Berita

Michael Tene

Wawancara

Michael Tene: Dari 2.400 WNI Yang Dipulangkan Hanya 13 Orang Keluarga Staf KBRI

MINGGU, 13 FEBRUARI 2011 | 00:53 WIB

RMOL.Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Michael Tene menga­takan, tidak benar keluarga staf KBRI yang lebih banyak dipulangkan dari Mesir ke Tanah Air.

“Perlu saya sampaikan, sampai kloter keenam, WNI  di Mesir su­dah dipulangkan sebanyak 2.400 orang. Dari jumlah itu hanya 13 orang yang merupakan keluarga staf KBRI,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka, saat ditemui di ruang kerjanya, kantor Kemenlu Jakarta, kemarin.

Seperti diberitakan sebelumnya, Ketua Fraksi PKB Marwan Ja’far mengatakan kebanyakan dari warga negara Indonesia yang dipulangkan dari Mesir adalah keluarga staf  KBRI, bukan kelompok tenaga kerja yang seharusnya mendapat prioritas.

“Semua WNI di Mesir harus dipulangkan, jangan hanya keluarga staf kedutaan dan pelajar saja. Ada banyak tenaga kerja kita di sana yang belum bisa pulang sama sekali,” ujar Marwan.

Michael Tene selanjutnya mengatakan, pihaknya memang memprioritaskan anak-anak dan perempuan yang duluan dipulangkan ke Indonesia.

“WNI yang tercatat di KBRI berkisar 6.149 orang. Sebanyak 4.297 adalah pelajar atau mahasiswa. Semuanya akan di­pulang­kan, tapi kalau mereka tidak mau karena merasa aman di tempat tiggalnya, kita tidak memaksa,’’ paparnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Terdiri dari siapa saja ke-13 orang yang merupakan ke­luarga staf KBRI itu?

Kalau nggak salah, 6 perem­puan dan 7 anak-anak dan balita.

Memang berapa jumlah staf KBRI di Mesir?

17 orang pejabat diplomatik, dan 30 staf lokal, statusnya bukan pejabat diplomatik, yakni WNI yang direkrut di Mesir. Jadi, kalau dikatakan adalah mayoritas ke­luarga KBRI yang dipulangkan, itu  nggak mungkin kalau dilihat dari jumlahnya yang sekian itu.

Bahkan sebagian dari mereka belum dipulangkan, karena harus memberikan perlindungan pada WNI di sana. Sekaligus juga meng­atur proses evakuasi yang akan kembali ke Indonesia.

Kenapa bukan TKI yang di­pu­langkan duluan?

Saya kira dari awal prioritas sudah jelas ya. Kami sudah sam­paikan berkali-kali, baik oleh Ke­tua Satgas maupun dari KBRI,  yang diprioritaskan dalam pe­mulangan ini adalah perem­puan dan anak-anak. Termasuk mereka yang rentan.

Kalau Anda perhatikan keda­tangan proses evakuasi tahap ke­dua sampai keenam, baru seka­rang ini mulai ada prianya.

Bagaimana dengan TKI di sana?

Memang prioritas itu juga bu­kan berdasarkan pekerjaan me­reka. Apa mahasiswa, pelajar atau TKI. Karena yang kita prioritas­kan adalah anak-anak, perem­puan, orang yang rentan. Yang jelas semua WNI yang ingin dipulang­kan sudah merasa tidak nyaman lagi di Mesir de­ngan berbagai per­timbangan. Apakah karena kon­disi keama­nan, dan jumlah logis­tik yang kurang.

Karena proses evakuasi ini si­fat­nya sukarela. Maka ada berba­gai alasan mengapa mereka me­milih tinggal di sana. Kalau se­ba­gian pelajar,  sekolahnya sudah mulai. Bahkan sebagian pelajar yang sudah dievakuasi saja, sudah mikir-mikir akan kembali ke Mesir. Jadi, silakan bagi me­reka yang ingin kembali akan dibantu oleh kedutaan kita.

Pemerintah dinilai belum me­miliki road map mengenai per­lindungan WNI yang berada di luar negeri, bagaimana me­nu­rut Anda?

Kategori WNI yang harus di­pulangkan itu bermacam-macam. Seperti di Mesir, mereka dipu­lang­kan karena situasi darurat di negara itu. Memang kedutaan kita di berbagai negara mempu­nyai rencana darurat apabila situasi di tempat memerlukan tin­dakan yang darurat. Kalau situasi memburuk akan dievakuasi.

Bagaimana kalau WNI di Mesir  bermasalah terkait kasus hukum, bagaimna cara evakua­sinya?

