Berita

Wawancara

WAWANCARA

Gamawan Fauzi: Orang Lain Bisa Bicara Masa Saya Diam Saja...

JUMAT, 17 DESEMBER 2010 | 05:50 WIB

RMOL. Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi menghormati Ketua MPR Taufik Kiemas yang meminta dirinya diam terkait polemik Rancangan Undang-undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (RUUK DIY).

“Saya menghormati sekali Pak Taufik. Sebab, beliau abang saya yang sangat baik. Saya percaya kalau beliau berniat baik. Tapi orang lain bisa bicara, masa saya diam saja. Padahal, tujuan saya kan untuk meluruskan,’’ ujarnya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Sebelumnya Taufik Kiemas mengatakan, hubungan SBY-Sultan baik-baik saja, sehingga dia tak perlu turun gunung untuk memediasi atau jadi juru damai.


“Aku rasa mereka (SBY-Sultan) tidak ada ributnya. Kalau (perlu) mediator, itu (berarti) ada yang ribut. Menterinya saja yang harus menahan diri. Mendagri sebaik­nya diam dulu,” kata Taufik.

Gamawan selanjutnya menga­ta­kan, sebagai Mendagri tugas­nya memang untuk menjelaskan ke publik terkait RUUK DIY. Sebab, banyak orang berkomen­tar, tapi tidak mengerti isi RUU tersebut.

Berikut kutipan selengkapnya:

Berarti Anda mengabaikan per­mintaan Taufik itu?
Maksud Pak Taufik tidak da­lam rangka seperti itu. Beliau hanya meminta ditenangkan suasananya dulu.Ya, saya oke-oke aja. Asal mengeluarkan jalan ter­baik. Tapi jangan salahkan pe­me­rintah, kalau tidak menjelas­kan ke publik.  

Anda tidak tersinggung ya?
Tidak dong, kan beliau abang saya.

Memang hubungannya sede­kat apa?
Dekat sekali. Sering ngobrol-ngobrol.

Apa Anda pernah di SMS  atau dikontak agar diam?
Nggak. Kalau Pak Taufik yang bicara, saya nggak marah. Saya hormat banget.

Kalau Anda banyak bicara di­nilai memicu situasi politik  se­makin memanas?
Orang lain kan berbicara, tapi yang dibicarakan itu keliru. Apa pemerintah diam saja. Apa nggak perlu saya menjelaskan ke ma­syarakat tentang persoalannya. Kadang-kadang dikaitkan dengan Krakatau Steel (KS). Karena itu perlu saya jelaskan.

Tapi kalau semua orang bicara, saya tidak pernah mengecam. Bicara itu kan demokrasi. Maka kalau saya bicara, silakan hargai. Nggak perlu menghujat orang lain. Kalau menghujat orang lain, jadi keruh suasananya. Kalau pendapat dengan kepala dingin, kan sah-sah saja.

Memang apa yang Anda je­laskan?
RUUK DIY, berulang kali saya je­laskan kita menghormati Yogya, Sultan, dan sejarah. Bahwa ada ke­putusan DPRD DIY, silakan saja sampaikan untuk dibahas di DPR. Tapi kalau saya harus memper­hati­kan satu-satunya itu sebagai masukan, kan nggak adil juga dong.

Tadi sidang paripurna DPR ada yang menganggap Anda la­tah menanggapi perdebatan DIY?
Ya, tapi kenapa saya nggak di­kasih kesempatan juga. Katanya lembaga demokrasi, dia ngo­mong ke saya boleh. Tapi saya jawab, nggak boleh.

Anda disuruh berdiam diri ter­kait draf RUU DIY?
Enak saja berdiam diri. Itu kan tugas saya menjelaskan ke pu­blik. Orang mengaku demokrasi, tapi orang lain dilarang ngomong. Emang dia siapa.

O ya, setelah DPRD DIY me­mutuskan gubernur dan wakil gubernur ditetapkan, apakah mem­pengaruhi RUUK DIY?
Substansinya masih samalah.

Apa itu?
Substansinya tetap pemilihan lewat DPRD. Kan dari awal kita begitu. Cuma kadang-kadang orang salah-salah. Sebab, tidak pernah membacara isi RUU-nya.

Bukankah dengan pemilihan lewat DPRD menjadi langkah mundur bagi demokras ?
Di situ keistimewaan Yogya yang kita rancang, lewat DPRD. Tapi ini bukan seluruh gubernur karena yang kita putuskan ini untuk Sultan saja.

Memang apa pertimbangan utamanya sehingga mengusul­kan melalui pemilihan DPRD?
Kalau cuma satu pasang, Sul­tan yang nyalon, maka dikukuh­kan saja lewat DPRD.

Ini berbeda dengan aturan KPU dan Undang Undang 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah?
Di sini istimewanya. Pemilihan pun diberi keistimewaan ke Sultan kan.

Apa sudah dibicarakan de­ngan Sultan?
Sudah banyak yang diskusi dengan Sultan. Misalnya dengan Dirjen saya, Saut Situmorang, Menteri Dalam Negeri yang lalu Pak Mardiyanto, dan Andi Malla­rangeng juga sudah pernah bicara dengan Sultan.

Tanggapan Sultan bagai­mana?
Saya tidak tahu bagaimana rin­ciannya. Silakan saja tanya ke­pada orang-orang itu.

 Sebaiknya Anda konsultasi dengan Sri Sultan?
Ini kan cuma melajutkan satu materi saja, materi yang lain kan ti­dak berubah. Semua materi ini kan nanti dibahas di DPR.   [RM]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Plesetan Gelar Adat Jokowi: ‘Baginda Raja Rakus Bin Tamak’

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:50

Proyek Kapal Perang Filipina di PT PAL Dongkrak Industri Lokal Naik Kelas

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:20

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

Pengelolaan Sawit Butuh ‘Nexus Baru’ Hidupkan Ekonomi Sirkular

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:39

Program BISA Biru TelkomGroup Lestarikan Ekosistem Terumbu Karang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:19

TNI dan Tentara Malaysia Perkuat Kesiapsiagaan dan Kerja Sama Kemanusiaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:57

Perjanjian Kerja Bersama Cerminkan Hubungan Industrial yang Sehat

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:45

Sultan Didapuk jadi Ketum TP Sriwidjaja Perkuat Pembangunan Daerah

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:20

Indonesia Berpotensi Terima 260 Juta Dolar AS Lindungi Ekosistem Laut

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:59

Politisi Mutan Bernama Prabowo

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:45

Selengkapnya