persatuan sepakbola seluruh indonesia (pssi)
RMOL. Pekan lalu, juru bicara Komite PeÂmilihan atau tim verifikasi KeÂtua Umum PSSI Gusti Randa menÂjanjikan bakal ada kejutan dari hasil kerja timnya.
Benar. Kemarin sore, kejutan itu terbukti. Dua bakal calon keÂtua umum PSSI, Jenderal George Toisutta dan pengusaha Arifin PaÂniÂgoro gagal lolos tim veriÂfiÂkaÂsi untuk menjadi ketua umum PSSI. Yang menarik, Nurdin HaÂlid, yang dihujat banyak pihak dan dinilai gagal melahirkan presÂtasi, lolos. Ketua umum PSSI selama dua periode itu meÂlengÂgang bersama pengusaha Nirwan Bakrie menuju Kongres PSSI di Bali 26 Maret menÂdatang.
Apakah ini mengejutkan? BaÂgi sebagian orang mungkin ya. Tapi sebagian menilainya biasa saÂja. Apalagi, beberapa hari seÂbelumnya, selain janji bakal ada yang mengejutkan tadi, tim feÂrivikasi sudah memagari terlebih daÂhulu bahwa mereka bekerja independen.
Nurdin dan beberapa pengurus PSSI, pekan lalu, di Bangkok, Thailand juga sudah bertemu dan meÂlaporkan kepada Presiden FeÂderasi Sepakbola Asia (AFC) MoÂhammed Bin Hammam meÂngeÂnai rencana Kongres. Saat itu, PSSI juga memenuhi keÂingiÂnan Presiden AFC untuk meÂminÂdaÂhÂkan lokasi Kongres dari PuÂlau Bintan, Kepulauan Riau ke Bali. PSSI juga mengatakan, AFC dan Mohammed Bin HamÂmam mendukung langkah PSSI.
Langkah ini, bisa dinilai bahwa AFC mendukung PSSI. KaÂlau pun ada masalah, miÂsalÂnya protes dari kubu Toisutta mauÂpun Arifin Panigoro, toh AFC sudah mendukung. Mau apa lagi.
Di tataran ini, PSSI dan NurÂdin sah-sah saja. Lobi-lobi ke AFC dan FIFA juga tak diÂsaÂlahÂkan. Tapi, apakah Nurdin tak mau mendengarkan suara-suaÂra rakÂyat yang mengÂinginÂkannya mundur demi seÂpakÂbola nasioÂnal. Apakah belum cuÂkup dua periode yang sudah dijalaninya seÂlama ini. Apakah Nurdin meÂrasa sudah memÂbeÂrikan prestasi terÂhadap sepakbola nasional?
Sepakbola nasional ke depan buÂtuh figur yang tak meÂnangÂgung beban masa lalu. Juga tak direcoki oleh tuntutan mundur yang terus bergema. Sepakbola naÂsional tidak hanya butuh figur yang mengerti sepakbola, tapi juga ketulusan dan kecintaan terÂhadap tanah air.
Kita sudah bosan mendengar keÂcurigaan dan dugaan-dugaan; skor atau hasil pertandingan suÂdah diatur, beberapa pengurus di daerah menyetor sejumlah dana ke pengurus PSSI, wasit yang bisa dibeli dan tidak transÂpaÂranÂnya manajemen dan keuangan PSSI. Kita juga sudah bosan meÂlihat pertandingan sepakbola yang tiba-tiba berubah menjadi perÂtandingan tinju. Kita sudah jeÂnuh mendengar kecurigaan dan citra negatif itu.
Kita juga malu, ketika meÂnyakÂsikan pertandingan interÂnaÂsioÂnal Timnas Indonesia di SeÂnaÂyan, suara-suara dan spanduk yang meminta Nurdin mundur bergema di seantero stadion. PaÂra pemain mendengar, bahkan Presiden SBY pun tahu. Inikah waÂjah sepakbola kita, wajah yang tercoreng oleh pertikaian dan pertarungan kepentingan, miÂnus prestasi?
Beberapa tahun ini sepakbola InÂdonesia telah melalui masa-masa konflik berkepanjangan. Cukup. Cukup sudah. Kita mengÂinginkan pertandingan berÂmutu dan prestasi memÂbangÂgaÂkan di lapangan hijau, bukan perÂtandingan di luar lapangan, tinju dan adu jotos, atau kasus hukum di meja hijau.
Ketika Nurdin dipenjara, deÂsaÂkan agar dia mundur terus berÂgema. Tapi Nurdin berdalih maÂsih bisa menjalankan tugas seÂbaÂgai ketua umum PSSI dari balik jeÂruÂji besi. Mungkin dia bisa, taÂpi apakah itu etis?
Itu kejadian beberapa tahun laÂlu. Sekarang, ketika suara-suara yang meminta Nurdin mundur, masih etiskah nasib sepakbola naÂsional diserahkan kepada NurÂdin? Kita yakin Nurdin sangat mencintai sepakbola dan telah melakukan beberapa upaya dan proÂses untuk sepakbola naÂsional. Dia juga politisi andal. Tapi maÂsih etiskah dan panÂtasÂkah olahÂraga paÂling digemari ini diseÂrahÂkan ke Nurdin?
Nurdin pasti punya alasan. RakÂyat pun punya hak. Tapi, rakÂyat hanya berhak mendambakan prestasi sepakbola, tak punya hak memilih ketua umum. KaÂreÂna, yang punya hak hanya seÂkitar seratusan orang. Kepada orang-orang itulah nasib seÂpakÂbola Indonesia dipertaruhkan. ReÂlakah kita? Terkadang, presÂtasi ditentukan oleh rela dan tidak rela.
[RM]