Tunggu dulu, itu kan tidak harus dievakuasi. Semua itu ter­gantung pada proses kasusnya. Apakah kasusnya sudah selesai, sehingga dia bisa pulang. Tapi kadang-kadang TKI diperlukan di sana sebagai saksi, sehingga proses hukum bisa terus ber­lan­jut. Itu kalau TKI men­jadi korban.

Sebaliknya ka­lau WNI dituduh sebagai pelaku kejahatan maka dia tidak bisa meninggalkan kota tersebut. Karena proses hukum harus berjalan.

Ada penilaian bahwa KBRI tidak terlalu bisa berbuat ter­hadap TKI yang bermsasalah di luar negeri, bagaimana me­nu­rut Anda?

KBRI fokus utamanya adalah membantu TKI yang mempunyai masalah di luar negeri. Namun upaya kita membantu harus se­suai dengan peraturan-peraturan yang berlaku di negara se­tem­pat.

Kamis sudah memberikan ban­tuan hukum kepada TKI terkait kontrak kerja, gaji tidak dibayar, pekerjaannya tidak sesuai, dan majikan melanggar kontrak. Kalau tidak bisa melakukan se­cara damai akan dibawa ke proses hukum oleh KBRI. Biasanya yang diprioritaskan adalah kasus-kasus yang berat. Saya kira KBRI di luar negeri akan berupaya se­maksimal mungkin.

Tapi kenapa banyak TKI te­tap saja teraniaya di luar ne­geri?

Kita berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan pe­layanan terbaik bagi WNI. Tapi kita menyadari ada peluang untuk selalu meningkatkan upaya-upaya tersebut.

Jadi, kita terbuka terhadap ma­sukan dan kritikan untuk per­baikan. Dan kita punya komitmen kuat untuk selalu meningkatkan dan memperbaiki kualitas pela­yanan kita pada WNI  

Oh ya, sudah sejauh mana pro­ses evakuasi WNI di Mesir?

Proses evakuasi terus berjalan. Dan pagi ini (Jumat, 11/2) sudah tiba rombongan untuk tahap keenam sekitar 400 orang. Untuk tahap berikutnya terus dilakukan evakuasi.

Adakah hambatan dalam pro­ses evakuasi?

Sebenarnya kita patut bersyu­kur bahwa proses yang sudah berjalan pada tahap keenam re­latif lancar. Memang ada situasi di lapangan yang tidak mudah untuk membawa WNI dari satu tempat ke tempat lain, dan di­bawa ke bandara. Itu merupakan tantangan tersendiri.

Memang situasi terakhir di Me­sir seperti apa?

Kalau kita mengikuti pem­beri­taan yang ada, Mesir saat ini ada dinamikanya. Sewaktu-waktu situasinya agak membaik, yakni toko-toko sudah mulai buka. Tapi kemudian ada perkembangan lain, yakni demonstrasinya me­ningkat. Tapi terakhir ini yang dikhawatirkan adalah kalau ada gelombang demonstrasi dalam skala besar lagi. Makanya kita dari pemerintah Indonesia mau­pun kedutaan kita di Mesir terus mengingatkan agar WNI  bersiap-siap dievakuasi. Tapi kalau me­milih tetap tinggal di Mesir, tentu kita harapkan agar selalu was­pada dan berhati-hati. [RM]


Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Mengejar Halusinasi 2045: Mengapa Ekonomi Hanya Bisa Tegak di Atas Literasi

Senin, 27 April 2026 | 14:15

Penerjemah Bible Dibakar Hidup-hidup pada Zaman Renaisans Eropa

Senin, 27 April 2026 | 14:07

Bitcoin Melaju Mendekati 80.000 Dolar AS

Senin, 27 April 2026 | 14:06

Luar Biasa Kiandra, Start ke-17, Finis Pertama

Senin, 27 April 2026 | 13:59

Digitalisasi dan Green Dentistry, Layanan Kesehatan Gigi yang Minim Limbah

Senin, 27 April 2026 | 13:46

Usul KPK Berpotensi Paksa Capres Harus Kader Parpol

Senin, 27 April 2026 | 13:43

Pemda Didorong Lakukan Creative Financing

Senin, 27 April 2026 | 13:36

Citra Negatif Bahlil di Dalam Negeri Pengaruhi Negosiasi Energi Presiden?

Senin, 27 April 2026 | 13:35

Qodari Respons Isu Dilantik Jadi Kepala Bakom: Itu Hak Prerogatif Presiden

Senin, 27 April 2026 | 13:30

Selengkapnya