RMOL. Sidang Paripurna DPR kemarin yang dihadiri Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi sedikit agak 'rusuh'. Dalam sidang itu, Gamawan disuruh turun dari diinterupsi saat memberikan pandangan.
Sedangkan Gamawan, yang ingin memberi penjelasan terkait dengan apa yang diinterupsikan tidak diperbolehkan. Saat itu, Gamawan 'dicerca' terkait dengan Rancangan Undang Undang Keistimewaan Jogjakarta.
Juru Bicara partai Demokrat menyesalkan hal tersebut. Namun, dia hanya bisa menyesal. Karena pada saat yang sama, dia tidak berada di Gedung DPR. Saat itu, Ruhut di Maluku untuk menghadiri acara keagamaan.
"Sayang kemarin saya ada acara keagamaan di Maluku. Kalau nggak, saya akan bela Menteri Dalam Negeri. Aria Bima boleh bicara. kok giliran Menteri Dalam Negeri tidak dibolehkan. Saya sesalkan Pramono Anung, sebagai pimpinan," ujar Ruhut kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Jumat, 17/12).
Ruhut menuding Aria Bima yang juga anggota Fraksi PDI Perjuangan telah melanggar etika DPR karena tidak menghormati tamu.
"Kita nggak boleh interupsi seenaknya. Ada apa ini? Saya sesalkan ini. Ini menunjukkan PDI Perjuangan semakin kalap. Takut kalah menghadapi Partai Demokart 2014," tegas dia.
Tak hanya itu, Ruhut juga memberi catatan atas anggota DPRD Jogjakarta yang menyampaikan pandangan saat sidang paripurna DPRD Senin lalu.
"Dan lihat waktu di Jogja, saat pemandangan DPRD tingkat I dari PDI Perjuangan itu juga tidak mencerminkan etikanya orang Jogja. Coba, mereka menghina-hina pemerintah, menghina SBY dengan gaya sinis. Apa dia lupa sebagai wakil rakyat," kesal anggota Komisi III DPR ini.
[zul]