Berita

Warga Mesir berkerumun dan berdoa di depan tank Abrams yang dipaksa parkir di Lapangan Tahrir, Kairo.

Dunia

Dunia Rame-rame Larikan Warganya Keluar Mesir

SELASA, 01 FEBRUARI 2011 | 01:21 WIB

RMOL.Aparat keamanan Mesir sudah tidak bisa menghalau “kegilaan” demonstran. Bahkan Presiden Hosni Mubarak tidak bisa menjamin keselamatan warga AS, yang notabene sekutu paling dekat Mesir.

Tak kenal lelah, demonstran anti pemerintah Mesir memasuki hari ketujuh unjuk rasa besar-besaran. Imbauan pemerintah, lewat Kementerian Dalam Negeri sama se­kali diacuhkan. Ha­dangan tank dan artileri berat lainnya dianggap angin lalu. Demonstran pilih ber­darah-darah ketimbang mengalah.

Karena itu, situasi nasional Me­sir kacau balau dan berbagai ne­gara di belahan dunia terma­suk Indonesia, mulai Minggu (30/1), aktif mem­peri­ngatkan serta me­ngevakuasi war­ganya untuk lari keluar Mesir.

Menteri Luar Negeri Marty Na­talegawa mengatakan, Pe­me­rintah Indonesia segera meng­aktifkan rencana evakuasi ter­ha­dap sekitar 6.000 warga negara Indonesia yang berada di Kairo. Namun, Na­talegawa belum dapat me­rinci bagaimana skenario eva­kuasi akan dilaksanakan.

“Sekarang kami menghadap Presiden, meminta instruksi be­liau mengenai langkah-lang­kah yang akan kita lakukan sesuai dengan skenario, planning, ren­cana yang selama ini kita susun,” kata Na­talegawa sebelum mengi­kuti rapat kabinet terbatas bi­dang po­litik, hukum, dan keamanan di Kantor Presiden, kemarin.

Dia menambahkan, saat ini Kedutaan Besar Republik Indo­ne­sia (KBRI) di Kairo terus men­jaga komunikasi dengan WNI. Selain menginformasikan nomor telepon yang dapat dihu­bungi, KBRI juga membuka 20 posko dan tiga tempat penam­pungan yang tersebar di Kairo. “KBRI ju­ga mem­berikan pasokan sem­ba­ko bagi WNI,” ujar Na­talegawa.

Langkah yang sama juga di­ambil AS. “Warga AS di Mesir ha­rus mempertimbangkan untuk segera meninggalkan (negara itu),” kata Asisten Menteri Luar Negeri AS Janice Jacobs.

Sedangkan Turki, India, Yuna­ni, Kanada dan Arab Saudi beren­cana atau sudah mengirimkan pesawat untuk memulangkan warga mereka. Inggris, Prancis, China, Australia, Argentina dan negara-negara Skandinavia mem­­peringatkan warganya un­tuk ti­dak melakukan perjala­nan ke Me­sir, tetapi belum punya ren­­cana untuk melakukan eva­kuasi dalam skala penuh.

Irak mengatakan akan ber­gantung pada penerbangan-pe­ner­bangan khusus dalam meng­evakuasi warganya dari Mesir. Sementara Turki mengatakan, pihaknya mengirim lima pesawat untuk mengevakuasi sekitar 750 warganya yang terdaftar. Arab Saudi mengatakan akan mengatur 33 penerbangan untuk membawa pulang warganya. India mengirim pesawat penumpang ke Kairo untuk mengevakuasi war­ganya.

Pemerintah Azerbaijan menga­takan, salah seorang staf kedu­taannya tewas akibat luka tembak dalam kerusuhan. Pe­merintah Kanada, lewat Menlu Lawrence Cannon, mere­ko­men­dasikan ke­pada warganya agar me­ning­galkan negara itu.

Inggris me­nya­rankan warga­nya untuk me­ning­galkan kota-ko­ta yang bergolak di Mesir. Kan­tor Departemen Luar Negeri Ing­gris mengatakan, sekitar 30.000 warga Inggris ber­ada di Mesir.

Prancis juga memperingatkan warganya agar tidak melakukan perjalanan yang tidak penting ke Mesir. Tapi Paris belum mem­­pertimbangkan untuk me­ng­eva­kuasi sekitar 10.000 war­ganya di negeri itu. “Kami me­miliki ka­pasitas untuk bereaksi jika perlu,” kata Jubir Kemen­terian Luar Negeri Prancis Bernard Valero.

Sementara Australia me­naik­kan status travel warning men­jadi “jangan melakukan perjalanan” ke Mesir. Perdana Menteri Julia Gillard mengatakan, ada 870 war­ga Australia yang terdaftar di Mesir, tapi angka yang sebe­nar­nya mungkin berjumlah ribuan.

Kedutaan Besar China di Kairo dalam situs web-nya telah menge­luarkan peringatan ‘merah” ke­pada warga China untuk tidak me­lakukan perjalanan ke Mesir. China juga mendesak warganya di Mesir untuk berhati-hati dan tidak keluar rumah kecuali jika diperlukan. [RM]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

Eggi Sudjana, Kau yang Memulai Kau yang Lari

Senin, 29 Desember 2025 | 01:10

Dugaan Korupsi Tambang Nikel di Sultra Mulai Tercium Kejagung

Minggu, 28 Desember 2025 | 00:54

Kasus Suap Proyek di Bekasi: Kedekatan Sarjan dengan Wapres Gibran Perlu Diusut KPK

Senin, 29 Desember 2025 | 08:40

KPK Panggil Beni Saputra Markus di Kejari Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 13:09

UPDATE

Kemenhut Sebut Kejagung Hanya Mencocokkan Data, Bukan Penggeledahan

Kamis, 08 Januari 2026 | 00:04

Strategi Maritim Mutlak Diperlukan Hadapi Ketidakpastian di 2026

Rabu, 07 Januari 2026 | 23:49

Komplotan Curanmor Nekat Tembak Warga Usai Dipergoki

Rabu, 07 Januari 2026 | 23:30

Pemuda Katolik Ajak Umat Bangun Kebaikan untuk Dunia dan Indonesia

Rabu, 07 Januari 2026 | 23:01

PDIP Tolak Pilkada Lewat DPRD karena Tak Mau Tinggalkan Rakyat

Rabu, 07 Januari 2026 | 22:39

Penjelasan Wakil Ketua DPRD MQ Iswara Soal Tunda Bayar Infrastruktur Pemprov Jabar

Rabu, 07 Januari 2026 | 21:56

Kejagung Geledah Kantor Kemenhut terkait Kasus yang Di-SP3 KPK

Rabu, 07 Januari 2026 | 21:39

84 Persen Gen Z Tolak Pilkada Lewat DPRD

Rabu, 07 Januari 2026 | 21:33

Draf Perpres TNI Atasi Terorisme Perlu Dikaji Ulang

Rabu, 07 Januari 2026 | 21:09

Harta Anggota KPU DKI Astri Megatari Tembus Rp7,9 Miliar

Rabu, 07 Januari 2026 | 21:07

Selengkapnya