ilustrasi,Rumah Potong Babi
ilustrasi,Rumah Potong Babi
RMOL.Rumah Potong Hewan (RPH) Babi di Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Bsarat, didesak warga agar dipindahkan ke lokasi lain atau ditutup. Soalnya, RPH ini sama sekali tidak memberikan keuntungan bagi warga di lingkungan tersebut.
Hal ini diungkapkan Ketua RW 04 Kapuk, Rachmat. “LimÂbah yang dibuang juga meÂnimÂbulkan pencemaran lingkuÂngan dan bau tak sedap. Jika banjir, limÂbahnya mencemari lingÂkungan pemuÂkiman warga,†protes Rachmat.
Rachmat menuturkan, sebÂenarÂnya keinginan warga agar RPH ini segera dipindahkan sudah seÂjak lama. Namun samÂpai sekaÂrang belum direaliÂsaÂsikan dan hanya sekadar waÂcana, tanpa ada tindakan PemÂprov DKI Jakarta.
“Sudah 38 taÂhun pemprov tiÂdak bisa mengÂataÂsi limbahnya. Saluran air melimÂpas ke jalan akiÂbat saluran air tak dibersihkan,†cetusnya di Jakarta, kemarin.
Rachmat menilai, pemprov tiÂdak punya keseriusan menjaÂdikan wilayah Kelurahan Kapuk sebaÂgai kawasan bersih yang tertata. Justru hal ini menunjukkan keÂlemahan pemprov.
Menurutnya, lebih efisien jika kebutuhan daging babi untuk warga DKI Jakarta dengan jalan impor atau mendatangkan babi potong dari daerah lain. MemiÂliki RPH tapi tidak bisa meraÂwatnya, dia nilai hanya mengÂhamÂburkan biaya yang besar.
Kawasan RPH ini setidaknya berdiri di lingkungan kawasan berpenghuni lebih dari 5000 keÂpala keluarga (KK), terdiri dari 7 RW, yakni RW 01, 02, 04, 05, 07 dan RW 10 dan Kelurahan KeÂdaung Kali Angke RW 01.
Peternakan babi di kawasan Kapuk sudah ada sejak 1962. Oleh Gubernur Ali SaÂdikin kawaÂsan ini dijadikan lokalisasi RPH dengan luas 125 hektare dari yang direncanakan 250 hektare. Waktu itu, tak kuÂrang dari 82 peÂternak menanamÂkan modalnya berupa 40.000 ekor babi. Masing-masing peterÂnak mengelola peÂternakan di atas lahan 1.500 hingÂga 2000 meter persegi. Babi terÂsebut diperoleh dari Jawa TeÂngah, Jawa Timur, BaÂli, LamÂpung, Sumatera Utara dan Batam.
Pada 1997 peternakan dituÂtup dan kini hanya tinggal RPH, meski kondisinya memprihatinÂkan. Entah mengapa hal ini malah tetap dipertahankan pemÂprov. SeÂlain RPH Babi tidak terurus, PemÂprov DKI Jakarta ternyata gagal dalam rencana pemusatan RPH ayam untuk wilayah kota Jakarta Barat.
Pasalnya, Suku DiÂnas (Sudin) Peternakan dan PerÂikanan yang sudah mendapatÂkan anggaran 2010 sebesar Rp 4 miÂliar untuk pengadaan lahan diÂkembalikan ke kas negara, alias proyek tidak jadi dilaksanakan.
Batalnya proyek pemusatan RPH ayam yang sedianya untuk menampung 15 RPH ayam ilegal, justru tidak meresahkan pengÂusaha ayam potong. Mereka lebih seÂnang memotong ayam di seÂkiÂtar pasar tradisional yang sudah biasa dilakukan bertahun-tahun.
“Kalau semuanya diÂpusatkan di satu lokasi, sangat meÂrepotkan kami karena tempatÂnya kejauhÂan,†ujar Dino, pedaÂgang ayam di Pasar Tambora.
Menurut Kasudin Peternakan dan PerikaÂnan Jakbar Kusdiana, sebenarnya anggaran pengadaan lahan sebeÂsar Rp 4 miliar sudah dipersiapÂkan Pemprov DKI JaÂkarta untuk pengadaan lahan puÂsat RPH ayam. NaÂmun, terÂnyata ada kendala pemÂbebasan lahan tersebut, sehingga dana diÂkemÂbalikan ke kas negara.
Dengan gagalnya proyek terÂsebut, lanjut Kusdiana, kegiatan pemotongan ayam di 18 lokasi maÂsih dilakukan secara liar. Nah, dengan tidak adaÂnya RPH ayam legal yang dibuat pemeÂrintah, pÂemerintah tidak pernah tahu apaÂkah ayam potong yang beredar layak makan atau tidak.
“Tidak ada jaminan bebas penyakit. Pihaknya juga belum tahu sampai kapan rencana proÂyek tersebut ditunda. Karena paÂda anggaran tahun ini tidak ada mengajukan pembebasan laÂhan,†ungkap Kusdiana.
Rencana menempatÂkan lokasi RPH resmi di lahan-lahan aset milik pemerintah di Jakarta Barat, diakui Kusdiana juga susah diÂwujudkan. Lokasi yang dibidik antara lain di Balai Benih Ikan Kalideres seluas lahan 300 meter perÂsegi dan puluhan hekÂtare laÂhan miÂlik Pertamina di wiÂlayah KeluÂrahan Kapuk, CengÂkareng.
Dia mengaku pernah meÂnguÂsulkan RPH Ayam dipusatkan di lahan Pertamina di Kapuk. NaÂmun ditolak Pemda DKI, karena terlalu dekat, ditambah dengan adaÂnya RPH Babi Kapuk. PerÂtimbangannya, dikhawatirkan akan terjadi kontaminasi virus H5N1 dengan H1N1 yang tentu akan menimbulkan masalah yang lebih berat lagi. [RM]
Populer
Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26
Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48
Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06
Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01
Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17
Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37
Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16
UPDATE
Jumat, 02 Januari 2026 | 14:12
Jumat, 02 Januari 2026 | 14:08
Jumat, 02 Januari 2026 | 14:07
Jumat, 02 Januari 2026 | 14:06
Jumat, 02 Januari 2026 | 14:01
Jumat, 02 Januari 2026 | 13:58
Jumat, 02 Januari 2026 | 13:46
Jumat, 02 Januari 2026 | 13:42
Jumat, 02 Januari 2026 | 13:41
Jumat, 02 Januari 2026 | 13:41