Berita

Abdurrahman Wahid/ist

Soal Pembangkangan Polri, SBY Diingatkan Tragedi di Masa Gus Dur

MINGGU, 20 FEBRUARI 2011 | 14:23 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diingatkan untuk mencermati kelambanan institusi Kepolisian Republik (Polri) Indonesia dalam menyikapi berbagai perintah Presiden, akhir-akhir ini.

Polri dinilai ragu-ragu dalam menjalankan 12 butir instruksi Presiden tentang tindak lanjut pengusutan kasus mafia pajak yang melibatkan Gayus Tambunan, serta Instruksi Presiden mengenai penindakan atas ormas anarkis yang membahayakan keamanan masyarakat.

Pengamat dan tokoh purnawirawan kepolisian Kombes (purn) Alfons Loemau menyatakan pembiaran atas situasi ini dapat memicu pembangkangan Kepolisian terhadap Presiden dan perpecahan internal Polri, seperti yang pernah terjadi di masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid.


Pada saat itu, kepemimpinan Polri dibawah Jend. Pol. Surojo Bimantoro melakukan penolakan terhadap Keputusan Presiden RI Nomor 49/Polri/2001 tentang Pemberhentian Bimantoro dari jabatan Kapolri dan penunjukan Jend. Pol. Chairuddin Ismail sebagai penggantinya.

"Polri seharusnya lebih tanggap dalam menyikapi Intruksi presiden. Pengabaian perintah Presiden akan membahayakan wibawa negara hukum Indonesia, seperti yang pernah terjadi pada kepolisian di era Gus Dur," kata Alfons di Jakarta hari ini (Minggu, 20/2).

Pembangkangan pimpinan Polri terhadap perintah Gus Dur pada waktu itu, mengakibatkan perpecahan internal di kalangan kepolisian. Alfons dan tujuh perwira menengah Polri berpikiran progresif membuat gerakan untuk mengamankan perintah Presiden. Namun, mereka terkena tindakan disiplin dari pimpinan Polri. Lebih lanjut, pimpinan Polri juga menggalang dukungan dari politisi DPR, hingga akhirnya Gus Dur pun kehilangan dukungan politik dan dijatuhkan di tengah jalan. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Industri Sawit Terintegrasi Disiapkan PTPN di Sei Mangkei

Kamis, 30 April 2026 | 22:15

Gubernur NTB Tolak Cabut Laporan Aktivis Kemanusiaan

Kamis, 30 April 2026 | 21:41

APBN Tekor Rp240,1 T, Kemenkeu Tiadakan Konferensi Pers

Kamis, 30 April 2026 | 21:37

DPR Soroti Peran Strategis Proyek Danantara bagi Industri dan Lapangan Kerja

Kamis, 30 April 2026 | 20:41

Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, Asal Usul dan Peran Ki Hadjar Dewantara

Kamis, 30 April 2026 | 20:21

Mitigasi Dampak Perubahan Iklim, PLN-UNOPS Dorong Utilisasi EBT Nasional

Kamis, 30 April 2026 | 20:16

Apa Itu Sinkhole yang Muncul Kebun Warga Gunungkidul Yogyakarta?

Kamis, 30 April 2026 | 19:46

Sejarah Outsourcing dari Zaman Kolonial hingga Jadi Tuntutan di Hari Buruh 2026

Kamis, 30 April 2026 | 19:32

Kebijakan Energi RI Terjebak Pola Pikir Jangka Pendek Menahun

Kamis, 30 April 2026 | 19:27

Komisaris PT Loco Montrado Dicecar KPK soal Pengembalian Kerugian Negara Rp100 Miliar

Kamis, 30 April 2026 | 19:25

Selengkapnya