. KeÂnaÂpa? Karena keputusan itu berÂtenÂtangan dengan bukti yang ada.
KSAD Jenderal George ToiÂsutÂta adalah seorang jenderal binÂtang empat yang telah meÂleÂwati berbagai tempaan proses seÂleksi, baik selama di kesatuan mauÂpun di bidang-bidang lainÂnya. Ia bukan orang semÂbaÂrangÂan, yang maju ke medan perang dengan ‘syarat pas-pasan’ keÂmuÂdian kalah dari orang yang perÂnah dipenjara kasus korupsi.
Toisutta juga bukanlah orang baru di dunia sepakbola. Ia sudah lebih dari lima tahun aktif di orÂgaÂnisasi sepakbola. Cukup baÂnyak bukti yang menguatkan George Toisutta sebagai figur yang menaruh perhatian besar paÂda aktivitas sepakbola. BahÂkan bukti terbaru ia lampirkan menÂjadi salah satu materi dalam proses bandingnya.
Dalam bukti itu jelas diÂseÂbutÂkan bahwa PS Bara Siliwangi (diÂmana Toisutta menjadi pengÂuÂrusnya) merupakan anggota PengÂcab PSSI Kota Bandung. SuÂrat rekomendasi Pengcab PSSI Kabupaten Bandung NoÂmor 16/KU PSSI-Kab.Bdg/II-2-11 tanggal 4 Februari 2011 juga membenarkan bahwa George Toisutta adalah Wakil Ketua Umum PS Bandung Raya sejak 2005. PS Bandung Raya tak lain anggota biasa PSSI dan anggota PSSI Jabar di zona Divisi III.
Analisa saya, tidak ada alasan loÂgis yang membuat Toisutta dan Arifin gagal dalam verifikasi seÂbagai calon ketua umum PSSI. KoÂmite harus berterus terang keÂpaÂda publik mengenai alasan yang membuat keduanya gagal. Jika tak mau, Menpora sebagai peÂnanggungjawab olahraga InÂdoÂnesia harus turun tangan langÂsung, yakni mengaudit Komite PeÂmiÂlihan. Walau FIFA melaÂrang pemerintah campur tangan daÂlam Âfederasi sepakbola, naÂmun Menpora tetap harus mengÂaudit Komite Pemilihan demi seÂpakbola Indonesia. Lebih baik menÂdapat sanksi dari FIFA tetapi PSSI dan persepakbolaan IndoÂnesia membaik.
Menpora harusnya tahu bahwa ada upaya dari PSSI untuk mengÂÂganjal calon ketua umum dari luar induk organisasi olahÂraÂga sepakbola di tanah air. TuÂjuannya untuk melanggengkan keÂkuasaan dari pengurus yang suÂdah ada (status quo).
Seharusnya semua calon yang maÂsuk dibiarkan bergabung dan nanÂtinya peserta kongres yang akan menentukan sendiri siapa yang layak sebagai calon ketua umum periode empat tahun menÂdatang. Berikan kesempatan keÂpaÂda peserta untuk memilih seÂsuai dengan hati nuraninya. BuÂkan seperti sekarang ini, mau maÂju sudah diganjal. Itu jelas perÂbuatan tak terpuji.
Majunya keempat calon tenÂtuÂnya dengan niat untuk memÂperÂbaiki citra sepakbola. MaÂsyaÂrakat Indonesia tidak mengerti dengan statuta dari PSSI, yang mereka inginkan adalah prestasi yang lebih bagus dari apa yang diÂcapai selama ini. Jadi berÂtaÂrunglah secara fairplay di arena kongres. Jangan belum apa-apa sudah dipolitisir dan direkayasa atau mau didagangkan.
Dunia sepakbola Indonesia adaÂlah aset nasional. Magnet seÂpaÂkbola bisa mempersatukan atau mengharubirukan jutaan penggemarnya. Oleh karena itu, ia harus dikawal oleh pemimpin yang benar-benar memiliki inÂtegritas dan ketegasan. Tak bisa dipimpin oleh para petualang yang bermental dagang.
AsÂkanÂdi Yusra, Ketua Umum Aliansi Nasionalis Religius; pemerhati seÂpakbola nasional