Berita

Jangan Biarkan Isu Pemerasan Rp 100 M DPR-BI Diselesaikan Secara Adat!

KAMIS, 16 DESEMBER 2010 | 10:35 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. DPR dan Pejabat ternyata belum juga kapok. Padahal sudah banyak anggota DPR dan pejabat yang masuk penjara, karena tersangkut praktik suap meyuap dalam masalah Bank Indonesia, baik dalam penyusunan UU dan pemilihan Deputi Gubenur Bank Indonesia.

Demikian dikatakan Komite Pimpinan Pusat Federasi Serikat Pekerja Badan Usaha Milik Negara Bersatu, Arief Poyuono, dalam keterangan pers yang diterima Rakyat Merdeka Online pagi ini (Kamis, 16/12).

Arief mengatakan itu terkait muncul isu suap menyuap di kalangan komisi XI DPR dalam pembahasan UU BI, yang menurut kabar disebarkan Ketua Ikatan Pegawai Bank Indonesia (IPEBI) dimana jumlahnya sampai Rp 100 milyar.


Karena itu, dia mendesak KPK dam Kepolisian harus segera menyelidiki isu suap 100 miliar ke Komisi XI DPR, menyangkut pembahasan UU BI mengenai Otoritas Jasa Keuangan, mata uang dan ATBI.

"Karena dengan adanya penyelidikan Kepolisian dan KPK, isu suap itu akan terungkap kebenarannya atau apakah hanya sekadar untuk medemoralisasi DPR, atau memang benar adanya bahwa ada usaha dari kalangan anggota DPR Komisi XI, yang meminta dana sejumlah 100 miliar untuk pembahasan UU Bank Indonesia," tegas dia.

Dia pun mengingatkan, isu suap ini tidak boleh diselesaikan hanya dengan cara damai antara Bank Indonesia dan Komisi XI. Karena isu suap kalau jelas-jelas itu tidak benar, akan membuat citra DPR akan semakin buruk serta citra BI dimata internasional akan semakin buruk pula.

"Karena itu KPK dan Kepolisian harus memanggil ketua umum IPEBI, Agus Santosa  yang dituduh meyebarkan isu suap 100 miliar untuk meminta klarifikasi akan kebenaran adanya suap di DPR komisi XI. Begitu pula Komisi XI DPR harus melaporkan ke Kepolisian karena itu merupakan fitnah yang sangat keji kepada wakil rakyat di DPR," demikian Arief. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

NATO Turun Gunung Usai Trump Mau Tarik 5 Ribu Pasukan dari Jerman

Minggu, 03 Mei 2026 | 00:03

Komdigi Dorong Sinergi Penegakan Hukum Ruang Digital

Sabtu, 02 Mei 2026 | 23:45

Wamenkeu soal Purbaya Masuk RS: Insya Allah Sehat, Doakan Saja!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 23:32

Negosiasi Berjalan Buntu, Trump Tuding Iran Tidak Punya Pemimpin Jelas

Sabtu, 02 Mei 2026 | 23:19

Pernyataan Amien Rais di Luar Batas Kritik Objektif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 22:51

Sekolah Tinggi, Disiplin Rendah: Catatan Hardiknas

Sabtu, 02 Mei 2026 | 22:38

Aktivis 98: Pernyataan Amien Rais Tidak Cerminkan Intelektual

Sabtu, 02 Mei 2026 | 22:18

Wakil Wali Kota Banjarmasin Dinobatkan Sebagai Perempuan Inspiratif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 21:48

KAI Pasang Pemasangan Palang Pintu Sementara di Perlintasan Jalan Ampera

Sabtu, 02 Mei 2026 | 21:34

Paguyuban Tak Pernah Ideal, Tapi Harus Berdampak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 20:52

Selengkapnya