Berita

Dunia

KL-Singapura Tegang Gara-gara Wikileaks

Ratu Sirikit Dalang Kudeta Thaksin
KAMIS, 16 DESEMBER 2010 | 05:39 WIB

RMOL. Kementerian Luar Ne­geri Malaysia memanggil Ko­misioner Tinggi Singapura di Malaysia T Jasudasen untuk memberikan nota protes ter­kait komentar terhadap kepe­mimpinan dan situasi di Ma­lay­sia yang dibo­corkan situs pem­bongkar rahasia: Wikileaks.

Menteri Luar Negeri Ma­lay­sia Anifah Aman me­nyam­paikan kepri­hatinan men­da­lam dan ke­ke­cewaan atas ko­mentar pejabat senior Singa­pura yang dibo­corkan Wiki­leaks kepada media Australia Fairfax.

Sebelum pengiriman nota pro­tes ini, Anifah mengatakan, Ma­laysia tidak mengharapkan per­mintaan maaf dari Singa­pura, tapi hanya ingin mem­be–rikan catatan kekecewaan pe­merintah atas tindakan se­jum­lah pejabat Singa­pura. Me­respons tindakan Ani­fah, Men­­teri Luar Negeri Singa­pura George Yeo mengatakan te­lah me­lakukan pembicaraan te­lepon demi mengklarifikasi ke­­bijakan Singapura untuk tidak mengomentasi pembocoran ini.


“Atas komplain spesifik yang di­ajukan Malayisia, apa yang dituduhkan Wikileaks atas per­kataan pejabat Si­nga­pura, tidak ada dalam cata­tan kami. Per­te­muan itu bah­kan tidak terjadi,” ujar Yeo da­lam sebuah per­nya­taan.

PM Malaysia Na­jib Razak malah me­nilai tidak penting un­tuk meres­pons komentar ne­gatif tersebut. Dia lebih me­nekankan rakyatnya untuk membuktikan kepada ne­gara tetangganya, melalui pres­tasi dan pembangunan Malaysia.

“Kami bisa membuktikan ke­pada negara tetangga yang ka­dang kerap melontarkan ko­men­tar tidak mengenakkan ter­hadap Malaysia, bahwa negara ini dapat meraih pres­tasi po­sitif,” ungkap PM Razak.

Kerajaan Thailand juga men­jadi sasaran Wikileaks. Istri Raja Bhumibol Adulyadej Ratu Sirikit berada di balik kudeta 2006. Ini tertulis dalam memo pada Ok­tober 2008. “PM Thailand saat itu Samak Sundaravej mengklaim Ratu (Sirikit) bertanggung jawab atas kudeta 2006,” laporan Wi­kileaks. Samak adalah PM pada 29 Januari hingga 9 September 2008.

“Samak melihat dirinya se­bagai orang yang setia kepada Raja, tapi me­nuding agenda politik Ratu ber­beda dari sua­minya,” menurut me­mo diplo­matik yang dilansir di situs media Inggris The Guardian.

Me­mo diplomatik AS lain­nya pada No­vember 2008 meng­kritik ke­mun­­culan Ratu Sirikit di pema­ka­man demons­tran Kaos Kuning yang tewas karena bentrokan de­ngan po­lisi.   [RM]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya