Berita

logo pemuda muhammadiyah/ist

Pemuda Muhammadiyah Tidak Terima Disebut Suara Islam sebagai Preman

JUMAT, 17 DESEMBER 2010 | 08:44 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Dalam sejarahnya, Pemuda Muhammadiyah tidak pernah melakukan tindakan- tindakan premanisme. Karena itu, Pemuda Muhammadiyah tidak terima bila disebut Suara Islam sebagai preman.

"Pemuda Muhammadiyah merasa tidak enak, dengan kata preman. Kami tetap tidak setuju dengan kata itu. Karena tidak ada dalam sejarahnya Pemuda Muhammadiyah melakukan tindakan premanisme,” tegas Ketua Umum Pemuda Muhammadyah, Saleh Partaonan Daulay kepada Rakyat Merdeka Online (Jumat, 17/12).

Soal kata 'siap konfrontasi' kepada Suara Islam yang diucapkan sebelumnya, Saleh mengatakan itu hanya jalan terakhir bila jalan Dewan Pers dan hukum tidak mencapai titik temu. Karena Pemuda Muhammadiyah sudah berkomitmen membela tokoh-tokoh Muhammadiyah yang dihina.


Karena dia yakin, dalam konteks pemberitaan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif menerima apartemen senilai Rp 2 millar dari Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie adalah tidak benar.

"Kalau memang tokoh-tokoh Muhammadiyah itu dihina dan dicermarkan nama baiknya, langkah apa pun akan dilakukan hingga konfrontasi. Catat ya, ini hingga. Artinya ini jalan terakhir. Kami yakin, dalam konteks ini Buya Syafii benar. Dalam konteks ini ya, bukan yang lain. Karena bisa saja manusia berbuat salah," terang dia.

Sebelumnya, kuasa hukum Suara Islam menuding Pemuda Muhammadiyah sebagai preman kata mengeluarkan kata siap konfrontasi pada saat konferensi pers bersama dengan Syafii Maarif.

"Bagaimana konfirmasi ini diangggap teror, saya tidak mengerti. Malah ada nada mengancam yang dilakukan oleh oknum preman yang menantang konfrontasi pada aat konferensi pers. Syafi'i Ma'arif orang yang sering mengatakan pada Ormas Islam sebagai preman berjubah. Kita akan buka topeng mereka. Kita tidak gentar sedikitpun," kata Munarman. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

NATO Turun Gunung Usai Trump Mau Tarik 5 Ribu Pasukan dari Jerman

Minggu, 03 Mei 2026 | 00:03

Komdigi Dorong Sinergi Penegakan Hukum Ruang Digital

Sabtu, 02 Mei 2026 | 23:45

Wamenkeu soal Purbaya Masuk RS: Insya Allah Sehat, Doakan Saja!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 23:32

Negosiasi Berjalan Buntu, Trump Tuding Iran Tidak Punya Pemimpin Jelas

Sabtu, 02 Mei 2026 | 23:19

Pernyataan Amien Rais di Luar Batas Kritik Objektif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 22:51

Sekolah Tinggi, Disiplin Rendah: Catatan Hardiknas

Sabtu, 02 Mei 2026 | 22:38

Aktivis 98: Pernyataan Amien Rais Tidak Cerminkan Intelektual

Sabtu, 02 Mei 2026 | 22:18

Wakil Wali Kota Banjarmasin Dinobatkan Sebagai Perempuan Inspiratif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 21:48

KAI Pasang Pemasangan Palang Pintu Sementara di Perlintasan Jalan Ampera

Sabtu, 02 Mei 2026 | 21:34

Paguyuban Tak Pernah Ideal, Tapi Harus Berdampak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 20:52

Selengkapnya