Berita

ilustrasi, rumah rusak akibat amukan massa di kawasan Cikeusik

Wawancara

WAWANCARA

Mayjen (Purn) Ronny Lihawa: Kepolisian Segera Dipanggil, Apakah Terjadi Pembiaran

RABU, 09 FEBRUARI 2011 | 06:49 WIB


Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) segera mengusut kasus Cikeusik yang mengakibatkan tiga jamaah Ahmadiyah meninggal dunia.
“Kepolisian segera dipanggil untuk diminta penjelasan tentang kasus itu. Kenapa sampai ada korban jiwa. Apakah mereka tidak mengantisipasi hal tersebut. Apakah terjadi pembiaran. Ini yang akan kita tanyakan,’’ tegas anggota Kompolnas, Mayjen (Purn) Ronny Lihawa, kepada Rakyat Merdeka, di Kantor Kompolnas, Jakarta, kemarin.

Sebelumnya, Kepolisian me­nyatakan, telah mengantisipasi tragedi di Cikeusik, Kabupaten Pan­deglang, Provinsi Banten, yang menewaskan tiga orang anggota Jamaah Ahmadiyah. Polisi memastikan telah berupaya keras mencegah terjadinya insi­den tersebut.  


Berikut kutipan selengkapnya:

Presiden SBY mau mem­per­kuat kewenangan Kompolnas untuk memeriksa anggota Polri yang diduga melakukan pe­lang­garan, apakah Anda optimistis bisa melakukan itu?
Ya, optimistis. Penguatan pe­ran itu berdampak positif terha­dap perbaikan kinerja aparat ke­polisian. Semakin banyak yang mengawasi akan semakin baik. Sebab, jika hanya diawasi inter­nal kepolisian, masyarakat sudah sangat ragu dan selalu curiga. Terlebih, masalah jenderal yang diduga terlibat dalam kasus Gayus Tambunan dan rekening gendut belum juga tuntas.

Apakah gagasan penguatan peran Kompolnas itu merupa­kan ide presiden atau desakan Kompolnas?
Awalnya, rencana revitalisasi (peningkatan kinerja) Kompolnas merupakan desakan dari kami. Sebab, selama ini kami merasa kewenangan yang diberikan kepada kami tidak cukup untuk melaksanakan fungsi penga­wasan secara maksimal. Presiden mendengar aspirasi itu, kemudian menginstruksikan merevitalisasi Perpres tersebut.

Kapan revisi Peraturan Pre­siden (Perpres) Nomor 17 Ta­hun 2005 tentang Kompolnas itu diselesaikan?
Saat ini, masih dalam pemba­hasan. Mudah-mudahan akhir Februari ini revisi Perpres itu sudah selesai.

Selain masalah kewenangan, apa lagi yang direvisi?
Berdasarkan instruksi presi­den, Kompolnas akan sepenuh­nya terlepas dari institusi Polri. Karena itu, kantor dan angga­ran­nya akan dipisahkan dari kepo­lisian.

Kapan pindah kantor?
Paling lambat bulan depan. Kami sudah membicarakan ma­salah ini dengan Setneg. Mereka sudah menyetujui dan mencari­kan gedung yang dapat kami tempati. Kami yakin, dengan anggaran dan kantor sendiri, Kompolnas akan bekerja lebih maksimal.

Apakah kepolisian menolak dengan penambahan kewena­ngan Kompolnas itu?
Tidak. Sejauh ini, pimpinan Polri justru berterima kasih atas penambahan kewenangan yang akan diberikan kepada Kompol­nas. Soalnya, saat ini pengawasan internal kerap mengalami ken­dala.

Tapi kalau ada yang khawatir, ya tidak usah terlalu dipikirkan. Kan Kapolri sudah menegaskan akan mendukung wacana terse­but. Masa’ anak buahnya berani membangkang dan mengatur ren­cana untuk membatalkannya.

Setelah mendapat ‘tamba­han tenaga’, apa yang akan dilaku­kan Kompolnas untuk membe­nahi Kepolisian?
Kan Perpres-nya belum turun. Jadi kami tidak dapat menduga-duga. Yang pasti, kami akan mem­­prioritaskan berbagai per­soalan yang selama ini menjadi sorotan publik. Contohnya, du­gaan keter­libatan sejumlah Jen­deral dalam kasus Gayus Tam­bunan, rekening gendut sejumlah petinggi Polri dan persoalan Ahmadiyah di Cikeusik, Pan­deglang.  

Apakah Kompolnas juga membutuhkan penguatan pa­yung hukum?
Dalam jangka panjang Kom­polnas perlu Undang-undang. Namun, dalam kondisi mendesak seperti sekarang, harus mendahu­lukan revisi Perpres-nya. Sebab, pembuatan Undang-undang ten­tang Kompolnas membutuh­kan waktu hingga beberapa tahun.

Kenapa butuh undang-un­dang?
Di era demokrasi ini, masyara­kat semakin cerdas dan kritis, se­hingga, transparansi dan penga­wasan terhadap institusi publik mutlak diperlukan. Semua kekua­saan besar harus diawasi agar tidak terjadi penyalahgunaan kewenangan.   [RM]

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

UPDATE

11 Juta PBI BPJS Dihapus, Strategi Politik?

Jumat, 13 Februari 2026 | 06:04

Warga Jateng Tunda Pembayaran Pajak Kendaraan

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:34

Kepemimpinan Bobby Nasution di Sumut Gagal

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:19

Boikot Kurma Israel

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:09

7 Dugaan Kekerasan Berbasis Gender Ditemukan di Lokasi Pengungsian Aceh

Jumat, 13 Februari 2026 | 04:33

Pengolahan Sampah RDF Dibangun di Paser

Jumat, 13 Februari 2026 | 04:03

Begal Perampas Handphone Remaja di Palembang Didor Kakinya

Jumat, 13 Februari 2026 | 04:00

Jokowi Terus Kena Bullying Tanpa Henti

Jumat, 13 Februari 2026 | 03:34

4 Faktor Jokowi Ngotot Prabowo-Gibran Dua Periode

Jumat, 13 Februari 2026 | 03:10

Rano Gandeng Pemkab Cianjur Perkuat Ketahanan Pangan Jakarta

Jumat, 13 Februari 2026 | 03:09

Selengkapnya