Berita

Sukmawati Soekarnoputri

Wawancara

WAWANCARA

Sukmawati Soekarnoputri: Mega Sudah Terlalu Tua jadi Calon Presiden 2014

SENIN, 10 JANUARI 2011 | 06:03 WIB

RMOL. Taufik Kiemas sudah mewanti-wanti agar istrinya yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri untuk tidak mencalonkan diri pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014.

Pernyataan Taufik inipun didukung  Sukmawati Soekarno­putri. Menurut adik Megawati itu, Pilpres 2014 bukan eranya Megawati lagi karena sudah terlalu tua.

“Kalau opini saya sendiri sih, Ibu Mega itu sudah terlalu tua untuk menjadi Presiden lagi. Saya kira sudah kurang menarik lagi jika Ibu Mega kembali mencalonkan diri untuk Pilpres 2014,” kata Sukmawati kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, Jumat (7/1).


Berikut kutipan selengkapnya:

Kenapa Anda bilang kurang me­narik?
Saya kira Ibu Mega itu sudah terlalu berumur ya, saya menilai­nya gitu. Jadi pamor beliau itu kalau saya menilai sudah me­nurun.

Tapi Mega masih kuat jika menilik dari survei Indoba­ro­meter September 2010 ?
Ya silakan saja, karena me­mang massa PDI Perjuangan banyak. Tapi kalau opini saya sendiri, Ibu Mega sudah terlalu tua untuk menjadi Presiden lagi.

Jadi Anda tidak mendukung kalau Mega maju lagi di 2014?
Nggak. Saya tidak mendukung karena saya tidak bisa berkiprah,  kemampuan saya terhalang karena tidak boleh ada nepotis­me. Jadi tidak mungkin saya ber­cikal dengan saudara sendiri. Etikanya justru di situ, saya tidak mendukung saudara sendiri karena terkait dengan nepotisme.

Kapan terakhir Anda ber­temu Mega?
Sudah lama, beberapa bulan yang lalu, ya saat lebaranlah kete­munya.

Dalam pertemuan itu apakah Mega mengatakan tidak akan maju dalam Pilpres 2014?
Ya nggaklah. Kalau dalam per­temuan keluarga, nggak me­nyinggung-nyinggung politik.

Apa saran Anda ke Mega?
Hmmm... Sepertinya tidak mungkin saya memberi saran karena Ibu Mega kan Ketua Umum PDI Perjuangan. Semua ketua umum kan mempunyai hak untuk maju menjadi Capres apa­lagi dari partai gede, pasti kesem­patan itu akan diusahakan karena rakyatnya pasti akan memilih ketua umum-nya. Ya sudah. Siapa yang punya partai besar pasti akan mencoba untuk nyapres. Partai kecil saja juga berani-be­rani memajukan ketua umum-nya untuk nyapres.

Bagaimana Anda melihat fe­nomena ketua umum maju se­bagai Capres?
Saya kira ini bukanlah sebuah fenomena, melainkan suatu kela­ziman yang wajar bahwa ketua umum partai itu mempunyai hak untuk maju menjadi capres.

Secara etika apa pantas mem­bicarakan capres mengingat Pilpres masih jauh?
Ya boleh saja. Politik itu kan dari sekarang memang sudah membicarakan urusan capres-cawapres. Saya kira itu wajar saja mulai kasak-kusuk walaupun penyelenggaraan Pilpres masih jauh.

Apa Anda tertarik untuk ikut Pilpres 2014?
Sekarang kan kita sendiri tahu kalau soal capres-cawapres itu bukan hanya urusan kemampuan dan kapabilitas, tetapi juga penga­laman politik, intelektual, dan juga terkait urusannya dengan duit. Bisa saja yang pintar dalam berpolitik, pengalaman terbangnya sudah lama, tapi tersisih hanya gara-gara duit. Jadi sayang juga karena banyak yang terkecoh jadinya.

Dengan kondisi seperti itu menyulitkan Anda men­jadi Capres?    
Nanti kita lihatlah seiring per­jalanan waktu, dan apakah me­mang Tuhan mem­berikan kesem­patan untuk seorang Sukmawati Soekarnoputri untuk tampil.

Menurut Anda kriteria Ca­pres 2014 seperti apa?
Saya kira yang paling penting tidak pernah cacat hukum. Arti­nya tidak ada track record krimi­nil dan koruptor. Harapan saya sih begitu.

Prediksi Anda siapa yang akan bertarung Pilpres 2014?
Tentu dari partai besar. Yang pasti Aburizal Bakrie, Ibu Mega. Terus kalau Partai Demokrat saya tidak melihat yang lebih matang ya daripada  Anas Urbaningrum. Cuma saya lihat Anas Urbaning­rum belum matang.

Selain itu ada juga Prabowo, Wiranto, Surya Paloh, dan mung­kin Hatta Rajasa.

Tapi banyak yang berharap Pilpres  2014 itu diisi orang muda?
Ya mungkin saja kalau mereka memberanikan diri. Tapi dalam penilaian saya jam terbang dalam berpolitik itu harus cukup.   [RM]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Pelaku Kekerasan Seksual di Gili Trawangan Dibekuk di Bali

Rabu, 29 April 2026 | 16:19

Tak Terlantar Lagi, Keluarga Pasien RSUD Banggai Laut Bisa Pakai Rumah Singgah

Rabu, 29 April 2026 | 16:10

KPK Ungkap Ada yang Ngaku-ngaku Bisa Atur Kasus Bea Cukai

Rabu, 29 April 2026 | 16:09

Update Laka KA di Bekasi Timur: 15 Meninggal, 91 Luka-luka

Rabu, 29 April 2026 | 16:05

Anggota DPRD Jabar Bongkar Dugaan “Mahasiswa Gaib” di Kampus

Rabu, 29 April 2026 | 15:56

PLN Perkuat Posisi Indonesia sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Digital

Rabu, 29 April 2026 | 15:44

5 Kg Sabu Gagal Dikirim ke Solo dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 15:42

Kemenhaj Gerak Cepat Tangani Kecelakaan Bus Jemaah Haji di Madinah

Rabu, 29 April 2026 | 15:37

PT KAI Harus Perkuat Sistem Peringatan Dini untuk Cegah Kecelakaan

Rabu, 29 April 2026 | 15:27

Prabowo Tegaskan RI Negara Paling Aman: yang Mau Kabur, Kabur Aja!

Rabu, 29 April 2026 | 15:25

Selengkapnya